Saturday, October 5, 2013

Mood-Boosting Movies to Watch

Halo pembaca setia blog ini yang mungkin hanya ada dalam khayalan gue, maaf ya makin lama frekuensi ngeblog gue makin berkurang. Kalo dulu jaman SMP-SMA bisa tiap beberapa hari sekali, sekarang bener-bener cuma kalo ada yang mau ditulis aja, bisa sampe sebulan atau lebih. Duh.

Jadi, belakangan ini entah kenapa mood gue lebih sering jeleknya daripada bagusnya. Buat mengatasi hal itu, gue biasanya cari hiburan, salah satunya dengan nonton film. Bisa dari DVD, file di laptop, atau di bioskop. Nah, daripada gue nggak ada bahan buat nulis disini, gimana kalo gue bikin review super singkat tentang film-film yang gue baru tonton belakangan ini? Oke? Oke deh.

In a random order aja ya, dari yang gue inget aja hahaha.

1. 50/50
Filmnya nyeritain tentang kehidupan seorang cowok (JGL, aka Joseph GantengGordon-Levitt) yang berubah dalam sehari gara-gara doi divonis kanker. Dari situlah doi memulai struggle dengan 'kehidupan baru'-nya, dan juga dengan orang-orang sekitarnya; pacar (Bryce Dallas Howard), sahabat (Seth Rogen), orangtua, sampai terapisnya (Anna Kendrick). Yang butuh drama atau minimal asupan aktor/aktris cakep silahkan nonton ini, meski menurut gue bukan film tearjerking, tapi cukup menyentuh kok.

2. Insidious: Chapter 2
Udah nonton film yang pertama? Maka lo HARUS nonton film ini. Lebih bagus, menurut gue. Cukup banyak plot twist dan misteri dari film pertama yang tersingkap disini. Sebenernya kalo lo belom nonton yang pertama gapapa sih nonton ini, tapi gue saranin nonton aja biar nyambung. Kalo ditanya sereman mana sama yang pertama, gue akui hampir sama, tapi lebih ngagetin dan bangke yang pertama (adegan di meja makan TIADA DUANYA). Tapi tentu saja yang namanya serem itu relatif, yang jelas di Insidious: Chapter 2 ini adegan-adegannya lebih intens. Ceritanya masih sama, kali ini keluarga Lambert pindah ke rumah ibunya si Josh setelah insiden di film pertama. Tapi ternyata mereka masih aja diganggu setan dan bahkan lebih parah. Kenapa bisa gitu? Tonton sendiri ya. Eh nggak sendiri juga sih, ajak siapapun buat nemenin lah.

3. World War Z
Gue emang nggak banyak nonton film soal zombie, tapi kayaknya World War Z termasuk film zombie yang bagus. Bayangin, nggak ada ujan nggak ada angin, waktu lo lagi kejebak macet di tengah kota, tiba-tiba ada zombie outbreak. Padahal sebelumnya hidup lo normal-normal aja, tapi sejam kemudian lo harus kejar-kejaran sama zombie. Itu yang dirasain Gerry Lane (Brad Pitt, yang sekilas mirip Chris Hemsworth di film ini). Singkatnya, sementara keluarganya diungsikan ke tempat yang aman, Gerry harus berjuang melawan para zombie buat nemuin obat penawar virus zombie ini. Klise? Nggak juga. Filmnya intens. Banyak aspek psikologis dalam film ini. Konsep zombie-nya pun agak beda dari kebanyakan film; zombie disini sangat agresif, bisa lari dan loncat, dan orang yang terinfeksi bisa berubah jadi zombie dalam hitungan detik saja. Endingnya juga rasanya beda sama kebanyakan film zombie yang: cari peledak, ledakin semua zombie, semua zombie mati, human race wins. Pokoknya tonton aja deh.

4. Epic
Meski nggak se-epik judulnya, film kartun Epic boleh banget nih buat ditonton, apalagi buat penyuka film sejenis How to Train Your Dragon atau Rise of the Guardians, karena entah kenapa feel-nya mirip. Ceritanya ada seorang cewek bernama MK (aka Mary Katherine, suaranya diisi sama Amanda Seyfried) yang pindah ke rumah di tengah hutan tempat ayahnya tinggal. Ayahnya MK ini seorang peneliti yang emang terobsesi banget sama kehidupan di hutan dan teorinya soal adanya peradaban manusia berukuran kecil yang tinggal disana (yang uh, merupakan salah satu alasan kenapa ibunya minta cerai). MK juga awalnya nggak percaya dan bete sama ayahnya, sampai akhirnya dia ketemu langsung sama peradaban manusia kecil ini, bahkan ikut terlibat sama masalah mereka. Penasaran? Tonton aja Epic, lumayan buat hiburan. Oh ya, tokoh cowoknya ada yang ganteng lho. :))

5. Starter for 10
Kalo ditanya alasan gue kenapa nonton film ini maka gue akan menjawab: WELL DUH, KARENA PEMERAN UTAMANYA JAMES MCAVOY. Tapi setelah gue nonton film ini, ternyata nggak cuma James McAvoy yang bikin menarik. Ceritanya emang menarik. Drama comedy yang cukup ringan dan menghibur, soundtracknya juara. Tentang Brian Jackson, cowok yang sejak kecil suka banget sama acara TV kuis University Challenge. Karena kecerdasannya, doi berhasil masuk Bristol University dan masuk tim kampusnya untuk University Challenge. Tapi sayangnya kehidupan nggak pernah semulus paha ceribel, berhasil nggak ya si Brian menangin kuis itu dan ngegebet temen se-timnya? Mari kita saksikan di Starter for 10. Dan bagi Cumberbitches, Cumberbabes, apalah itu sebutan buat fangirl Benedict Cumberbatch, kalian mungkin mau nonton doi mukanya bonyok ditonjok disini hehehe.

6. Donnie Darko
Depressing. Itu kesan gue terhadap film ini. Tapi kalo lo suka teori konspirasi, film-film gelap dan berbau psikologis, atau Jake Gyllenhaal, silahkan tonton Donnie Darko. Nggak banyak yang bisa gue ceritain tentang film ini karena agak paradoks, pokoknya tentang kehidupan Jake Gyllenhaal eh Donnie Darko, seorang remaja yang mengalami gangguan kejiwaan. Suatu hari, waktu lagi tidur doi didatengin sama sosok seseorang yang make kostum kelinci menyeramkan, yang kemudian jadi teman imajinernya dan bernama Frank. Si Frank ini mulai nyuruh-nyuruh Donnie melakukan hal-hal berbahaya dan disinilah paradoks dimulai. Btw, selain melihat Jake Gyllenhaal yang masih imut-imut, kalian juga bisa ngeliat Drew Barrymore dan Seth Rogen semasa muda lho.

7. Paprika
Singkat aja, I LOVE THIS MOVIE. Paprika ini film animasi Jepang yang disutradarain Satoshi Kon; bagi yang udah pernah nonton Tokyo Godfathers, pasti nggak asing sama nama ini. Konsep inti ceritanya mirip sama Inception dimana lo bisa seenaknya masuk ke mimpi orang (dream therapy) pake alat. Nah, alat di film ini namanya DC Mini. Suatu hari, DC Mini dicuri dan departemen psikoterapi yang bertanggungjawab atas alat tersebut pun panik, soalnya bisa aja orang jahat make alat tersebut buat mempengaruhi siapapun lewat mimpi sesuka dia dan bikin dunia kacau. Dr. Atsuko Chiba dan timnya pun mencari si biang keladi. Oke, kenapa gue suka film ini? Karena simpel aja, 1. ceritanya mindblowing, dan 2. animasinya emang bagus. Jadi, masih nggak mau nonton?

8. The Hangover 1 & 2
Gue gabung aja ya karena inti ceritanya toh sama aja; empat orang sekawan yang pergi berlibur ke suatu tempat, minum, trus bangun-bangun udah ada di tempat lain dengan keadaan super duper kacau dan satu orang ilang, tanpa ada satupun yang inget apa yang terjadi semalem. Nah, sepanjang film ini mereka berusaha mencari tahu apa yang terjadi dan dimana teman mereka melalui petunjuk-petunjuk yang ada di sekitar mereka sampai akhirnya nemuin titik terang. Walau repetitif, tapi banyak banget humor yang menghibur disini; mulai dari Stu (Ed Helms) yang selalu apes, Alan (Zach Galifianakis) yang lucu tapi ngeselin, sampe Chow (Ken Jeong) si gangster Cina yang entah kenapa betah banget sama kawanan bodoh ini dan nambahin masalah. Kalo gue disuruh deskripsiin filmya dengan satu kata, maka gue akan bilang: YOLO.

9. Amélie
Gue kira filmnya bakal terlalu artsy dan ngebosenin, tapi ternyata gue salah. Emang sih artsy, tapi ceritanya cukup mudah dipahami, lucu dan menarik banget buat diikuti. Apalagi disini Audrey Tatou, sebagai Amélie, lagi cantik-cantiknya. Ceritanya tentu aja tentang Amélie, seorang gadis manis yang dari kecil sangat aktif berimajinasi dan menyukai hal-hal yang tampak sederhana. Setelah menolong seorang bapak menemukan kembali memori masa kecilnya, Amélie jadi pengen nolong banyak orang dan disinilah cerita sesungguhnya dimulai. Amélie berusaha memperbaiki kehidupan orang di sekitarnya; dari mulai rekan kerjanya, ayahnya, tetangganya, bahkan sampai akhirnya menolong dirinya sendiri. After taste film ini? Lo akan merasa sedang berada di Paris sore-sore, duduk di teras kafe sambil ngeliat pemandangan kota, ngeteh cantik dan makan macarons.

10. Mysterious Skin
Mysterious Skin bercerita tentang Neil McCormick (Joseph GantengGordon-Levitt), yang dari kecil udah gay, dan gedenya jadi gay prostitute, bahkan sukanya sama om-om. Di lain sisi, ada cowok cupu bernama Brian Lackey yang sangat terobsesi dengan alien karena di satu titik dalam masa kecilnya dia pernah kena amnesia, dan satu-satunya hal yang dia inget adalah dia diculik alien. Terus apa korelasinya kedua cowok ini? Kenapa Neil suka sama om-om? Kenapa Brian terobsesi sama alien? Nah, silahkan tonton sendiri filmnya yaa. Filmnya agak depressing, banyak drama dan adegan NSFW, jadi paling enak emang nonton sendiri. Tapi filmnya bagus kok apalagi kalo emang suka psychological drama, dan HELLOH SIAPA JUGA YANG NGGAK MAU LIAT JGL JAMAN MASIH CUPU DAN MENGGEMASKAN, TELANJANG?

11. Now You See Me
Wah gila bro, nggak usah basa-basilah, film ini bagus banget. Mindblowing. Empat orang pesulap jalanan ujug-ujug direkrut orang misterius buat jadi satu tim yang bernama The Four Horsemen yang kemudian punya acara TV sendiri. Belum jelas apa mau orang misterius ini, yang jelas The Four Horsemen harus mengikuti rencananya, meski akhirnya mereka jadi incaran polisi, agen FBI, detektif, bahkan seorang mantan pesulap yang pengen ngungkap rahasia trik sulap mereka. Bagian paling seru tentu dimana empat orang ini melakukan trik-trik cerdik buat melaksanakan rencana si orang misterius sekaligus menghalau orang-orang yang mengincar mereka. Kapan lagi liat Jesse Eisenberg jadi pesulap ganteng, Morgan Freeman dikadalin, dan Mark Ruffalo nggak jadi Hulk? Endingnya mungkin agak cheesy, tapi cukup bikin "HAH?" yang nonton kok hahaha.

12. Gravity
Waduh, yang ini baru anget banget gue tonton, beberapa jam sebelom bikin post ini lebih tepatnya. Film ini sederhana banget, survival movie macem Sanctum dan 127 Hours, yang ngambil setting di luar angkasa. Artisnya cuma dua (tapi senior), yaitu Sandra Bullock sebagai Dr. Ryan Stone dan George Clooney sebagai Matt Kowalski. Waktu lagi melakukan ekspedisi ke luar angkasa, pesawat induk mereka hancur kena terjangan puing-puing satelit hasil reaksi berantai. Akhirnya mereka berdua sebagai satu-satunya yang selamat, dengan oksigen dan bahan bakar yang sangat terbatas, komunikasi yang terputus, susahnya bergerak di gravitasi nol dan hujan puing-puing satelit yang datang menerjang tiap satu setengah jam sekali, harus berjuang buat menyelamatkan diri dan kembali ke bumi, yang tentunya nggak gampang dan penuh perjuangan menegangkan. Lo space (movie) junkie? Sangat disarankan nonton film ini, mau 3D ataupun nggak.

Okeeee itu tadi beberapa film yang belakangan ini baru gue tonton hehe. Maaf ya kalo reviewnya subjektif, yah syukur-syukur pada mau ikut nyoba nonton. Beberapa filmnya emang ada yang bikin tegang, bikin ketawa, bikin horny, bikin nangis, atau bikin mau mati. Mau nonton yang mana? Your call. :D

Wednesday, September 11, 2013

Twenty and Proud?

Hello guys!

It's been a century since the last time I updated this blog. Sorry for not updating in such a long period, it's not that I'm getting busy in my third year, I just feel uninspired and don't know what to write. But now I have a simple topic to write.

So what's the topic?

Uh, actually.. I had my 20th birthday on 9th September. (If you're still reading this, please stand up from your chair and give me a appreciation applause!)

Yeah. I've turned 20 and I don't want to hear any "tua" or similar words from you. It's kind of annoying even if I know that being a 20 years old is not old at all. Anyway, in case you didn't know, most Disney girls are turning insane once they reached their twenties. For example just look at Miley Cyrus or Britney Spears. Thank God I'm not a Disney girl (still have a chance to turn insane, though).

In Japan, you use 'hatachi' instead of 'ni juu sai' when saying someone is 20 years old. That's because 'hatachi' is the age when you become an adult in Japan. See? Being 20 years old, at least to some cultures, is that special. With this age, I can now attend certain concerts, go to certain places and drink some liquors (or do I have to be 21+? cmiiw). But I'm not interested in that certain concerts, places nor liquors. (If after reading the previous statement you're immediately judging me as a person with a very boring life, then I'm so sorry we cannot be friends.) The only thing that I'll encounter more often is this one word that has been bringing me to fear: RESPONSIBILITY.

I'm kinda allergic to it. But I'm fully aware that sooner or later I'll have to swallow a big load of it, whether I like it or not. I can't be a child or teen forever. This so-called responsibility comes in the form of final college assignments, job seeking, marriage, having child yadda yadda. I don't know, but thinking about it alone makes me want to cringe. Just.. Wish me a lot of luck, okay?

Now off to a lighter note. I would like to say thanks to my friends and family who has sent me lovely and funny birthday greetings :D I even received several drawings made by my friends for my birthday!

from Rizka Viramadhina aka Juki! The most accurate portrait, even to the bangs.

From Karina Riesling Zhang aka Ling! Most.. Handsome? XD

From Kathrinna Rakhmavika aka Nana! The cutest because of the cat ears yet the most inaccurate because my bangs doesn't split in half on a daily basis :P

From Dewi Septanty aka Dewi! The most heartwarming because I didn't expect her to draw me something and put an effort into it :)


Again, to those who has sent me greetings; THANK YOU VERY MUCH! Your greetings and prayers matter a lot to me!!!! I wish you guys all the good things as well :)

Speaking about twenty years old, even Kyary Pamyu Pamyu has a song to express how fun and important it is to be 'hatachi'.



P.S.: I'm still open to receive any (late) birthday presents. Feel free to give.

P.P.S.: If you're going to nagging me to treat you, refers to the P.S. and I'll consider it.

Wednesday, July 17, 2013

A Bow To My Violin

On the 17th day of every month, I've been always celebrated this for a while. What do I celebrate? Birthday? No, birthday doesn't occur every month. Payday? I haven't worked yet and payday is always at the beginning of the month, so it's not that. So, what is it that I always celebrate?

I don't know, probably some sort of reminder?

Reminder about how I've always been in love with the same person over and over? Or just a superficial formality?

Anyway, I've just listened to a song from Hollywood Nobody, the title is 'A Bow To My Violin'.

I dedicate it to someone whom I dedicated my 17th day(s) to.
  You're a bow to my violin,
A right to my wrong
You're a music to my silence,
A plus to my minus

I'm a complexity in your simple smile,
(a hand you have to hold on your independency)
I'm a complexity in your simple smile,
(a book you have to read on your bedtime)
I'm everything you're saying yes to.

You're a bow to my violin,
The beautiful interlude to my song
You're a bow to my violin
The oxygen to my empty lung

In addition, the description of this song said:
'A Song about the deepest feeling of love. How it complete us, how it makes our flaws a perfection in our lover’s eye. How without each other we are just a uncompleted being, an instrument without tune, a heart without reason to beat, an empy smile. Enjoy the song thinking about the person who makes you feel that way. :)'

Pretty much sums it up, eh?

Friday, June 28, 2013

Masak-Masak Cantik Penuh Tragedi

Gara-gara baca postingan blognya Nindy, gue juga jadi pengen nulis soal pengalaman masak-memasak gue hari Selasa lalu.

Jadi, gue, Putri, Sani, dan Nadya dari semester kemaren udah pengen banget masak-masak bareng (terutama gara-gara sebelumnya mereka udah pernah dan sukses trus gue pengen ikutan). Akhirnya baru kesampean hari Selasa kemaren, karena lagi libur juga. Kebetulan sore itu, gue, Putri, sama Sani abis ngumpul divisi Kreatif, baliknya makan bareng, disusul Juki yang kosannya deket banget sama tempat kita makan. Tau-tau impulsif aja pengen masak-masak, dan kita berempat pada bisa. Sayang Nadya nggak ikut karena lagi di Jakarta waktu itu. Kelar makan pun kita langsung ke Borma, belanja bahan-bahan buat masak. Mau masak apa? Bahkan kita juga belum tau, namanya juga impulsif. x))

Sampe di Borma, mulai lah kita mencari gambaran tentang apa yang mau kita masak. Iya baru gambaran, belom jelas apa masakannya :)) setelah keliling-keliling baru deh mutusin buat masak fettucini carbonara dan kentang goreng (kentangnya bukan yang frozen, tapi yang bener-bener bikin dari kentang utuh). Si Sani browsing resepnya, kita cari bahan-bahannya. Pasta fettucini La Fonte satu pak. Kentang tiga butir. Tepung terigu sebungkus. Garem sebungkus kecil. Ultramilk vanilla dua kotak. Kraft cheddar mini dua bungkus. Bawang bombay satu butir (apa siung ya? auk ah). Daging burger Farmhouse sebungkus. Mentega Filma satu sachet. Saos sambel ABC beberapa sachet. Udah.

Udah beli-beli bahannya, kita berempat capcus ke kosan gue. Iya kosan gue, karena dinilai paling layak dapurnya :)) dan paling deket sama Borma juga sih. Gue udah seneng-seneng aja sampe kosan tinggal naro bahan, masak, makan deh. Ternyata tidak sesimpel itu.

Pas di dapur kosan, gue coba nyalain kompornya. Kok nggak bisa?? Kata Putri, gasnya abis kali. Tapi rasanya kemaren atau kapan gitu masih ada yang make buat masak deh. Gue coba terus tetep nggak bisa, akhirnya gue panggil mas Kevin (keren banget kan namanya? tunggu sampe lo tau siapa dia), salah satu penjaga kosan gue (iya, seorang penjaga kosan bernama Kevin), gue minta cek kompornya. Ternyata bener kata Putri, gasnya habis saudara-saudaraaaaaa. Kita udah liat-liatan aja, kalo gasnya abis masak pake apa? Arang?

Tapi tenang, ada gas buat diisi ulangnya, gue pun udah lega. TAPI (coba itung berapa kali gue nulis 'tapi' di postingan ini ya guys!) ternyataaaaa ada yang rusak di penyambung antara selang sama tabung gasnya. Resmi, kompor    yang notabene sumber dari segala kegiatan masak-memasak di kosan    ternyata lagi nggak bisa dipake. UNTUNGNYA masih ada dapur di lantai 4, yang biasa dipake sama penjaga kosan, dan kita dibolehin make. YAY! Hampir aja kita nyeduh pasta mentah pake aer panas. Berbekal bahan-bahan yang udah dibeli, beberapa perlengkapan pinjeman dari dapur dan skill amatiran, maka kita pun mulai memasak :D

yay, that's the spirit! ^-^

Yang pertama dilakukan tentunya ngerebus si pasta. Kesalahan pertama: kita langsung main masukin aja satu pak pasta yang entah untuk berapa porsi itu. Begitu udah mulai layu, pancinya nggak muat, ngaduknya juga susah. Selagi nunggu pastanya mateng al dente, kentang utuhnya dikupas, dipotong-potong dan direndem di air garem dulu sebelum digoreng. Kesalahan kedua: garemnya diduga kebanyakan.

Bawang bombay sama daging burgernya (yang tipis-tipis itu lho, bukan yang kayak patty gitu ya) juga kita potong kecil-kecil, nantinya buat campuran si saus fettucini carbonara. Abis dipotong kecil-kecil bawang sama dagingnya kita tumis deh. Masukinnya setengah dulu, karena kita mau bikin dua batch, soalnya kalo dimasukin sekaligus nanti pastanya nggak muat kalo dimasak bareng di teflon. Kesalahan ketiga: yes, you read it right, pastanya ikut kita tumis di teflon sama sausnya. Padahal setau gue dimana-mana kalo masak pasta ya sausnya tinggal dituang ke pasta yang udah direbus, udah.

Oke balik lagi, masih diatas teflon, buat bikin sausnya kita tambahin susu, parutan keju (yang lebih tepat disebut 'cacahan keju' karena pake pisau bukan parutan soalnya nggak ada), sama tepung buat pengental. Kesalahan keempat: TEPUNGNYA KEBANYAKAN. Ini agak fatal, soalnya sausnya jadi mengendap, kentel dan liat kayak adonan kue :') akhirnya kita tambahin susu dan air lagi, agak membantu. Tapi tetep aja pas diicip rasanya dominan tepung semua :') ditambah keju dan garem, lagi-lagi agak membantu, tapi tetep cenderung hambar. Oh ya, kesalahan kelima: kita nggak pake merica atau kaldu bubuk karena ternyata di kosan gue nggak ada, dan tadi nggak beli. Padahal mungkin bakal membantu banget lho.

itu yang di teflon bukan saus carbonara guys, itu adonan kue

Setelah sausnya dirasa pas(rah), kita masukin pastanya. Iya, kayak yang gue bilang tadi, si pasta ikut dimasak di teflon sama sausnya bro. Eh jadinya lengket-lengket gitu, kita tambahin minyak aja. Begitu kelar fettucini carbonara batch pertamanya, kita taro deh di piring dan dicoba. DUH, DITAMBAH PASTA MALAH MAKIN HAMBAR GUSTI. Padahal udah ngikutin resep. Mungkin karena nggak make merica sama kaldu bubuk dan rasio bahan yang kita pake seenak udel.

mencoba menambahkan minyak agar pasta tidak lengket

Fix, batch pertama gagal. Yah namanya juga anak pertama, percobaan. Kita pun masak batch kedua, yang untungnya, jauh lebih baik dari batch pertamam meski masih jauh banget dari buatan restoran, kita masukin bahan buat sausnya lebih manusiawi soalnya. Sayangnya, yang ini malah cenderung asin :')

Kelar masak batch kedua, gue inisiatif buat nyampur pasta batch pertama dengan yang kedua, biar rasanya lebih netral dan adil. Sayangnya nggak terlalu membantu tuh, tetep aja rasanya nggak enak, yang enak cuma daging burgernya :') parahnya, ternyata pastanya jadi tiga piring gede (yang nantinya kita bagi lagi jadi empat), sumpah porsinya kebanyakan banget bahkan untuk kita berempat. Yak, resmi dinyatakan kalo pasta fettucini carbonara buatan kita malam itu FAIL.

Nah, selesai sama pasta, sekarang kita ngurusin kentang gorengnya. Ini satu-satunya harapan kita, semoga bisa jadi penyelamat rasa. Kesalahan keenam: potongan kentangnya kita masukin SEMUA ke dalam teflon. Setau gue harusnya sih jangan langsung banyak gitu, toh teflonnya juga nggak gede, jadi ada yang numpuk dan nggak maksimal gitu nanti matengnya. Digoreng pake mentega, eh kurang, akhirnya ditambah minyak goreng lagi deh.

Kesalahan ketujuh: kentangnya kecepetan diangkat. Padahal, kalo di rumah, yang namanya goreng kentang itu emang harus lamaaa banget (apalagi kalo minyaknya kurang panas) biar bener-bener mateng dan crispy, apalagi buat yang gorengnya sekaligus banyak gitu. Nggak tau deh ini kita yang nggak sabaran apa keburu cepet menyimpulkan kalo kentangnya udah pada mateng dan layak makan. Alhasil pas diangkat jadi layu-lembek-basah gitu, kalo kata Verol sih, ini yakin kentang goreng bukan acar? :') dan walau penampilannya tidak meyakinkan, semoga rasanya enak. EH PAS DICOBA SAUDARA-SAUDARA, KITA BARU MENYADARI KESALAHAN KEDELAPAN YANG RUPANYA BERDAMPAK FATAL: KENTANGNYA KELAMAAN DIRENDEM, JADI ASIN BANGET KAYAK NGEMIL GAREM GORENG. Serius. Udah direndemnya kelamaan, garemnya banyak, pas digoreng pake mentega banyak lagi. Se-fail-failnya si fettucini carbonara, ternyata kentang goreng buatan kita jauh. Lebih. Fail. Kita berempat sampe nggak berani makan langsung hap gitu aja, tapi dikit-dikit dicocol ke sambel. Huft. Gila lu ndro, bikin kentang goreng yang simpel aja nggak becus.

Voila, fettucini carbonara dan french fries a la chef Sani, Putri, Cessi, dan Juki pun jadi sudah!

anyone?

Oh ya, waktu kentang gorengnya udah jadi, pastanya malah mulai kering gitu nggak lembab lagi karena lama dianggurin. Udah masak susah-susah, eh jadinya fail parah, banyak banget lagi porsinya. Gue, Putri, Sani, dan Juki pun makan dengan berat hati. Cara makan gue: kentang dimakan dikit-dikit, barengan sama satu suap carbonara fettucini dan saos sambel. Rasa hambar fettucininya sih terselamatkan sama saos sambel, tapi rasa kentangnya itu lho asin bangeeeet bahkan dimakan dikit pun tetep mendominasi rasa T___T Verol yang waktu itu sengaja berkunjung ke kosan gue nyobain sekali kentang sama fettucininya, abis itu kapok nggak mau makan lagi hahaha bahkan dia bilang dia bisa bikin yang lebih enak T______T (mampus nih gue nggak bakal diperistri)

Buat yang nanyain nasib masakannya, well, sisa kentang goreng yang nggak kemakan akhirnya dibuang karena rasanya nggak manusiawi, dan sisa fettucini carbonara yang ternyata nyisa banyak banyak banget karena kita nggak kuat ngabisin akhirnya gue masukin kotak makan gede dan sampe sekarang masih ngendep di kulkas kosan, menunggu ajalnya di tempat sampah (atau mulut orang, tapi nggak mungkin sih).

Yah, walau hasilnya gitu, tapi kita tetep menikmati kok proses memasaknya :) terlepas dari hasilnya, ternyata memasak itu asik juga, apalagi kalo bareng-bareng temen dan bahan serta perlengkapannya lengkap. Masakan kali ini fail gara-gara kita berempat masih amatir, cukup sotoy dan kurang bahan aja kali ya x)) yang jelas gue sih nggak kapok. Anggep aja kali ini latian. Mungkin nanti kita bakal ngadain masak-masak cantik lagi, tapi bareng Nadya yang jadi head chefnya, haha. Mungkin juga nanti gue akan coba masak sesuatu sendiri. Mungkin.

Jadi, berani coba masakan kita selanjutnya? ;D