Friday, December 4, 2015

Other Series to Binge-Watch

Beberapa postingan sebelum ini, gue sempet nge-post review gue tentang beberapa judul TV series yang baru aja gue ikuti. Cek postingannya disini. Nah, kali ini gue mau bikin lagi review singkat ala ala soal beberapa series yang baru gue tonton sebagai pelarian TA, termasuk salah satunya anime. Aduh, gue bersyukur sekali hidup di era internet dimana bisa bebas ngakses tontonan yang nggak ditayangin di negara sendiri dan bersyukur juga difasilitasi internet mumpuni dari kosan (meski belakangan mati nyala). Oh ya, terima kasih juga kepada teman-teman yang selama ini telah berbaik hati membagikan koleksi TV series-nya via harddisk. Entah apa jadinya gue tanpa teman dan akses internet (mungkin ngerjain TA).

Singkat cerita, setelah hiatus singkat selama beberapa bulan dari perhelatan TV series karena ceritanya mau fokus TA, awal bulan November kemaren gue tergoda untuk menonton Fear the Walking Dead. Kenapa FTWD? Kenapa nggak The Walking Dead-nya aja? Karena selain udah pewe banget sama komiknya (maaf maaf nih ya, selain nggak sama kayak komiknya, gue merasa TV series-nya overrated. Kenapa Daryl Dixon malah jadi primadona?! Kenapa Rick Grimes kayak hilang kharismanya?!), TWD juga udah 6 season, cuy. Meanwhile, FTWD baru keluar satu season yang isinya cuma 6 episode (less commitment, yay!), masing-masing berdurasi sejam. Ceritanya pun prekuel, jadi nggak harus nonton TWD dulu biar bisa ngerti. Sebagai penggemar cerita zombie, gue sih sangat amat tidak menyesal nonton FTWD. Walau pace-nya agak lambat—yang gue baca sih emang this series is supposed to be a slow-burner—tapi gue justru suka banget yang kayak gini dibanding zombie outbreak super kilat ala film World War Z. Yang ditampilkan di season pertama ini adalah transisi antara dunia yang masih baik-baik saja dan awal mula zombie apocalypse itu sendiri; perlahan-lahan lo dikasih liat gimana orang-orang mulai banyak yang ngilang, muncul kerusuhan, reaksi orang sama zombie-zombie yang baru bermunculan, sampe kota Los Angeles mulai luluh lantak dan ditinggalkan. Atmosfer dan setting-nya terasa natural dan well-crafted. Pokoknya lo akan dimanjakan sebagai penggemar cerita zombie. Karakter-karakternya pun surprisingly diverse dan nggak one-dimentional. Bukan cerita zombie namanya kalo nggak pake konflik keluarga, dan kebetulan keluarga jadi tema utama dalam series ini. Jadi di FTWD kita akan dikenalkan pada tiga keluarga yang bareng-bareng berlindung dari ancaman zombie-zombie, bukan sekumpulan survivor yang kebetulan ketemu dan baru kenal satu sama lain. Oh ya, agak jarang nih cerita zombie yang tokoh utamanya remaja, tapi di FTWD ini ada 3 orang; satu di antaranya seorang pecandu narkoba. Nah lho.
Bapaknya mirip Jeremy Thomas nggak sih kalo diliat-liat? Wkwkwk.
Berkat FTWD, gue jadi balik lagi ketagihan TV series dan pengen cari tontonan lagi. Gue coba Supergirl, serial baru keluaran CBS tentang sepupu superhero DC paling ikonik, Superman. Gue tertarik karena liat trailer-nya yang lucu dan sedikit banyak bikin inget film The Devil Wears Prada, karena Supergirl alias Kara Danvers disini diceritakan adalah seorang asisten dari Cat Grant, bos perusahaan media ternama CatCo. Nah, tokoh Kara Danvers ini kayak tokohnya Anne Hathaway di film The Devil Wears Prada dicampur Clark Kent—penurut sama bosnya yang tegas, tapi diam-diam punya potensi dan bakat yang besar serta idealisme sendiri. So.. Did I like it? So far gue baru sampe episode 3, dan itu karena ternyata series-nya kurang menarik buat gue. Not that hooking. Format dan feel-nya mirip banget sama The Flash, yang tentunya lo tau kalo baca review gue di postingan satunya: repetitif banget! Per episode penjahatnya selalu beda, and as you'd expect; the resolution is, eventually, Supergirl will save the day. Tapi kalo lo suka format ala series tokusatsu atau sentai gini sih harusnya nggak masalah ya. Sebenernya banyak aspek menarik yang bisa dieksekusi lebih baik sih, contohnya ya day job-nya si Supergirl atau personal struggle-nya entah dengan apa, cuma yang gue liat jatohnya jadi cheesy dan cepat selesai. Masih menyenangkan sih untuk ditonton, tapi gue sepertinya memilih untuk tidak melanjutkan. Nggak tau karena gue secara tidak sadar lebih suka series yang 'gelap gelap' atau emang eksekusi Supergirl dan The Flash aja yang kurang oke (hell, Gotham yang harusnya 'gelap' aja gue nggak suka karena emang jelek), tapi gue belom merasa klop sama series-series-nya DC. Maaf DC, film mungkin bisa didebatkan, tapi soal series, Marvel lebih juara.

There, I said it. Marvel lebih juara. Jadi pas Jessica Jones udah keluar semua episode-nya, langsung aja gue tonton seharian. Tadinya gue berniat buat cuma batesin diri satu episode per hari, tapi.. Jessica Jones terlalu hooking! Ceritanya emang banyak yang beda dari komiknya (Alias), tapi cukup solid, kok. Ada sih beberapa aspek yang cringeworthy kayak latar belakang Purple Man (yang pada series ini tidak dikenal dengan nama tersebut dan hanya dipanggil 'Kilgrave') ataupun final confrontation-nya yang tidak se-bombastis yang gue harapkan, but that's okay. Banyak aspek lain yang patut diacungi jempol, kayak anxiety (or PTSD?) issue-nya si Jessica, persahabatannya Jessica dan Trish, which is, harus gue akui sangat menarik dan dalam (maaf ya Foggy, tapi penghargaan Tokoh Sahabat Terbaik jatuh pada Trish. Hehehe). Gue nggak biasanya suka tokoh 'sahabat superhero' yang pada ujungnya jadi bumbu doang, tapi Trish cukup lovable and their friendship goes beyond that karena mereka ternyata tumbuh besar bersama dalam satu keluarga. Banyak karakter menarik disini, tapi jangan terlalu attached ya, karena siapa tau karakter itu tidak berumur panjang, hihihi. Dan ya, seperti Daredevil, series Jessica Jones ini juga berformat sama, dimana satu season dihabiskan untuk menyelesaikan satu masalah. Bahkan tema dan atmosfirnya mirip-mirip. Di postingan satunya gue bilang 'kan Daredevil tergolong noir? Naaaah, kalo dibandingin sama Jessica Jones sih, wah belom ada apa-apanya. Tema dewasanya lebih kuat, jadi jangan ditonton sama adik yah. Series-nya neo-noir banget, lebih banyak menitikberatkan di unsur psikologis dan detective play-nya. So yeah, expect a lot of investigating, stalking, disguising, and interrogating. Tenang, adegan aksi masih tetap banyak kok (ada Luke Cage juga!).Worth it banget lah seharian ngabisin 13 jam++ buat nonton satu season Jessica Jones. Easter eggs-nya juga lumayan banyak.

To people who thinks Jessica Jones is mediocre or overrated:

Merasa kosong setelah ngelarin Jessica Jones, gue mencoba satu series yang banyak diomongin dan direkomendasikan orang-orang di sosmed, yaitu Mr. Robot. Gue cek ratingnya; gila, 8.9/10 di IMDb dan 98% aja dong di rottentomato! Premisnya sih terdengar simpel ya, tentang sekumpulan hacker bernama fsociety yang berusaha nge-hack korporasi paling berkuasa di dunia, E Corp, yang diharapkan akan menghapuskan jejak hutang semua orang, menimbulkan economic meltdown, dan mengubah dunia. Small group, big agenda. Banyak istilah-istilah teknis dalam series ini, ceritanya yang berat dan cukup menggali sisi psikologis tokoh-tokohnya pun bikin yang nonton Mr. Robot harus mikir, jadi kalo berharap popcorn movie atau tontonan ringan, mending jangan nonton ini ya (apalagi kalo badan capek dan ngantuk abis ngelarin Jessica Jones, hahaha). Storyline dalam Mr. Robot ini terbagi jadi beberapa masalah, semuanya secara langsung atau tidak langsung terikat sama sang tokoh utama, Elliot, dan tujuan fsociety yang gue tulis di atas. Emang harus gue akui series ini berat, banyak monolog panjang yang terpaksa gue skip karena bosan, dan banyak sisi teknis yang nggak gue mengerti (kecuali anak IT mungkin), tapi gue cukup menikmati series ini kok. Penampilan aktor dan aktrisnya banyak yang keren, gue pribadi suka Tyrell Wellick dan istrinya Joanna. Banyak juga isu sosial politik yang disinggung disini. My final verdict is: Mr. Robot is recommended, meski bukan prioritas gue kayak Jessica Jones atau GoT, misalnya. Btw, ada plot twist di dua episode terakhir, jadi bersabar dan tonton sampai selesai yah!

Untuk menetralkan tontonan-tontonan berat di atas, gue juga nonton Community. Seperti Mr. Robot, Community ini banyak direkomendasiin orang-orang, bedanya Community ini series lama. Intinya sih, sitkom tentang orang-orang yang kuliah di Community College (semacam D3 atau Universitas Terbuka kali ya kalo disini). Dibilang lucu apa nggak sih lucu ya, namanya juga sitkom, bahkan humornya lebih banyak per episode daripada Parks and Rec. Jenis humornya juga macem-macem, dari yang segmented karena nyerempet pop culture sampe dry humor ataupun pun jokes. Tokohnya diverse, unik-unik, dan nggak ada yang overlap, bahkan ada yang kadang suka breaking the fourth wall. Community ini satu season-nya biasanya sih berkutat di satu masalah sebagai latar belakang, tapi per episode-nya jarang yang bener-bener nyambung kok. Yang gue suka, selain penokohannya yang bener-bener unik dan nggak overlap tadi, kadang ada episode spesial kayak Halloween yang tiap season ada, atau selipan Community versi kartun. Kadang episode-nya trippy banget malah, hahaha. Yang gue nggak suka dari Community palingan romance-nya yang agak.. Dipaksain? Banyak hint-hint yang ditampilin sih di antara dua karakter yang romantically potential, tapi tetep aja rasanya kurang nyambung (subjektif sih emang: Jeff dan Annie masih rada gue maklumi, but Troy and Britta? Reaaaally?). Mungkin emang sitkom harusnya seperti itu ya, gatau sih. Gue baru sampe season 4 karena nggak kayak Parks and Rec dimana gue bisa marathon terus-terusan, gue nggak segitunya bersemangat nonton Community, biasanya buat selingan aja kalo abis nonton yang berat-berat atau lagi nganggur dan butuh hiburan. Tonton aja sih, oke kok.

Oh ya hampir lupa, gue bilang kan di awal kalo ada anime juga? Nah, anime yang gue maksud sayangnya bukan One Punch Man atau Digimon Tri yang lagi hype, tapi.. FLCL alias Fooly Cooly alias Furi Kuri. Iye telat banget emang gue baru nonton FLCL setelah 15 tahun, tapi gue nggak nyesel, karena ternyata anime-nya bagus. Rasanya udah lama deh nggak nonton anime (bukan animated movie lho ya!) yang bagus. Awal penceritaannya mungkin bikin bingung dan rada nyeleneh, tapi makin ke belakang makin jelas kok, makin bikin kita gak peduli dan lebih nikmatin anime-nya malah. Oh ya, ceritanya gak jauh-jauh dari mecha (yang baru gue ketahui belakangan setelah menonton), sci-fi, action, drama, dan comedy. Kalo tau studio animasi yang ngeproduksi FLCL ini Gainax, pasti nggak heran sih, karena emang tone dan art style-nya cukup mengingatkan pada Gurren Lagann dan Neon Genesis Evangelion yang dibuat oleh studio yang sama. Selain penceritaannya yang kadang ngawur dan subtle, gue juga suka penokohannya (Mamimi best girl!), art style-nya, dan pastinya soundtrack-soundtrack alt-rock-nya. Gue pengen nge-review panjang tapi kapan-kapan aja deh, intinya coba nonton dulu aja FLCL, unik soalnya. Di satu sisi menghibur, tapi di satu sisi agak depressing. Kalo bukan penggemar mecha atau anime gapapa, gue juga bukan penggemar mecha dan udah males nonton anime tapi suka tuh sama anime ini. Toh cuma 6 episode dan masing-masing berdurasi 25 menitan hehehe.


Jadi? Tertarik untuk prokras nugas dan binge-watching salah satu series yang gue sebutkan di atas? :-P


Monday, October 19, 2015

Confession of a Girl Who Uses Path

Gosh, I really hate Path.

And here's the reason why:
1. I don't know if it's just me, but it's fucking laggy.
2. When actively used, it's the second most data-consuming app in my phone, with the first being Instagram (since it's full of pictures and videos).
3. Whenever you go, the social pressure to post something is too damn high. Hey, I just had lunch at this famous, newly-opened Japanese restaurant chain, and not at some cheap food stalls. Hey, I just feel like posting this song that I don't listen to at the moment but I'm gonna post it anyway 'cuz it describes how I'm feeling right now. Hey, I just met my old friends and thought you guys may want to know what they (and my #OOTD as a bonus) looked like. Well, the pressure's basically like "it's not actually that special, but I don't want people to assume that I have no life and they should know how mediocrely good my life is, so I have to post this". I hate to admit this but instead of enjoying the moment, wemyself includedwould often found ourselves and our friends fumbling with our phone, trying to get Wi-Fi, editing our freshly-taken picture so we could upload it right away. We won't get over until it is posted. May the most liked post wins!

So.. Just what purpose does Path serve? Is it purely for showing off? Or get in touch with your close friends, privately? Or as I said before, to caters to our increasing narcissistic needs of posting everything everywhere in this digital era?

"Well, yeah, Path allow you to get in touch with a selection of friends in a limited circle, so they'd know what I'm up to, and vice versa. All in a more private way."
Meh. I call BS on this. To let them know what you're up to, you could post on chat groups, LINE status, or even Facebook, since you can customize the privacy setting. It's all easier and quicker to do. Also, in a private way? LOL, don't get me started on this. I've seen many people abused the private function by linking their Path to their public Twitter accounts. I could concur if this was said back when Path limits the friend list to just 150 people, but now it expands to 500. Honestly, I don't think you have that many *close* friends and family. And just how many viral posts in the recent years were actually taken from someone's Path post? And we said Path is "private"? Also, if they intend to go viral, to spread a certain tale, they should consider Facebook or LINE public post which has direct 'like' button and comment (a two-way interaction!), so it could travel further to wider audience too. These viral Path posts eventually and ironically will end up in Facebook and Twitter anyway. No matter how careful you curate your friends on Path, the ones you'll be accepting won't be really the closest ones. What privacy do you seek from a "social media", anyway? You won't know if one of your few friends, who's actually a snitch, would screen-capture your post and post it somewhere else, will you? I don't think 'privacy matters' is what makes Path different and so widely used, unless you're a public figure.

"Ok, we can argue on that. But, but, how about giving people recommendations? You know, like, I had dinner in a place with really cool interior and really tasty food, and I want people to know how it went, or where it is. It's good for business and foodies, right?"
Recommendation seems like a legit reason, until you realize that we have Instagram, review apps, and blog for a reason. I mean, do you really meant to check in at that place because you had a great meal and great time there, or because you thought it'd look good on you? Because apparently, the said place is currently the most happening place among your friends? Well, I can't blame you. I, too, have posted movies I was watching on Path and sometimes with a quick review on them. Sometimes many friends love it (especially if it's a much hyped movie or only has been released for few days,), sometimes not really. Same goes for food. But I eat alone more often than eat out with friends or family. When I eat alone, I rarely post them on Path. Why? Consider this: you eat alone in an ordinary-looking restaurant that always been your favorite but never got a chance to say how awesome it was, and you eat with three friends in an upscale restaurant but with ordinary tasting food, which one do you more likely to post? I think it's the latter. If I really love that restaurant and its food, I'd prefer using Zomato, OpenRice, or my personal blog. Just admit it, our inner pretentious self plays a big role in this whole posting matters, so using Path to recommend things isn't really effective. It will only reach a small portion of people and you can't do a full-blown review which makes your post really long, since Path users seem to have short attention span. But of course, this could go differently for every people. Some people are influential enough that they could just boost a certain product or place's sale and fame just by posting it on their social media. But then again, not everyone are social media celebrity or giving useful reviews, and as the audience, we could get tired seeing the same place or song getting posted over and over again by different friends on our Path feed.

"Ugh, alright, whatever. Just don't go generalize people. But you know what? Seeing your counter-arguments, I realized something; Path gives you all the needs from various social media, all in one app. Instagram's picture and video posting, more elaborate version of Facebook's "what are you doing?" and its privacy setting, longer version of Twitter's jokes and rants (and #nowplaying, if anyone ever remembers), 4square's check-ins; everything's included in Path!"
..Now that's a good point. A valid point, at that. This is actually what makes Path so adored: it sums up other social media functions in one app. It's versatile. Better yet: it boost our ego. The said functions are basically to expose your life into one social media, and I call it total BS if someone said they never get pleased by the amount of likes on their post or at least get a little jumpy every time you a Path notification popped up. It's like seeing many people approved or appreciate your life, and vice versa. I know that the number of likes (or frown or laugh or wink, in this case) can't define your post's quality, but it does define other things: how social you are and how many actual friends you have in real life. Just sit and compare how certain people who posted about watching movie and checked in at a cinema with no captions, just tags, managed to snag many likes, while other people, who is less popular in real life, got smaller amount of likes even though they carefully wrote a compelling comment about the same movie.
Interesting, right? Seeing how much a mere social media involved with our perception and way of life. Path is meticulously designed, despite all its flaws.

It still hasn't solve the biggest mystery, though: why is Path really selling out here in Indonesia, but not in other countries, or even in its founder's country, USA? Is the Indonesian demographic just love to show off and more inclined to pretentiousness? The answer is in this DailySocial article. Perfectly explained in the following paragraphs, quoted directly from the aforementioned article:

"It seems that the key to Path’s wide adoption in Indonesia is how roughly abused Facebook has become. For a lot of people in the United States, Facebook is that persistent connection people have with their friends and relatives. They leave messages there, post their thoughts and discoveries, share news and photos, play games together, communicate, and generally keep in touch with their closest friends and relatives through the network.

In Indonesia Facebook is a marketplace. Yes it’s a social network but it’s a highly abused social network in which people take advantage of their connectedness and use their personal pages to promote and sell products and services. Large numbers of Indonesians use their Facebook pages to upload photos of the things they sell and tag everyone and their dog to announce that they have a new item available for sale. On top of that, there’s the game invitations. Oh the horror when these wretched things come around."  
—Aulia Masna, from DailySocial 32 months ago.

Or to make it short: it's all thanks to the changing nature of Facebook.
The people in USA is consistent with their Facebook usage, to connect with people, so they stick to it and Facebook is still the most popular social media there. Indonesians on the other hand, utilize Facebook for other means such as selling and advertise things. As Facebook became less and less personal, Indonesians found their new comfort at the hand of Path, where they can personally connect to their selection of friends and family while still retain their old habits to post anything anywhere. So convenience.

Now that we know the purpose of Path, what's the point of this post?

Well, I just want to rant how much I actually hate Path while still using them and amused by its dynamics. It's not a love-hate relationship, since I've never loved it in the first place (I still prefer Twitter). It's just funny, how we're really fixated on one imperfect social media app for the sake of 'getting updated' and 'connect with friends and family'. That's all. I hope you don't take this as me badmouthing Path or me getting butthurted for some reasons. But to be honest I do wish a little that Path would somehow lose most of its users so we can move to a better, less pretentious app or even go back to Twitter. As for Twitter, I miss how each people is unique, posting different types of postA is a sappy, hopeless romantic gal who posts love quotes and subtweets her crush 24/7, B is a very funny and punny guy in real life who eventually finds his way to Twitter fame through his original and creative tweets, C is keen to share his thoughts about certain political issues in a series of tweets and open discussions, while D is a loner whose only solace is to rant on Twitter and doesn't care if people read his tweets or not. Meanwhile in Path, all you got is pretty much the same: check-ins, picture of your friends with their friends, funny picturesthat I thought for once was the most redeeming aspect of Path before I realized that they were taken from other social media platformsand small majority of movies, tv shows, songs, or books being consumed and reviewed.

I'm still torn between deactivating my Path so I could free up some spaces in my phone and free from the inevitable social pressure, since most of my real life friends use it and I feel like I will miss out a lot of things if I don't. Anyway, it's up to each person to have preference of which social media platform they like best and use the most, but remember this:

If I ever linked a Path post to Twitter, or even worseturn my Twitter account into a big dumpster full of Path links like most people nowadays, you're obliged to unfollow me and slap me in the face. But if I ask you how your day was and you, who happened to be a friend of mine, respond with something like "Didn't you check my Path this morning?? I was going to" I AM the one who will slap you in the face. Thank you.

Saturday, September 12, 2015

Semester 8 yang Hampir Terlupakan

Hampir aja lupa nge-review semester 8 karena.. Emang rada gabut.

Loh kok gabut kak??? Kan taun keempat kak??? Emang nggak TA kak????????/?/?

Semester 8 gue ngambil TA kok, nama matkulnya Tugas Akhir Seni Rupa, 6 sks bobotnya. Tapi selain TA, gue cuma ngambil Penulisan Proyek Akhir, Semiotika I, dan Seni, Desain, dan Lingkungan. Kalo dijumlahin totalnya jadi 13 SKS. Oh, kesibukannya paling ditambah ngasdos Gamtuk juga ke TPB 2014. Cuma ya itu, semester 8 gue cukup nyantai dibanding jurusan dan fakultas lain karena TA dikerjain 2 semester (semester ini gue ngambil lagi dan ngelanjutin, jadi status nilai TA-nya masih T), yang agak hectic justru ngerjain tugas Seni, Desain, dan Lingkungan dan Penulisan Proyek Akhir. Untuk lebih detilnya dibahas per matkul aja yaa.


Tugas Akhir Seni Rupa
Sering banget gue ditanya, terutama dari temen yang bukan anak FSRD atau Seni Rupa; anak SR TA-nya ngapain sih?? Skripsi?? Bikin apa??
Karena belom gue jelasin di bagian Pra TA semester lalu, jadi gue jelasin dikit ya. Simpelnya sih, TA anak SR ini bikin karya; karyanya kayak apa, tergantung studio yang bersangkutan. Gue misalnya, karena gue Studio Drawing, jadi buat TA gue bikin beberapa buah gambar berukuran gede dengan satu tema yang sama, medianya kertas dan drawing pen (tergantung pilihan). Nanti dipamerin pas sidang. Jadi mini pameran juga sih, jatohnya. Contoh lagi dari studio lain, Studio Intermedia deh ya, ada yang bikin seni instalasi pake sensor, jadi interaktif gitu. Kalo lo bingung sih, basically TA ini kayak tugas studio tapi dengan skala yang lebih gede, resource yang lebih memadai, konsep yang lebih matang, dan niat yang lebih kuat (iyalah buat lulus, wkwk). Minimal kayak entry buat pameran deh. Tapi selain bikin karya, ada juga anak SR yang bikin skripsi buat TA, mereka disebut anak Kajian. Seperti yang sebelomnya pernah gue jelaskan, Kajian ini salah satu sub-prodi-nya SR, but instead of bikin karya seni, mereka membedah seni (azek).
Berhubung tema dan visualisasi gue bener-bener tinggal ngelanjutin dari Pra TA, jadi bisa dibilang gue cukup nyantai pas TA. Dosbing gue pun untungnya dosen yang sama kayak dosen Pra TA, jadi doi udah ngerti lah gue mau bikin apa. Oh ya, untuk pemilihan dosbing alias dosen pembimbing, kalo di SR nanti kita dikasih form buat ngisi data seputar karya TA yang mau dibuat (kalo belom fix gapapa, yang kepikiran dulu aja), dari mulai judul, konsep visual, metode pengumpulan data, dan lain-lain, plus nama dosen yang kita pengenin buat jadi dosbing. Nah, dari situ nanti diliat kecenderungan karya kita cocoknya ke dosen mana, soalnya ada dosen yang jagonya di aspek tertentu, kayak jago di karya digital atau karya yang semiotik banget, misalnya. Tapi seringnya sih kita dapet dosbing yang kita mau kok. Dan hati-hati karena ada beberapa dosen yang suka sibuk, jadi jarang ketemu buat bimbingan dan lulus pun jadi tertunda apalagi kalo kitanya males juga, hahaha.
Buat yang karyanya mau beda dari Pra TA alias mulai dari 0 sih jelas kudu sering asistensi ya. Temen-temen gue di tahap ini sih biasanya baru asistensi konsep, basic banget lah, belom sampe sketsa malah (ada sih beberapa yang rajin) karena konsep belom fix. Tapi buat yang mau lulus Oktober sih disarankan pas semester pertama ngambil TA dimaksimalin aja, karena semester kedua jatohnya bentar sampe waktunya sidang September. Untungnya gue rencana lulus Maret taun depan (doain lancar ya!), jadi baru mulai bener-bener corat-coret ya semester ini. Tapi jangan diikutin ya, soalnya mulai lebih cepet lebih baik hahaha.

Penulisan Proyek Akhir
Loh? Jadi lo gambar doang ces TA-nya? Enak banget!
Kalo kalian sempet berpikir demikian, sepertinya kita harus mempertimbangkan ulang hubungan pertemanan kita :( (lah emang siapa yang temenan)
Anak SR non Kajian emang TA-nya bikin karya (nggak harus gambar, btw), tapi kita tetep harus bikin yang namanya Penulisan TA. Penulisan TA ini bisa dibilang semacam jurnal, semacam dokumentasi, semacam penjabaran detail, semacam pertanggungjawaban tertulis buat TA karya. Bentuknya kayak skripsi, ada Pendahuluan, Kajian Teori, Eksekusi, dan lain-lain. Intinya sih isinya step by step pembuatan karya TA plus teori-teori pendukungnya (iya, TA SR nggak bisa asal bikin, tetep harus ilmiah pake teori pendukung). Tugasnya cuma satu ini tapi bikinnya cukup hectic sih karena bisa dibilang ini draft buat TA lo, jadi harus dipikirin baik-baik ngisinya. Gue ngebut bikinnya, trus belakangan gue baru tau kalo Penulisan TA ini bisa dikumpulin sampe semester 9 ini, mungkin karena banyak yang masih bingung dan belom fix kali ya TA-nya. HUFT. Padahal gue udah bela-belain ngejar tepat waktu. Mending jangan buru-buru biar hasilnya maksimal, tapi kalo ngumpulin tepat waktu juga gapapa sih, biar berkurang satu bebannya jadi semester depan bisa fokus TA.

Semiotika I
Kuliahnya belajar tentang.. Semiotik. Membaca tanda dan simbol deh intinya. Keliatan asik, tapi ternyata teorinya bikin pusing juga. Cukup berguna sih buat yang kuliah DKV, minat desain grafis atau advertising, ataupun pengen bikin TA yang berunsur simbolik banget. At least teorinya bisa lo masukin ke tugas lo atau penulisan TA lo lah. Dosennya juga baik kok. Dan lucunya banyak anak fakultas lain yang ikut kuliah ini padahal bidangnya jauh, entah emang tertarik, ngarep nilai A (tetot, ini bukan matkul paket A, gue aja dapet B), atau iseng buat ngabisin SKS. Padahal kuliahnya pagi, gue sih rada males tingkat akhir kuliah pagi (((lah itu mah lo aja kali)))

Seni, Desain, dan Lingkungan
Matkul yang disingkat Sendal ini adalah satu-satunya matkul wajib buat SEMUA prodi di FSRD. Jadi bisa dibayangin, 5 prodi kuliah sekaligus, rame banget! Makanya kuliahnya di ruang 9009 alias ruang LFM yang luas banget. Yang dipelajarin macem-macem, karena tiap minggu dosen yang ngajar dari prodi FSRD yang berbeda. Minggu ini mungkin dosen Desain Produk, minggu depan mungkin dosen DKV. Gue bingung jelasinnya karena jujur aja nggak terlalu sering masuk (maaf anaknya males banget), tapi intinya sih menjelaskan hubungan antara lima disiplin ilmu di FSRD dengan lingkungan (as in environtment). Menjelang akhir perkuliahan ada tugas besar dan perkelompok, anggota kelompoknya bebas dari prodi mana aja, tapi saran gue sih nempel aja sama anak Desain Produk yang udah jago beginian (ups!). Tiap tahun tema tugasnya pun beda; pas gue kebetulan temanya Bandung Smart City, Bandung Technopolis (#nuhunkangEmil, lol) yang detailnya bisa digugel saja ya hahaha. Intinya sih disuruh bikin sesuatu yang mendukung konsep Bandung Technopolis tadi. Boleh berupa produk, campaign, sistem, apapun. Kelompok gue, yang terdiri dari 3 anak Desain Produk dan 1 anak Desain Interior, bikin semacam sistem transit buat wisatawan yang ke Bandung biar nggak macet. Nanti setelah perkuliahan berakhir, diadain pameran (biasanya kalo nggak di Gedung SR ya di CC Timur, masih di dalem kampus pokoknya) buat mamerin tugas ini dari semua kelompok, sekalian jadi penilaian akhir. Kelompok gue misalnya, majang maket tempat transit tadi, sama poster-poster yang isinya kurang lebih latar belakang, rancangan visual tempat transit kendaraannya, alur kerjanya, fungsinya, dan lain-lain (kayaknya gue paling out of place ya karena anak Seni sendiri sedangkan ini banyaknya kerjaan anak DP dan DI.....). Oh ya, selama perkuliahan, inti tugasnya cuma satu ini kok, tapi bakal disuruh bikin proposal dan asistensi bertahap. Jadi siap-siap aja hectic ngatur jadwal buat kerja bareng temen sekelompok yang beda prodi dan beda kesibukan ya. :-P

Tambahan:
Jadi asdos Gambar II (Gamtuk)
Galau pengen ngasdos apa nggak pas tingkat 4? Saran gue: NGASDOS AJA. It won't do any harm kok, menurut gue nggak segitu menyibukkan sampe lo nggak bisa konsentrasi TA. Manfaatnya lebih banyak, bisa buat bagusin CV, nambah pengalaman ngajar, kenal anak-anak baru, belajar pelajaran TPB lagi yang mungkin malah bikin semangat TA, dan dapet bahan gosip atau bahan lawakan karena gambar dan kelakuan TPB yang suka ajaib (maafkan aku dik). Pokoknya pas peralihan tahun ketiga ke tahun keempat, lo tinggal perlu nyiapin pas photo, transkrip, CV sederhana, sama ngisi form pendaftaran asdos dari TU. Kumpulin deh ke TU. Gue nggak tau sekarang dan matkul lain sistemnya gimana, tapi kalo pas gue daftar ngasdos Gamtuk sih setelah ngasih kelengkapan tinggal dateng pagi-pagi ke gedung TPB pas hari pertama Gamtuk sebelum kuliah dimulai, ketemu sama dosennya, nanti dipilih deh. Kemungkinan kalo lo dateng pagi dan kuota masih ada sih bakal kepilih ya, terlepas dari bagus nggaknya nilai di transkrip lo atau gambar lo. Bahkan temen gue ada yang dateng langsung dan diterima padahal belom ngasih kelengkapan (ngasihnya belakangan), jadi siapa cepat dia dapat gitu lah. Nah gue sebenernya udah daftar dari dulu, tapi telat tau sistem ini jadi telat juga dateng pas Gamtuk I semester 7 dan nggak kebagian slot, huhu. Tapi terakhir gue cek ke anak 2012, Gamtuk sekarang nggak pake sistem first come first serve lagi tapi milih berdasarkan prodi, jadi kalo biasanya yang ngasdos Gamtuk itu dari SR atau DKV, nah mulai semester ini dosennya kayak milih-milih dari semua prodi gitu biar nggak berat sebelah, jadi nggak cuma DKV dan SR tapi bahkan sampe ada anak DI juga ada yang IMHO disiplin ilmunya rada jauh. Begitulah. Oh ya, untuk dibayar nggaknya, jangan terlalu berharap ya hahaha. Yang jelas kita selalu dikasih makan siang kok. Disini pun lo nggak full ngajar sebenernya, yang ngasih materi dan nilai tetep dosen, asdossesuai namacuma ngasistensiin gambar anak-anak yang dibuat, udah bener apa belom, mana yang perlu diperbaiki, kalo ada yang minta diajarin ya ajarin, kalo ada perkataan dosen yang kurang jelas ya jelasin, kalo ada yang nanya ya jawabin, gitu-gitu. Kita ngasistensiinnya juga one on one, entah anaknya yang maju sendiri ke meja asdos atau kita yang berbaik hati keliling dan liatin satu-satu gambar anak-anak. Nih perasaan gue abis ngasdos semester lalu (cie).

Yak, itulah semester 8 gue. Jangan takut sama tingkat empat, karena kalo lo udah melewati tingkat 3 yang bagai neraka itu, dijamin kesibukan akademis selanjutnya nggak bakal terlalu terasa menyiksa hahaha. Hopefully kita bisa ketemu lagi di postingan review selanjutnya dimana gue (mudah-mudahan) sudah sidang atau bahkan sudah lulus dan cuma membahas TA. Amin.

Adios!

Thursday, September 3, 2015

Ulasan Cepat Shonen Fight #1

Belakangan ini ada majalah komik yang lagi hype di kalangan otaku dan penggiat industri kreatif, yaitu Shonen Fight. Shonen Fight ini mengadaptasi banget format majalah komik dari Jepang, dari mulai tema, konten, sampe layout-nya. Kalo nggak salah sih emang petinggi dan tim editorialnya orang Jepang. Bedanya sama majalah komik sejenis seperti Shonen Magz dan Shonen Star, Shonen Fight ini isinya 100% karya komikus lokal. Komik-komiknya pun nggak semuanya Jepang banget kok, rata-rata malah ngambil setting di Indonesia.

Dan melihat hype-nya, ditambah komikus favorit gue ikutan di majalah komik ini, maka gue pun memutuskan untuk beli dan bikin ulasan alias review juga. Btw, buat yang mau beli, Shonen Fight ini agak susah didapet di Gramedia, kayaknya stoknya terbatas banget deh, jadi kalo ke Gramedia dan nggak nemu di rak jangan segan buat ngecek di komputernya ya, kalo tulisannya ada konfirmasi aja ke masnya, minta cariin gitu. Waktu gue beli gitu, dan masnya lama nyarinya, entah deh disimpen/disembunyiin dimana. Sejauh ini, yang gue tau pernah dilaporkan masih ada Shonen Fight itu di Gramedia Merdeka Bandung sama Gramedia Mall Citra Gran Cibubur (tempat gue beli).

Tambahan: Sebenernya sekarang gue udah beli dan baca sampe jilid dua, tapi berhubung tulisan ini dibuat saat dulu gue baru baca yang pertama, maka kali ini gue ulas Shonen Fight #1 dulu ya, hehe.

Ghost Loan
Kesan pertama baca komik ini: generik Jepang banget, dari mulai judul sampe ceritanya. Ghost Loan, seperti mayoritas komik di Shonen Fight, punya penyakit yang sama: mengambil setting di Indonesia (lengkap pake nama yang Indonesia banget!), tapi desain karakter dan background-nya masih kerasa sangat Jepang. Tapi gue pribadi suka Ghost Loan, karena Ghost Loan adalah salah satu komik yang kualitasnya bagus dan stabil, terutama dari segi art-nya.. Meski tokoh Reza yang di cover dan yang di isi komiknya rada beda; yang di cover mirip cewek, haha. Penyuka komik Jepang mungkin bakal suka Ghost Loan juga. Ceritanya sendiri lumayan hooking, meski ya itu tadi, generik. Dan ada bagian yang terasa dipercepat.

Jakanova
Kesan pertama baca komik ini: jadi keinget—tanpa bermaksud membandingkan—komik 5 Menit Sebelum Tayang (style-nya, tema broadcasting-nya) dengan cerita ala Phoenix Wright. Bisa dibilang cerita dan style Jakanova cukup menyegarkan di tengah komik-komik SF lain yang mayoritas temanya supranatural dan kental influens Jepang-nya dalam segi artwork. Premisnya orisinil dan menjanjikan, walau masih belom jelas bakal kayak apa. Agak bingung juga karena sekilas plotnya kayak serius, tapi pilot chapter-nya banyak unsur ngelawak. Kita liat saja ya, gue sih menantikan banget ini.

Jeenie
Ya, kayaknya semua orang yang nulis review SF sepakat kalo Jeenie ini yang kualitasnya paling lemah. Gue pun setuju. Cerita dan tema biasa, art-nya suka nggak konsisten, background minimalis, transisi antar panel suka terlalu cepet atau kurang pas, dan (ini gatau salah editing-nya apa gimana) banyak error buat tanda baca dialog-nya. Dibanding pilot chapter, chapter ini lebih cocok jadi filler. Jeenie sebagai karakter utama yang harusnya jadi daya tarik pun ya akhirnya gitu aja karena kemunculannya tidak digambarkan dengan baik dan karakternya kurang menonjol, kurang bisa memikat pembaca, IMHO. Mungkin niatnya mau jadi romcom kali ya, tapi sekilas gaya penceritaan Jeenie malah mirip komik anak-anak. Overall Jeenie masih banyak banget PR-nya, dari mulai penceritaan, skrip ceritanya sendiri, penokohan, sampe konsistensi gambar.

INheritage: Incarnation of Chaos
Sebagai pembaca yang gatau apa-apa soal game INheritage yang menjadi dasar dari komik prekuel ini, gue merasa awal dari chapter komik ini perlu ditambah lagi. Teknis sih rapi ya, dan nilai plus karena nggak males bikin background, walau kerasa computerized banget (bisa diliat dari adanya dua panel yang sama persis). Belom bisa komen soal ceritanya karena ceritanya pun belom terlalu jelas mau ngarah kemana. Sebenernya review INheritage susah untuk nggak bias sih, karena style art-nya gue nggak suka banget, haha. Tapi gue suka kok sama adegan penutup pilot chapter-nya.

Lost in Halmahera
Wah cukup mengejutkan juga ada komik 4 panel buat pengisi SF, apalagi tema dan gambarnya Indonesia banget. Tapi sesuai namanya, gue berharap komik ini lebih mengangkat lagi sisi Halmahera-nya. Contohnya udah cukup bagus di bagian angkot full speaker, tapi kemudian komik ini jadi menceritakan hal yang bisa terjadi di pulau-pulau (bahkan tempat) lain. Mungkin bisa ditingkatkan dengan menyisipkan kesulitan saat traveling, kearifan lokal yang lucu, dan lain-lain.

Perennium
Untuk ukuran pilot chapter, Perennium ini juga masih ngawang banget. Belom jelas arahnya kemana. Tapi gue suka konsepnya dimana peran Belanda disini digantikan sama alien. Setting-nya pun menarik dan unik, yakni di alternate history Indonesia. Seperti biasa, K. Jati nggak bisa kalo nggak nyisipin teori-teori eksistensial beratnya di komik yang dia buat, apapun genrenya, haha.

Oh Blood!
Kayaknya majalah komik shonen nggak lengkap tanpa fanservice, dan Oh Blood! ada untuk itu. Oh Blood! ini yang bagus adalah transisi panelnya, alus banget. Pose-pose karakternya pun oke, kayaknya banyak referensi komik Jepang ya. Secara teknis termasuk yang bagus lah pokoknya. Tapi, lagi-lagi bias nih, gue justru sangat nggak suka sama desain karakternya terutama rambutnya. Maaf banget. Dan gue suka merasa kombinasi style Jepang dan setting Indonesia disini agak off, apalagi dengan adanya sisipan dialog atau becandaan khas Indonesia yang sebenernya lucu dan nilai plus disini, sayang aja gitu. Tapi kalo style emang udah dari sananya sih ya.

Winternesia
Dengan tema seunik ini, tolong garisbawahi, buanyaaaak banget, yang bisa dieksplor dan diulik. Tapi, tolong garisbawahi lagi, sayaaaang banget Winternesia dieksekusi dengan lemah, bisa dibilang komik terlemah no. 2 setelah Jeenie. Poin utamanya adalah di style gambarnya yang berantakan, dan ketiadaan atau minimalisnya background setelah dua halaman pertama (perhatiin deh). Padahal Winternesia harusnya kuat di setting, karena siapa sih yang nggak mau liat kayak apa Jakarta post-apocalypse yang tertutup salju? Selain itu tone komik ini belom jelas mau lucu atau serius, konfliknya pun terasa agak dipaksakan. Karakter utamanya juga biasa aja, belom bisa menarik hati atau simpati pembaca.

Rabbit Vault
Menurut gue, dari segi art, komik ini paling eye candy, tapi juga salah satu yang paling nggak shonen (setelah Kalasandhi). Tipe art yang bagus kalo dijadiin ilustrasi deh pokoknya. Dari cerita sih masih kurang hooking, meski tema dan setting-nya paling beda sendiri (satu-satunya komik yang nggak berlatar di Indonesia). Kayaknya sih daya tarik Rabbit Vault ini ada di karakter utamanya, potensial banget, apalagi kalo pengembangan karakter dan hubungannya dengan karakter lain diperdalam.

Kalasandhi
Gue nggak yakin komik ini masuk golongan shonen, danberapa banyak sih SF butuh tema supranatural? Untungnya Kalasandhi berhasil stand out, karena komiknya memiliki unsur cerita vampir, cerita sejarah, dan pelajaran medisyang notabene kombinasi unik dan nggak banyak diangkat. Seperti Perennium, bisa dibilang setting Kalasandhi ini adalah alternate history Indonesia. Pilot chapter-nya cukup hooking dan bikin penasaran. Pengenalan tokohnya pun cukup dan karakterisasinya sendiri kuat. Dari segi desain karakter di antara komik-komik SF, Kalasandhi yang paling pas sama setting-nya. Kalasandhi juga menyisipkan trivia soal sejarah dan dunia medis, kudos buat risetnya.

Yak, begitulah. Sebenernya gue nggak mau bawa-bawa persoalan style Indonesia style Jepang, karena sah-sah aja sih bikin komik lokal yang style-nya heavily influenced oleh komik Jepang, apalagi emang SF ini berformat majalah komik Jepang dan digawangi oleh orang Jepang. Yang perlu diperhatikan adalah desain karakter dan penggambaran background untuk komik-komik yang 'berani' mengangkat setting di Indonesia. Sekali lagi gue tekankan, seperti yang gue bilang di awal, mayoritas komik di Shonen Fight punya penyakit yang sama: mengambil setting di Indonesia tapi desain karakter (terutama rambut dan gaya berpakaian) dan background-nya masih kerasa sangat Jepang. Eh background nggak terlalu sih, toh rata-rata background komik di SF #1 masih belom terlalu keliatan dan maksimal, palingan desain karakter yang keliatan banget.

Contoh bagusnya mungkin K. Jati, sebenernya style dia masih kerasa banget pengaruh Jepang-nya (bisa diliat dari muka, sebagian gaya rambut, dan figur tokoh-tokohnya), tapi dia bisa menggambarkan background dan atribut yang khas Indonesia (apalagi kalo liat komiknya yang 17+ atau Anak Kos Dodol) sehingga unsur Jejepangan tadi bisa diimbangi. Jakanova juga kayak gitu. Kalo contoh antitesis-nya sih jelas Kalasandhi ya, meski jatohnya jadi nggak shonen. Gue nggak bilang komik-komik di SF harus kayak contoh-contoh komik tadi, cuma saran gue: desain karakter yang sesuai. Dan jangan males ngeriset background. Hahaha.

Overall, SF #1 memuaskan kok. Diliat dari kualitas dan variasi komik yang ada (serta potensi komik-komik baru yang akan ada), bisa dibilang ini majalah komik lokal yang paling gue tunggu dan akan terus gue beli meski harganya paling mahal, hehehe. Akhir kata maafkan quick review gue yang bias atau tidak membantu. Semoga ke depannya makin baik ya, Shonen Fight!