Wednesday, February 5, 2020

Balada Sang Gadis Pemimpi

Sang Gadis merias wajahnya. Bagaikan ritme musik yang jutaan kali dimainkan, jari-jari lentiknya tahu harus ke mana selanjutnya: alis, mata, bibir, pipi. Nyaris tiap jengkal wajahnya ia perindah dengan warna dan dimensi, namun tidak berlebihan hingga mengundang tanya. Ia hanya hendak pergi bekerja, bukan menghadiri pesta. Dalam hitungan menit, sang gadis siap menghadapi dunia.

Sang Pria adalah rekan kerjanya. Tidak terlalu dekat, tapi cukup dekat untuk bertegur sapa, sesekali bertukar tanya dan tawa. Pagi itu Sang Pria bersandar di kursinya, jarinya mengetuk sesuai irama lagu entah apa yang ia dengarkan di laptopnya lewat penyuara telinga. Wajahnya tampak serius, dan tak seperti biasanya, ia mengenakan kemeja. Kemeja rapi, layaknya sihir, seringkali menciptakan efek memikat pada lelaki mana pun. Tak terkecuali mata Sang Gadis yang merasa dimanja.

Sang Gadis tiba dan menyapa, di bibirnya tersungging seulas senyum tipis. Sayang, Sang Pria yang telinganya ternyata sedang dijejali oleh raungan musik metal, tentu tidak menggubris. Sang Gadis menunduk malu, berlalu menuju tempat kerjanya.

Di antara bilik-bilik serta meja kursi yang beradu kelabu, bagi Sang Gadis, Sang Pria adalah mataharinya.

Hari semakin sore. Sejak pagi, sudah terlanjur tertanam satu imajinasi di kepala Sang Gadis: ia dan Sang Pria akan menonton sebuah film di bioskop malam ini. Duduk berdampingan, tertawa, dan berdiskusi setelahnya. Jantungnya berdegup, kedua matanya sesekali mencuri pandang pada Sang Pria dengan gugup. Ia tampak manis hari ini, batinnya. Kadang Sang Gadis berharap terlahir lelaki, karena pikirnya melakukan pendekatan duluan pada pujaan hati tidak akan sesulit ini.

Berulang kali Sang Gadis mencoba mereka percakapan fiksi dalam kepalanya. Merangkai kalimat-kalimat kasual untuk sekadar berbasa-basi dengan Sang Pria dan melancarkan misi. Haruskah aku mengajak yang lainnya? Sempat terbersit di benak Sang Gadis. Mungkin berdua saja terlalu berlebihan. Tapi Sang Pria dalah tipe yang nyaman berdua, bertiga, bertujuh, dan seterusnya. Jumlah massa bukan masalah.

Setelah perdebatan panjang antara ia dan kata hatinya, menelan bulat-bulat deretan kecemasan dan kemungkinan yang hanya akan menghantui, Sang Gadis akhirnya memberanikan diri. Hidung kecilnya segera disambut wangi kesturi bercampur kopi. Sang Pria sedang menyesap kopi instan hangat di gelasnya saat Sang Gadis hadir di sebelahnya. Mengajaknya berbasa basi seputar pekerjaan hari ini, seputar otak mereka yang butuh relaksasi, seputar film yang sedang tayang, dengan senyum lebar terbentang tanpa paksa di antara pipi manisnya. Dan bagai aktris yang telah mengucap dialognya ribuan kali, Sang Gadis mengutarakan keinginannya.

Sang Pria tersenyum hangat dan menjawab dengan sebaris kalimat. Namun yang Sang Gadis dengar hanyalah kata "maaf" dan "ada janji", memecahkan lamunan akan duduk berdampingan, tertawa, dan berdiskusi setelahnya.

Sang Gadis pulang dengan gontai. Otaknya berusaha memaklumi yang baru saja terjadi, tapi hatinya mengkhianati. Senyum yang merekah di wajahnya tadi kini tunduk pada gravitasi. Sisa keberaniannya sudah lenyap ditelan bumi.

Malam tiba. Layaknya jutaan gadis bosan lainnya di Jakarta, ia membuka sosial media. Berharap ada sesuatu yang dapat menghiburnya di antara wajah-wajah terpoles, jepretan foto yang tertata rapi, dan lengkingan suara teman-teman yang menyelingi.

Tapi lagi-lagi Dewi Fortuna tampaknya enggan berpihak pada Sang Gadis, karena yang ia dapatkan malam itu adalah foto secarik tiket bioskop beserta ulasan singkat untuk film yang ingin ia saksikan dengan Sang Pria. Hanya saja, Sang Pria sendiri yang mengunggahnya. Tidak jelas menonton dengan siapa, bukan dengan Sang Gadis tentunya. Semangat Sang Gadis menguap seketika. Alih alih menonton film idaman, malam itu ia sibuk menonton skenario demi skenario buruk terbaru yang ditulis, diwujudkan, dan ditayangkan tanpa henti oleh Sang Gadis sebagai sutradara dalam pikiran.

Esok pagi, Sang Gadis memulai rutinitasnya. Alis, mata, bibir, pipi. Beri warna, ciptakan dimensi. Kali ini dengan lebih sedikit usaha karena semangatnya belum juga tiba. Perjalanan ke kantor yang hanya butuh waktu 30 menit terasa bagai 3 jam untuk Sang Gadis yang memulai hari dengan bermuram durja.

Sang Gadis menginjakkan kakinya di lantai 20 yang selalu ia nantikan selama setahun terakhir, kecuali saat itu. Kedua matanya menyapu dan mengintai seluruh ruangan, tanda-tanda kehadiran Sang Pria tak ditemukan. Yang ada hanyalah senyum sumringah dan gelak tawa beberapa rekan kerja yang duduk di seberangnya. Salah satunya seorang gadis muda yang bahkan tetap lebih cantik meski riasan tak menghiasi wajahnya. Sayangnya rasa bahagia dan kecantikan bukan virus menular, karena Sang Gadis sangat bersedia dijangkiti olehnya.

Di atas sana, Dewi Fortuna terbahak-bahak mendengar keinginannya.

Percakapan demi percakapan terus bergulir dari mulut para rekan kerja. Sang Gadis tiba-tiba menyesal telah memasang telinga dan bukan tembok kedap suara, karena bisik-bisik yang ia dengar selanjutnya nyaris membuatnya ternganga.

Bersamaan, Sang Pria melangkah masuk ke ruangan dengan kaus hitam andalan. Percakapan dan gelak tawa sekejap tak terdengar, berganti dengan tegur sapa bernada ceria.

Sang Gadis mengalihkan pandangan, dan jika bisa, ia juga ingin mengalihkan pikiran dari dunia kecilnya yang perlahan diruntuhkan realita. Hatinya kini divonis positif—positif merana. Penyebabnya? Teman nonton Sang Pria semalam tak lain adalah si gadis muda yang cantik tanpa riasan. Hanya berdua. Begitu yang ia dengar tadi.

Di antara bilik-bilik serta meja kursi yang beradu kelabu, bagi Sang Gadis, Sang Pria seharusnya adalah mataharinya.

Tapi tidak hari itu, karena hujan mendadak turun dengan derasnya.



Jakarta, dini hari. Tidak terinspirasi dari kisah nyata.

Thursday, January 23, 2020

The Tale of Modern Day Cinderella

The clock strikes 12.

Cinderella hurries home, clutching her tote bag in one hand and her phone in another.
Except she didn't wear fancy ball gown and leaving one of her glass slippers,
But t-shirt with jeans and leaving a mound of work to be done tomorrow.

As the elevator dings,
She became aware of her surroundings.

No enchanting castle and handsome prince in sight,
Only dimly lit hallways and patrolling security guy as far as the eyes can see.

As she reached the entrance, some people were passing by.
Scantily clad women with pungent powdery smell and Caucasian men laughing merrily into the bar,
For a party that is just yet to begin.

It was 12 past 5.
Cinderella is now just a poor girl with poor life choices.
The more she thinks, the more tears welling up.

She caught a glimpse of her reflection earlier,
And she realized she's no longer the princess when she first came here,
Just a girl with bags under her eyes from all the nights of wringing her brain dry.

Cinderella's carriage pulled up and took her home,
Made up of no pumpkin and mice,
While the driver said,
Rp95.000 with a tip would be nice.

Sunday, November 10, 2019

When In Bangkok..

To be honest, I've never been abroad as an adult. The last time I went somewhere that is not Indonesia was many years ago when I was a grade schooler. So naturally, when the opportunity arise for me to go abroad, I was very excited.

Singapore was initially my first choice, but considering the cost and the fact that I actually went there twice when I was a kid, I thought of going to Bangkok instead. Yup, it's relatively cheaper, and it's completely new for me. So off to Bangkok I went.. For 5 days and 4 night.

It was a great decision!

Money, Money, Money
Let's crunch some numbers. I brought 8000THB (that's around IDR 3.7 mio) with me; 6000 from my own pocket, 2000 from my mom for souvenirs shopping. The flight (with extra baggage) and hotel costed me IDR 3.9 mio. So the total of my 5d4n trip was around IDR 7.6 mio. Again, Bangkok is a fairly cheap country to travel to so you can still save up more in terms of accommodation (hostels are cheaper), flight (always on the lookout for airline promo!), and shopping (I kinda shop a lot). Maybe you can go with a total cost of just IDR 5 mio or even under if you're really thrifty. I strongly suggest you to save up beforehand and strictly manage your budget allocation, but that's goes without saying.

You will rely heavily on BTS and MRT, so expect a lot of walk under the sun

The Climate?
I went there at the end of October, aka the beginning of rainy season for Southeast Asia. But believe it or not, during my 5-day trip in Bangkok, it was only raining once. It wasn't exactly heavy rain and it wasn't for long either. So if you're happened to travel on the same season as me, just pack your light clothes because one thing I noticed the most was: BANGKOK IS FRICKIN' HOT. All day long. Especially if you're traveling to touristy places packed with people like the market and going mostly on foot (you will, a lot). Put away your heavy denim jacket, parka, sweater, long sleeved shirt, and the likes. This ain't London, honey. Bring your light cardigan, airy outerwear, and short-sleeved or sleeveless top instead. Slap on some sunscreen. Get a collapsible umbrella if you have to; you know, for extra protection against the scorching sun and maybe the rain. You've survived Surabaya? You can survive Bangkok as well.

Pork skewers, 4THB each or around Rp4.600. What the heck?

The Best Part aka THE FOOD
One of the most deciding factor in this trip was the cost. I was told that street food in Singapore would cost me the same as restaurant food in Jakarta. On top of it, no offense, I was told again that Singaporean food tastes kinda bland for us Indonesian tongues. Well, the food in Thailand was completely the opposite! Of all sort of meals I've eaten there, like 90% of them were DELICIOUS. I'm not lying, man. And even better, they come in an unbelievably cheap price. Let me list a few down for you.
- Prachak Pet Yang Roasted Duck: With just around Rp21.000, I can get myself a plate of steaming rice with tasty, succulent roasted duck. It's a heaven for duck lover like me. You can't find it for the same price in Jakarta.
- Salmon Sashimi at Ratchada Train Market: The market is full of food stalls, but one that particularly stood out to me is this sushi and sashimi stall. I bought their regular portion salmon sashimi for Rp40.000ish (100THB), with like 8 slices of raw salmon in a disposable plastic container. At first I was afraid of its freshness, I mean it's sold in night market which didn't have the best hygiene after all, but to my surprise it was fresh, with no weird smell or taste whatsoever.
- Grilled Scallop with Cheese at Chatuchak Weekend Market: One of my best discoveries in Bangkok. With only 100THB, I got 7 fresh scallops, grilled to perfection, with lots of melted cheese on top. Taste-wise and price-wise, it's definitely to die for. I don't know if it's even the same kind of scallop but I know some Japanese restaurants in Jakarta charge IDR 40k and above for just ONE scallop.
- Everything at 7-Eleven: I'm not kidding, their 7-Eleven is like on a whole another level with the one we used to have here. Their food selection is no joke; you can pretty much find anything from the staple hotdog and cup noodles to pastries and the convenience store version of Thai's signature basil chicken rice. Their range of ready-made meals is very, very varied. They have rice, noodles, burgers, sandwiches, novelty snacks, and many more. The staff will heat 'em up for you. How about taste and freshness? When I said their 7-Eleven is on a whole another level, I was also talking abot these two factors. I assure you, the food tastes as good as the ones from the restaurants. With cheaper price, too!

Shopping Time!
You have plenty of shopping options in Bangkok. As for myself, I went to both the traditional markets and the malls. I can save up a lot in the food department, but this is where saving gets harder. I've came across A LOT of cute clothes, accessories, and knick-knacks. For example, long sleeved shirt with artsy patterns (think of Cottonink etc) was under IDR 100k in the traditional market. While the malls can get a bit pricey, they also have a lot of unique and limited items that you can't find back home, such as official anime merchandise (Sailor Moon, Detective Conan, One Piece, etc), local brands with cool design (think of Goods Dept etc), and many more. I think I spent my pocket money mostly on these kind of purchase. So shop responsibly, buy what you really want to buy. If I can't control myself, I would've came home with illustrated phone ring holder and character stickers that I will never use.

My conclusion for this trip? Well uh, I don't really like to compare but Bangkok is like the hotter but much better version of Jakarta. In terms of variety of food, goods, and shops they have here, and especially the food price, Bangkok is definitely superior. I also like their integrated transportation and how it's easy to use even by foreigners. The only thing that I don't like is their hot as hell climate. But the rest is enough to make me want to come back, no matter what.

See you when I see you, Bangkok!

Tuesday, November 6, 2018

Tentang Konser Lamp: A Distant Shore

Ah, Lamp.

Adalah band Jepang yang 4 tahun lalu, ketika gue masih tinggal di Bandung, diperkenalkan oleh salah satu temen kuliah gue. Gue jatuh cinta pada pendengaran pertama (is that even a phrase?) dan tau-tau udah khatam diskografinya. Nggak bermaksud sombong atau apa, tapi ya sesuka itu gue sama Lamp ketika itu.

Fast forward ke awal Oktober lalu, gue baru menemukan kalau Lamp mau konser di Jakarta. Tanpa mikir lama gue beli tiketnya (buat gue dan pacar), meski bisa dibilang harga tiketnya agak mahal untuk ukuran konsernya, yaitu 385k. Tapi setelah dipikir-pikir lagi sekarang dan setelah gue menikmati konsernya, gue bisa bilang kalau harga segitu ternyata WORTH IT.

Konser Lamp diadain di Rossi Musik Fatmawati, 17 Oktober 2018 lalu. Ini juga merupakan perkenalan pertama gue dengan si venue yang namanya udah terkenal di kalangan gigs goers jaman gue SMP, jadi semua ini bener-bener pengalaman baru buat gue. Gue bisa dibilang hampir nggak pernah nonton konser artis luar, apalagi solo. Terakhir ya pas nonton Mild High Club sama Kero Kero Bonito di Widelanes Festival, itu pun itungannya gue nggak suka-suka banget.

Gue sampe sana jam 8an, just in time buat ngeliat penampilannya Mondo Gascaro yang kebetulan gue juga suka banget (told you so, this concert is worth it). Baru deh jam setengah 10 Lamp tampil! Lagu yang dibawain, walau jujur aja gue nggak tau judulnya satu per satu karena baik di Spotify maupun di iTunes pake huruf Jepang, semuanya gue tau. Semuanya familiar dan semuanya enak-enak, not gonna lie. Mungkin bias ya karena gue suka, tapi dari semua konser yang pernah gue datangi baik lokal maupun luar, konser Lamp ini yang paling bikin gue happy. Paling enjoyable. Faktor lain mungkin karena venue yang isinya nggak terlalu banyak orang DAN bebas anti rokok.

Anyway, gue punya 2 lagu Lamp favorit, yang satu judulnya Ame Furu Yoru no Mukou (雨降る夜の向こう) dan satunya lagi Saishuu Ressha wa 25 Ji (最終列車は25時). Lagu pertama udah dibawain di paruh pertama konser, dan ternyata lagu ini favorit pacar juga (padahal dia baru mulai dengerin Lamp setelah gue beliin tiketnya wkwk). Paruh kedua konser berlalu, dan lagu favorit gue yang satunya belom juga dibawain. Sempet cemas sih nggak akan dibawain, but in my defense, lagunya kan enak banget?? Masa nggak populer, sih :(

Mendekati jam 11, Lamp mulai beres-beres. Gue udah mikir, yah kelar deh ini nggak dibawain lagunya.. Padahal udah ditunggu-tungguin.

Untungnya, penonton lain juga nggak rela Lamp udahan. Mereka pun teriak enkoru! Enkoru! Haha. Entah gara-gara seruan encore apa emang belum selesai, Lamp balik lagi ke panggung buat bawain lagu terakhir, yaitu.. Yes, you guessed it.

LAGU FAVORIT AKUH!! :D

Nggak pake lama, gue ikutan sing along. Emang afal Ces lagu Jepang gitu? Eits, bisa diakalin dong. Sebelom konser, gue udah buka page lirik lagu Lamp favorit gue yang ada versi romajinya. Jadi pas konser tinggal baca, hahaha.

Kesimpulannya, emang beda deh nonton konser artis yang cuma sekedar tau/suka beberapa lagunya, sama artis yang udah lo suka dan ikutin dari dulu atau minimal tau semua lagunya. Konser Lamp ini super, super menyenangkan. Good job untuk semua pihak yang terlibat! Nggak nyangka sih Lamp bakal ke sini dan lumayan rame juga yang nonton. Pelajaran yang bisa gue ambil adalah.. Kalo udah sukaaa banget sama satu artis dan mereka mau konser di Indonesia, apalagi kalo konsernya kayak cuma sekali seumur hidup dan nggak tau kapan lagi mereka bakal ke sini, just go for it!

Siapakah yang dilingkari merah di postingan ini?