Tuesday, May 12, 2015

Dikotomi Fandom

Anjir, judulnya pretensius banget ya. Making a good title is never my forte, so please let me know if you came up with a better suggestion for this piece.

Belakangan ini, film-film superhero makin banyak digemari. Padahal satu dekade lalu, waktu beberapa film superhero mainstream kayak franchise Batman, X-Men, Hulk, dan Spider-Man mulai bermunculan, hype-nya nggak segede sekarang ini (well, salah satunya mungkin karena kebanyakan film adaptasi superhero di masa itu rata-rata nggak bagus, kali ya). Coba liat sekarang; bahkan cewek-cewek remaja dan orang yang nggak baca komik-komiknya (termasuk gue, yang memenuhi kedua kriteria tersebut), suka film superhero. Dulu? Mana tertarik orang-orang yang nonton film secara kasual buat nyari tau lebih lanjut soal Spider-Man, ataupun menanti-nantikan film Batman selanjutnya. Again, gue nggak tau ini karena faktor kualitas filmnya apa gimana, tapi gue melihat peningkatan minat terhadap film dan komik superhero ini sebagai sebuah kemajuan. Mungkin berawal dari suka filmnya, kemudian mulai cari tahu soal cerita dan karakternya lebih jauh lewat internet, hingga menggaet dan mengantarkan fans-fans baru ini buat baca komiknya. Pada akhirnya, komik-komik ini akan diapresiasi oleh orang-orang diluar segmen pasarnya. Fandom meluas. Publisher senang dapet lebih banyak profit dari konsumennya yang meluas dan rela merogoh kocek buat beli merchandise/komik/tiket film franchise superhero favorit mereka. Which is a good thing for the industry.. Or so I thought.

But the longtime fans? Do they think the same?

Baiklah, gue nggak akan terlalu ngomongin soal industri dan perputaran duitnya, karena bukan kapasitas gue untuk ngomongin hal yang nggak terlalu gue tau. Yang mau gue omongin adalah.. Dikotomi yang ada di dalam fandom superhero sekarang. Ada fans lama; yang memang sejak kecil tumbuh bersama superhero-superhero ini dan dari dulu setia baca komiknya, ngikutin series-nya, nonton film-film jadulnya. Lalu ada fans baru; orang-orang yang baru 'melek' superhero sejak era Iron Man (2008) atau bahkan The Avengers (2012). Mereka mayoritas cuma ngikutin film superhero yang muncul sejak Iron Man tadi dan nggak terlalu mendalami, tapi banyak juga yang kemudian nyemplung ke dunia perkomikan dan jadi mendalami karena jatuh cinta sama film-filmnya. Gue pribadi tergolong di antara dua tipe fans baru ini, karena gue baru ngeseriusin film superhero ini sejak gue masuk kuliah, yang kemudian bikin gue nggak absen buat nonton film-film barunya sambil sesekali browsing lebih jauh soal cerita dan karakternya, nonton TV series-nya, ataupun ngintip komiknya.

Dan layaknya old fandom lainnya, keberadaan 'fans lama' dan 'fans baru' ini nggak jarang menimbulkan sentimen-sentimen tertentu, entah buat produknya ataupun fans-nya sendiri. Ambil contoh, fandom Studio Ghibli. Beberapa waktu lalu, skena Twitter lokal sempet rada panas gara-gara ada seorang Twitter user dengan followers enam digit (I refrain from using the term 'selebtwit', but now you know) yang menulis seakan dia adalah fans berat Studio Ghibli, kontradiktif dengan tweet lamanya yang menyatakan kalo dia ngantuk waktu nonton salah satu filmnya. Ya, seperti yang lo duga, para fans lama jelas langsung menertawakan dan mencibir orang ini rame-rame, nganggep dia poser layaknya fans-fans baru yang suka membuat klaim berlebihan soal produk fandom-nya di medsos, padahal dia baru tau beberapa aja dan (kayaknya sih) nggak bener-bener suka.

Jangankan fans baru versus fans lama deh, sesama fans baru pun kadang suka saling sensi. Ini pengalaman pribadi gue sih, sebenernya. Jadi, waktu nonton Avengers: Age of Ultron (2015) kemaren, gue duduk di depan seorang cewek. Kenapa gue tau? Karena.. Selama film berlangsung dia beberapa kali berisik ngobrol sama temennya. Gue waktu itu sempet mikir, "Oh, orang ini ngerti Avengers?" sampai akhirnya mid credits scene diputar, Thanos muncul dan dengan heboh (serta pedenya) cewek ini bilang, "Itu Odin kan?!?!?!?"



..Gue mau facepalm, tapi kemudian gue inget kalo beberapa tahun sebelumnya gue pun nggak tau siapa bapak-bapak ungu di end credits The Avengers sebelom dikasitau temen gue yang geek dan gue inisiatif Googling.

Selain contoh-contoh yang gue sebutin di atas, masih banyak sentimen-sentimen lain, kayak contohnya "cewek-cewek pada suka gara-gara aktornya pada ganteng aja" dan "overhyped banget sih film ini, banyak fans baru yang nggak tau apa-apa sih". Ya, kebanyakan nyinyiran itu datengnya dari fans lama memang, tapi lucunya, yang gue liat dan yang gue baca dari sebuah artikel (lupa darimana, maaf) film-film superhero sekarang ini justru dibuat untuk fans-fans lama yang mungkin sekarang usianya udah 30an. Kenapa? Coba tengok artikel tentang review ini. Jangan lupa baca juga komen pertama di artikel tersebut. Cukup menggambarkan? Ya, fans-fans baru mungkin nggak tau siapa itu Scarlet Witch, Quiksilver, dan Vision yang baru dimunculkan sekarang, nggak tau apa itu Infinity Stones, dan mungkin nggak tau juga siapa aja itu Suicide Squad dan apa maksud dibentuknya. Buat fans baru, beberapa film superhero ini rada segmented, tapi kadang buat fans lama, justru beberapa film superhero ini overhyped (mungkin nggak memenuhi ekspektasi mereka yang udah baca komik-komiknya duluan). Bahkan seorang longtime fans yang gue kenal bilang kalo fenomena ini nggak adil, karena di saat dulu dia suka superhero nggak ada orang lain yang suka juga dan bisa diajak ngobrol, eh sekarang semua orang suka.. Tapi dia tetep nggak bisa ngajak ngobrol fans-fans baru ini karena wawasannya jauh lebih luas dan bisa-bisa dianggap terlalu geeky.

I'm in no place to say this, but here's my advice: calm your tits down, both of you longtime fans and new fans. Ini berlaku buat semua fandom, lho. Oke, memang ada masanya saat gue menjadi longtime fans di suatu fandom lalu tiba-tiba banyak fans baru bermunculan dan hobi berkoar-koar soal kesukaannya terhadap produk fandom ini (padahal kayak yang gue bilang tadi; belom tau banyak dan belom tentu beneran suka), gue akan menyebut mereka poser dan menggunjingkan kelakuan mereka sama sesama temen gue yang juga longtime fans. Tapi makin kesini gue makin merasa that it was pointless and it made me sound like a dick slash elitist fan, karena seperti kata seorang senior gue: at one point of our lives, we were once posers. Mungkin tanpa sadar, waktu baru kenal Studio Ghibli dulu misalnya, kelakuan gue poser banget; nge-like page FB film-film Ghibli, masang wallpaper Ghibli, ngebacot soal Ghibli di medsos dan lain sebagainya, padahal jumlah film yang udah gue tonton baru bisa diitung dengan sebelah tangan. Tapi menurut gue sih gapapa selama 'kelakuan poser' ini bisa mengarahkan kita buat mencari tau lebih banyak soal fandom tersebut, mendalaminya, hingga pada akhirnya bener-bener suka dan tanpa sadar kita jadi longtime fans. Toh, kalo kebetulan 'poser' ini niat dan rela ngeluarin duit lebih buat beli merchandise dan produk aslinya (meskipun tujuan awalnya cuma buat pamer) justru bikin dia lebih baik daripada yang mengaku fans lama tapi selalu mengonsumsi produk bajakannya dan nggak ngasih kontribusi apa-apa kepada fandom yang katanya sih sangat disukai, setidaknya secara finansial.

Lagian, fandom yang tidak berkembang = duit mandek = produksi berkurang. Hasilnya? Bisa tau-tau berhenti produksi atau malah langsung gulung tikar. Menurut gue lagi nih ya, fans yang baik adalah fans yang membiarkan fandom-nya berkembang, dan dengan senang hati mau 'menebarkan ajaran' sehingga lebih banyak orang yang tertarik atau seenggaknya terbuka matanya soal fandom ini. Kalo emang lo suka dengan sesuatu, harusnya lo nggak usah peduliin kelakuan poser selama nggak memberi pengaruh negatif secara langsung, fokus aja buat mendalami hal tersebut dan 'menebarkan ajaran' tadi. Tapi ya, gue ngerti banget sih kecemasan fans-fans lama yang khawatir produk fandom-nya bakal berubah ke arah yang tidak menyenangkan (baca: masuk ke jurang kapitalisme) demi menyesuaikan kebutuhan fans-fans baru yan sebenernya belom banyak tau apa-apa. Hal kayak gini biasanya terjadi di industri musik sih, dimana style dan genre musik yang dibawakan seorang musisi atau band harus senantiasa ngikutin jaman kalo nggak mau tenggelam. Mungkin lo bisa survive dengan mempertahankan nilai-nilai lama lo dan 'hanya' mengandalkan fans lama, tapi ya itu, lo bakal susah berkembang dan bersaing di industri tersebut. Walau ada juga orang-orang yang make alesan ini sebagai excuse buat jadi fans lama elitis yang ceritanya berusaha mempertahankan eksklusivitas fandom-nya padahal ujung-ujungnya cuma buat ngasih makan ego or for the sake of their fandom being 'obscure and cool'.



The bottom line is.. Fandom is not a friggin' competition. Stop dissing other fans. Instead, gather 'round together and fight for the same cause, make the products even better. After all you have one thing in common: an interest for certain things. What makes it different is that level of interest. Now, I don't expect us to holding hands while singing Michael Jackson's Heal The World, but at least have some decency to: 1. Stop being a prick who constantly bitching about how much the fandom has changed or being rude to newcomers, and 2. Actually research your so-called favorite movie/comic/book/musician/game/whatsoever, so that you get to know 'em better and don't end up like a total poser.

It is not that hard, right guys? :-D

Wednesday, April 29, 2015

Ahem.

It seems like yesterday when I coincidentally met a friend and he asked me, "are you going to apply as an assistant lecturer?"

Thanks to him, I remembered my freshman's dream to help my juniors getting by in my favorite subject. I'm not the best tutor or mentor, but sure I love being in that position. I just love helping others to hone their skills with my fair share of experiences and knowledges, especially in my own field. So without a second thought, I applied. I turned in my CV and my academic transcript. First semester, I failed because I woke up late. In second semester, I woke up earlier and I made it. Yay! Early bird gets the worm, eh?

I was assigned to class four. Funny, because I was paired up with that same friend who reminded me of the assignment lecturer opportunity. He also failed on the first semester so practically we were really new to the class.

My first impression? Not much. But I immediately learnt that this class is actually better (if any of you—member of the class—happened to read this post, don't get cocky!) than other classes. They're somewhat tame and.. Tidy? DKV-ish? Whatever. I guess the credits goes to their previous assistant lecturers. I kinda feel grateful anyway, because well.. I don't need to spend my energy and time to get mad at their drawing skills. Oh wait, some of them were actually super terrible at drawing, but I just don't have the heart to say anything insulting :-P I don't know, I just don't feel like that discouragement will do them any good. Just not my style, I guess. Also, my partner is not the type of person who get worked up or get angry easily, so.. Class four is a bunch of lucky bastards to have a pair of nice, reserved, nurturing assistant lecturers like us. Hahaha.

Anyway. Next week is the last day of class and I suddenly got all melancholic, thanks to yesterday's class. Yesterday after class, we (the entire assistant lecturers) arranged a fake test for these freshmen. It consisted of five questions, and the fifth questions was something along "Who's your favorite assistant lecturer? You can draw them or describe them". And the result was somewhat pleasing and fun. Although I got no drawings (unlike my fellow assistant lecturers from other classes, *sobs*), at least some of my favorite fellas reciprocate my feelings. Yeah, I know, this is the opposite of 'senpai noticed me' situation. To make long story short; it really made my day. The end.

Is it worth it, being an assistant lecturer? Spending your whole day, from 9 to 3, being stuck with some clueless freshmen? Re-learn all the lessons that you already passed years ago?

Here's my answer: Yup! Best. Decision. Ever.

It was tiresome, of course, but I constantly get inspired to draw something after class—it helps a lot with my recurring art block. So yeah, being an assistant lecturer is a two-way thing: they got the lessons and the assistance needed for their drawing skills (and grade), meanwhile you got your mood boosted, mind inspired, fees (well duh, this ain't a volunteer work), and—this is my favorite part—you got new acquaintances and possible friends.

Dear my fellow partner or students from class four, if you ever happened to stumble upon this post; I'd like to thank you guys, personally, for making the most of my days for the last few months.  One semester is such a short period for me. I wish I had been assigned from the first semester so that I could remember each of your names and faces (that's right, I haven't memorized some of you! Sorry if I ever forget your name or face haha), or to know you guys better. Also, sorry for being a not-so-competent assistant lecturer and being clueless sometimes (that I could only say something like "make it bigger", "add something here", "it's too long"). I wish you guys get even better in terms of skill, and please, whatever your major would be, don't be too lazy to draw or get satisfied easily. See you at the mighty gedung SR! >:-D

..Now excuse me while I clear my throat.

Friday, April 10, 2015

This Case Really Grinds My Gears!

Tadi sore, gue baru aja baca sebuah artikel yang di-share Joko Anwar di akun Twitter-nya. Twitnya berbunyi seperti ini:


Baca kata 'Dating abuse case' dan 'ITB', jelas gue langsung tertarik buat ngeklik link-nya. Sekedar informasi, beberapa bulan yang lalu emang ada kasus penganiayaan antara mahasiswa dengan mahasiswi ITB yang berpacaran. Berita tentang kasusnya muncul dimana-mana kok, silahkan Googling kalo nggak males buat tau lebih lanjut soal kronologisnya. Atau langsung aja tengok link yang gue quote di atas, kronologisnya kasusnya juga diceritain kok meski nggak terlalu detail. Isi link-nya berupa artikel yang ditulis oleh orang yang udah pernah ketemu dan ngobrol langsung sama sang korban, Raras, jadi gue rasa isi tulisannya cukup kredibel. Coba baca aja ya.

Udah baca? Kalo udah, gue mau mengemukakan pendapat gue soal masalah ini.

Sejak baca berita tentang kasus yang pertama dulu, sebenernya gue udah sedih. Kok bisa-bisanya ada yang tega nganiaya pacar sendiri sampe segitunya? Kenapa harus nganiaya, kenapa nggak bisa diomongin baik-baik, be more civil? Sedihnya lagi, kok bisa-bisanya orang itu sekampus sama gue? Mengenyam pendidikan yang bagus dan menjalani hidup sebagai mahasiswa di kampus dan kota yang super nyaman ini?

Secara personal, gue nggak kenal sama sekali sama si pelaku yang bernama Firdaus. Angkatan kita beda, fakultas dan jurusan kita pun beda. Dia juga bukan tipe seleb kampus atau petinggi kampus, jadi jujur aja gue baru pertama denger namanya ya di kasus itu. Padahal, ternyata dia masih satu circle sama beberapa senior kenalan gue. Begitupun sama Raras, gue sama sekali nggak kenal karena beda angkatan, jurusan, dan fakultas. Jadi ya.. Penilaian gue terhadap mereka itu adalah penilaian terbentuk dari hal-hal yang gue baca dan gue denger tentang mereka.

Pernah, pas gue ngomongin soal kasus ini sama seorang temen, dia berkomentar kurang lebih seperti ini: "tapi katanya (kata temen-temennya temen gue yang kebetulan kenal sama si pelaku dan si korban, red), si ceweknya juga agak bitchy gitu."

Bitchy? Gue waktu itu nggak terlalu menanggapi, tapi kalo dipikir lagi sekarang, sebenernya perkataan semacam itu bikin kesel juga. Kalimatnya menyiratkan konotasi semacam, "she kinda deserves it anyway," atau "ya mau gimana lagi, salah juga sih ceweknya soalnya dia bitchy, ya pantes kalo sampe ribut dan si cowok nganiaya dia". Wah, jadi kalo kita bitchy, atau setidaknya dipandang bitchy oleh sebagian orang, adalah hal wajar kalo sewaktu-waktu kita diapa-apain cowok. Gila. Ini pembenaran yang nggak pantes, sih. Lagian, apa sih definisi 'bitchy' orang-orang ini? Berpakaian terbuka? Suka tebar pesona? Suka seks? Suka jahatin orang? Huft. Being bitchy is one thing, but got abused physically and mentally because we're considered as 'being bitchy'? That's whole another thing. Apa karena pacar lo berperilaku nggak baik lantas lo boleh mukul dia, jambak dia, bentak dia, ngekang dia, dan semacamnya? Nggak, kan? Orangtua sendiri aja belom tentu boleh, gimana yang statusnya cuma pacar.

Dan ini baru pacar lho, gue bergidik kalo membayangkan seandainya ini terjadi pas mereka suami istri. Ya, sisi positifnya, ini terjadi pas mereka 'baru' pacaran. Seenggaknya Raras jadi sadar kalo Firdaus bukan pasangan yang baik, apalagi calon suami yang baik. Kalo seandainya belum ada kejadian ini dan mereka lanjut ke jenjang pernikahan, yang kemudian baru nunjukin sisi gelapnya si Firdaus ini.. Mungkin lebih banyak lagi hal yang dipertaruhkan. Too bad, Raras had to learn it the hard way. :'(

Setelah berbulan-bulan kemudian gue udah nggak ngikutin kasus ini lagi, tiba-tiba muncul artikel di atas. Ternyata, kasusnya nggak berhenti sampai situ aja. Penganiayaan kedua terjadi ketika Raras diajak ke kosan Firdaus dengan intensi (yang harusnya) baik. Dan jujur aja, kronologis kasus yang ini jauh bikin gue kesal dan berkaca-kaca bacanya. Terutama bagian-bagian ini:

He told his landlord that she had been shamelessly pursuing him, coming over and wanting to spend the night.

“I was confused and I told the landlord I had been there since the night before, but Daus said he could check with Kris. I panicked and blurted out that I had been raped. It was a reflex.”

“His landlord yelled at me, ‘How can you be so shameless, you are a woman!’” she recounted him telling her.

Victim blaming detected! Ya, victim blaming alias menyalahkan korban adalah hal yang kerap dijumpai di kasus-kasus semacam ini, dimana korban merupakan seorang wanita dan kasusnya biasanya melibatkan perkosaan atau penganiayaan seksual. Silahkan cek tulisan menarik dari Kartika Jahja ini buat tau lebih banyak dan lebih melek soal fenomena victim blaming. Oh ya, victim blaming ini sebenarnya mengakar dari rape culture, sebuah budaya dimana pemerkosaan dianggap sebagai sesuatu yang bersifat susah dihindari dan dianggap normal. Penjelasannya pun bisa kita baca di artikel ini.

“It’s even more challenging than domestic violence, because for our society, a young woman coming over to her boyfriend’s place is seen as asking for trouble. They would say, ‘No wonder she gets beaten up or raped.’”


Dan gue kenal banyak orang yang menegakkan rape culture ini, bahkan masih pake analogi 'kucing mana bisa nolak kalo disodorin ikan asin.' Padahal cowok masih punya yang namanya kontrol diri dan akal sehat sebagai manusia, bukan kucing yang nggak bisa ngontrol naluri binatangnya dan dateng tiap disodorin ikan asin (bahkan gue bingung sama cowok-cowok yang membela diri pake analogi ini, kok mau sih nyamain kaum sendiri sama binatang? Doh.). Pokoknya, hal-hal yang bertentangan dengan norma, adat, agama, seperti berpakaian minim atau mabok dijadikan pembenaran atas tindakan pemerkosaan (atau dalam kasus ini, penganiayaan) itu. Percaya deh, begini-begini gue termasuk cewek yang konservatif dan masih mengikuti sebagian ajaran agama, bahkan gue sebenernya agak risih ngeliat sesama cewek yang kemana-mana berpakaian minim, tapi bukan berarti kalo mereka diperkosa gue cuma manggut-manggut maklum, gue paling nggak suka sama orang yang punya pola pikir rape culture ini, kayaknya getol banget menjustifikasi pemerkosaan.

Kayak kalo dalam kasus ini, si bapak kontrakan malah marah sama si Raras yang mengaku diperkosa (dan terdengar nggak peduli sama kondisi Raras yang terguncang ataupun luka atau lebam yang mungkin keliatan), karena menurutnya itu salah Raras yang nginep di kamar cowok. It's really funny how people tend to focus and put the blame on small things that they considered as 'opposing the norms', but overlooking the main problemwhich is even bigger and brutalthat is not only opposed to the norms, but harmful for other people's mental and physical health. Gue nggak habis pikir.

OBR’s volunteer Icha said dating violence cases rarely go to court and most victims never report them, because a lot of the time they involve pre-marital sex, which is still frowned upon by society.

“Sex is being used to ‘tie down’ a girl to her boyfriend, making her endure being abused, because she feels that having lost her virginity makes her less valuable,” she said.

Penjelasan yang cukup logis dan masuk akal, menurut gue. Sori jadi OOT, tapi nyatanya, nggak jarang gue mendengar kasus semacam ini di dunia nyata: cewek merasa attached dan nggak mau putus sama cowoknya karena cowok itu yang udah merawanin dia. Ya, bener kata artikel di atas, antara 1.) dia merasa nggak berharga lagi dan nggak yakin ada lagi cowok yang mau sama dia pas putus nanti (karena kebanyakan cowok, ironisnya, cuma mau perawan), atau 2.) dia merasa cowok yang merawanin dia itu is The One, Mr. Right, apalah itu yang akan menikahi dia. Dikiranya seks itu semacam garansi atau reassurement kalo dia bakal dinikahi si cowok, mungkin juga cowoknya sebelum atau sesudah merawanin dulu berjanji bakal nikahin dia. Padahal mah.. Nggak tau deh.

Selain hal-hal berbau gender dan seksualitas di atas, ada lagi hal yang bikin gue melongo bacanya. Jadi, pas di pengadilan, district prosecutor (apa sih bahasa Indonesianya, jaksa wilayah?) yang harusnya ngebela dan ngebantu Raras, cuma ngajuin tuntutan enam bulan penjara buat Firdaus! Walah, gimana ceritanya tuh. Bahkan Raras pernah dibujuk buat menyudahi kasusnya karena si jaksa rupanya kasian sama Firdaus. Usut punya usut, si jaksa punya alasan sendiri kenapa dia cuma ngajuin enam bulan. Yaitu..

“The prosecutor told us, ‘I wanted to help you initially, but because of how it’s turned out, I’m having second thoughts. If you had problems with me, you should’ve told me. I regret ever putting Firdaus in jail. He seems like a nice kid, and his supervising professor has guaranteed that he is a good student. I don’t want to ruin someone’s future,’” Icha recounted the meeting.

Before she talked, the prosecutor asked to see their phones to make sure they weren’t recording the conversation, she said. 

Di bagian ini, gue cuma bisa mikir, "What the fuck?" Merusak masa depan orang lain? Wah, gila kali ya. Dikira si korban nggak rusak masa depannya? Gimana sih caranya biar pengen nyelametin masa depan seseorang yang udah ngerusak masa depan orang lain? Bingung gue. Apalagi si jaksa ini juga cewek, yang mungkin harusnya lebih bisa prihatin dan bersimpati sama kondisi Raras. Gue juga penasaran, se 'seems like a nice kid' apa sih si Firdaus ini, sampe orang-orang kayaknya lebih mihak dia? Beneran deh, gue berusaha senetral mungkin waktu baca-baca berita soal kasusnya dulu. Tapi baca kronologisnya, terutama di artikel ini, rasanya kok ya susah buat menyukai sosok Firdaus ini. Nggak tau sih kalo kenal orangnya langsung. Tapi kalopun Firdaus aslinya memang cowok baik-baik, kenapa sampe ngelakuin itu semua, dan nggak cuma sekali? Khilaf? Yeah sure, khilaf sampe dua kali.. Dan kalo dari apa yang gue baca (nggak cuma dari artikel di atas), tentang gimana mereka sampe bisa beradu mulut, reaksinya Firdaus, caranya Firdaus buat nutup jejaknya dia, gue punya impresi kalo si Firdaus ini pada dasarnya emang cukup temperamental dan egonya tinggi. Maaf kalo salah, ini impresi doang lho ya. Soalnya gimanapun media 'kan bisa melintir-melintir fakta, tapi gue memutuskan untuk percaya sama apa yang udah diceritain Raras sih.

Anywayyy, catatan aja: seorang mahasiswa yang baik bukan berarti otomatis seorang manusia yang baik juga, lho. 'Baik' dalam konteks akademis nggak ada hubungannya sama 'baik' secara moral, mental, atau perilaku. Tolong ya, ibu jaksa dan bapak dosbing.

Ngomong-ngomong soal masa depan, gimana kabar Raras dan Firdaus sekarang? Dari apa yang gue baca, Raras masih berjuang dengan kasus kedua meski nggak ada progres. Selain itu, kondisinya seperti ini:

She is taking a semester off this year, because she had had to miss a lot of classes due to the trial. But it isn’t just that – she also doesn’t feel emotionally fit to attend classes. Last semester, her grade point average dropped significantly, as she flunked one class and had to miss many days of school because she was sick.


But the worst part was that she felt she had lost some friends. They shirked from her to try to stay neutral. Behind this, she found out, were rumors circulating about her being a “psycho”, like the girl in the movie Gone Girl who fakes her own death to frame her husband.


These days Raras sees a counselor and a hypnotherapist, and takes medications to recover from her traumas. She still fears being with guys, and when someone raises her or his voice, she easily goes into a panic state.

.....Ya ampun. Gue yakin Raras bisa kuat, tapi dengan keadaannya yang kayak gitu, kok bisa-bisanya masih ada yang memojokkan dia dan malah belain masa depan Firdaus? Rumornya juga parah sih itu, mungkin orang-orang yang bikin rumornya adalah orang-orang yang sama kayak yang nyebut dia 'bitchy'. Mudah-mudahan Raras masih punya temen-temen yang tulus dan suportif, ya.

Lalu gimana dengan Firdaus? Katanya sih, dia di-skors satu semester dari kampus. Tapi..

She is not happy about Firdaus’ academic sanction, because she said it wouldn’t affect him much, as he had already passed his final assignment and had no more classes to take.

Wow. Beruntung banget dan tenang banget hidupnya si Firdaus ini ya kayaknya, masih bisa nyelesain TA di tengah peliknya kasus ini dan bahkan udah bisa wisuda kalo udah selesai skors nanti. Sebagai perbandingan, di kampus lain, kalo lo ketauan bikin video bokep, lo bakal langsung di-DO. So much for social norms, eh?

Btw, Firdaus kena sangsi dari kampus pun baru berbulan-bulan kemudian, setelah berkali-kali dikirimi surat oleh masing-masing pengacara dari kedua belah pihak dan oleh Raras sendiri. Alasannya sih, begini.

“We have no judges, police or prosecutors. Our paradigm is education, so our main goal is to find the truth and impose a sanction in the context of education. That’s why we tend to avoid punishments that are detrimental to someone’s future. It’s not punishing for the sake of punishing,”

Yang gue tangkep adalah: ITB cuma mau ngurusin kasus akademik. Apa itu kesejahteraan mahasiswa? Hahaha. Ini makin memperkuat anggapan kalo ITB itu kampus yang study-oriented banget.

Anyway, kira-kira itu pendapat gue. Seperti yang tertulis di artikel, kronologis ini diceritain dari sudut pandang Raras, dan belum dikonfirmasi kebenarannya ke Firdaus. Mungkin aja ada sisi lain dari cerita ini, tapi tetep aja, yang namanya kekerasan dalam hubungan itu nggak bisa dibenarkan, dan korbannya harus ditolong. Gue mendoakan keduanya aja deh, semoga Raras bisa menjalani hidupnya kembali seperti semula (you go, girl!) dan Firdaus nggak bakal mengulangi perbuatannya ataupun mengganggu Raras lagi. Gue juga berdoa semoga kampus gue tercinta ini cepet-cepet membenahi sistem maupun budayanya, berdoa semoga hukum di Indonesia nggak terus-terusan bisa dipelintir sesuka hati sehingga cenderung tumpul dan tajam ke pihak-pihak tertentu, dan berdoa semoga pola pikir masyarakat yang patriarkis ini nggak terus-terusan terbutakan 'norma' ataupun 'ajaran agama' yang dimisinterpretasikan. Aamiiin.


************************


Interesting side note:
Ironisnya, saat kasus ini kembali muncul ke permukaan–atau mungkin bukan 'kembali muncul' tapi lebih cocok dibilang 'muncul update soal kasus ini' (karena sepertinya orang-orang udah nggak ngurusin ini lagi)muncul film-film semacam Fifty Shades of Grey dan Gone Girl, yang keduanya menampilkan (dan memuliakan) sosok pasangan yang manipulatif sebagai tokoh utama. Yang satu abusive dan control freak, yang satunya lagi sadis dan psikopat. Tebak, mana yang lebih dipuja? Dua-duanya, tapi yang cowok, Mr. Grey, punya fans yang jauh lebih banyak di kalangan wanita. Tebak, mana yang lebih ditoleransi? Lagi-lagi Mr. Grey, karena dia nggak sampe membunuh orang ataupun memfitnah pasangannya, tapi 'cuma' menganiaya Ana secara mental sepanjang film dan bisa dibilang melakukan 'date rape'. Padahal, dua-duanya nggak sehat dan nggak bisa dibenarkan. Begitupun Gone Girl, meskipun gue suka banget sama filmnya, secara nggak langsung film ini bikin orang awam berasumsi kalo cewek adalah pihak yang selalu penuh drama dan gila dalam suatu hubungan. Makanya ada istilah crazy ex-girlfriend, bukan crazy ex-boyfriend. Ya, penggambaran hubungan nggak sehat tapi didistorsi sedemikian rupa agar terlihat unyu ataupun dramatis inilah yang sebenernya berbahaya buat membentuk pola pikir masyarakat. Hal ini bakal gue bahas kapan-kapan di postingan terpisah, tunggu aja ya.

Sunday, March 22, 2015

Fullmetal Alchemist (dan Kenapa Kalian Harus Membacanya)

Belum lama ini, saya baru selesai membaca satu judul manga buatan Arakawa Hiromu yang sempat booming di dekade awal tahun 2000an. Ya, apalagi kalau bukan Fullmetal Alchemist. Sebelumnya, saya cuma nonton animenya (Fullmetal Alchemist: Brotherhood) di Animax waktu SMA, itupun sepotong-potong. Teman saya banyak yang suka, tapi entah kenapa waktu itu saya merasa biasa saja, tidak terlalu tertarik. Lalu bertahun-tahun kemudian, pacar saya yang memang rajin meminjam manga di rental langganannya, datang dengan membawa beberapa jilid awal komik Fullmetal Alchemist—yang selanjutnya akan saya singkat menjadi FMA. Rupanya dia mau membaca ulang FMA yang sebelumnya pernah ia tamatkan. Karena komik-komik yang saya ikuti belum keluar jilid terbarunya di rental, maka saya tergoda untuk ikut membaca FMA, selain karena si pacar yang meyakinkan saya bahwa komik ini keren dan bagus ceritanya.

Lalu tahu-tahu, 27 jilid saya lahap habis dalam waktu sekitar satu mingguan saja. Sungguh, ceritanya adiktif dan selalu bikin penasaran! Saya memang terbilang telat beberapa tahun untuk baru menyukai serial ini, tapi mengutip komentar seorang teman saat ia mengetahui saya yang (juga) baru mengikuti dan menyukai komik Monster-nya Naoki Urasawa: tidak ada kata telat untuk mengikuti karya masterpiece.

Maka kali ini, saya ingin menulis beberapa alasan mengapa kamu—yang mungkin lahir pada akhir tahun 90an atau awal 2000an dan lebih akrab dengan anime seperti Attack on Titan, Sword Art Online, dan sejenisnya—sangat disarankan untuk membaca serial ini, setidaknya sekali. Oh ya, saya akan mencoba meminimalisir kadar spoiler disini, karena tulisan ini tidak hanya dibuat untuk membuat penggemar lama FMA mengangguk setuju dan bernostalgia namun juga untuk menarik minat pembaca-pembaca angkatan muda, hehe.


Fullmetal Alchemist bercerita mengenai Elric bersaudara, Edward dan Alphonse. Keduanya merupakan ahli alkimia berbakat yang masih belia, dan hal ini tidak lepas dari kejadian yang menimpa mereka semasa kecil. Saat ibu mereka—satu-satunya anggota keluarga yang mereka miliki—meninggal, Ed dan Al berusaha menghidupkannya kembali dengan melakukan transmutasi manusia, salah satu praktik alkimia yang dilarang keras oleh negara. Sayangnya, percobaan mereka berakhir tragis. Alih-alih menghidupkan kembali sang Ibu, Ed sang kakak harus kehilangan tangan kanan dan kaki kirinya, sedangkan Al sang adik malah kehilangan seluruh tubuhnya dan jiwanya harus 'hidup' di sebuah baju zirah kosong. Sejak saat itu, Ed dan Al pun mencari cara untuk mengembalikan tubuh mereka seperti semula, yang mereka yakin bisa terwujud dengan Philosopher's Stone, batu bertuah legendaris yang konon memiliki kekuatan yang sangat besar dan memungkinkan seorang ahli alkimia untuk membuat apapun. Untuk memudahkan pencariannya, Ed juga mendaftar untuk menjadi ahli alkimia negara yang mempunyai akses lebih luas (dan dana, tentunya) untuk melakukan riset dan penelitian dalam dunia alkimia. Karena lengan dan kakinya yang kini dipasang prostetik berbahan automail (semacam besi), Ed diberi gelar "Fullmetal Alchemist". Pencarian mereka akan Philosopher's Stone pun dimulai.

Sekilas membaca komik ini, mungkin kita akan mengerutkan dahi karena belum apa-apa, pembaca rasanya sudah disuguhi hal-hal berat seperti hukum-hukum alkimia, Philosopher's Stone, transmutasi, dan lain sebagainya. Tapi jangan buru-buru mengecap FMA sebagai 'komik berat', karena nyatanya tiap filosofi atau teori yang sebenarnya berat, dijelaskan dengan cukup sederhana dan mudah dipahami orang awam disini. Bahkan jika kamu cermat, sebenarnya banyak pesan tersembunyi di balik filosofi dan teori di sepanjang komik ini, salah satunya transmutasi manusia yang berakibat fatal bagi Elric bersaudara, karena jika ditilik secara biblikal, mereka telah dianggap mencoba melangkahi teritori Tuhan yang mengatur kehidupan dan kematian manusia. Ya, FMA mampu mengemas hal-hal semacam itu menjadi elemen komik shonen yang menarik tanpa terasa sok pintar atau sok berat.

Poin utama kelebihan serial ini, tentunya, adalah plot ceritanya. Awalnya, saya sempat ragu membaca FMA karena malas menemui tipikal plot komik shonen yang terlalu panjang, dengan banyak arc repetitif, yang ceritanya kadang terasa dipaksakan karena sudah terlalu lama berlanjut. Namun pacar saya menepis kekhawatiran saya dan berkata bahwa cerita di FMA ini sangat linear, tanpa filler, dan cukup berakhir di satu arc saja. Maksudnya, ceritanya konsisten dan tidak melenceng kemana-mana. Dari awal hingga akhir, ya musuhnya si itu-itu saja. Bukan seperti komik shonen lain yang seringkali terbagi menjadi beberapa arc dengan cerita dan tokoh antagonis yang berbeda namun dengan skrip yang mirip-mirip, demi mengalirnya profit. Untungnya, pacar saya benar, komik ini tidak terjebak dikotomi komik shonen yang klise, membuat saya—yang gampang bosan atau terdistraksi saat membaca serial panjang dengan progress lambat—betah mengikuti FMA. Premisnya pun, meski sekilas nampak one-track dan tidak terlalu istimewa, perlahan-lahan berubah rumit seiring perkembangan cerita. Ya, pada akhirnya FMA memang bukan sekadar tentang Elric bersaudara yang berkelana mencari Philosopher's Stone. :-P

Well, elemen-elemen shonen yang kental memang masih banyak ditemui disini, misalnya tema persahabatan, pembalasan dendam atas kematian seseorang, perebutan kekuasaan, dan lain-lain. Namun menurut saya, FMA ini agak dark untuk ukuran komik shonen. Bahkan di 5 jilid pertama, emosi pembaca sudah 'dihajar' habis-habisan. Melalui racikan jenius Arakawa, kita diajak untuk mengikuti Elric bersaudara dalam pencarian mereka akan Philosopher's Stone. Kita akan sama-sama diajak menghadapi pilihan-pilihan sulit, kemunculan tokoh-tokoh yang entah akan membuat kita bersimpati, jatuh cinta, atau sangat benci, fakta-fakta tak terduga, yang semuanya kelihatan telah direncanakan dan disusun rapi sejak awal komik ini dibuat. Apresiasi untuk Arakawa yang berhasil membuat plot yang konsisten dan rapi!

Tadi rasanya saya menyebut 'kemunculan tokoh-tokoh yang entah akan membuat kita bersimpati, jatuh cinta, atau sangat benci'. Tapi FMA ini adalah tipe komik yang tokoh-tokohnya tidak redundan; tidak terlalu banyak hingga saya yang pelupa ini tidak kesusahan untuk menghafal nama dan wajahnya (terima kasih untuk gaya menggambar Arakawa yang tokohnya tidak mirip satu sama lain), namun tidak terlalu sedikit juga hingga menjadikan komik ini monoton. Tokoh-tokoh yang ada kemunculannya begitu natural, dan saya pribadi tidak merasa ada tokoh tertentu yang menggangu keseimbangan cerita, terlalu deus ex machina, atau mengganggu secara umum—tahu kan, di komik biasanya ada tokoh tertentu yang menurut kita mengganggu, mungkin karena terlalu berusaha untuk ditampilkan sebagai tokoh comic relief yang selalu muncul meski perannya tidak signifikan dan tidak terlalu lucu? Sebenarnya, di FMA juga ada tokoh seperti itu, namun keberadaannya masih terbilang wajar dan justru kemalangannya membuat pembaca tertawa, alih-alih kesal.

Saya pribadi belum benar-benar punya tokoh favorit, tapi saya menyukai tokoh Al, si adik dari Elric bersaudara yang sifat lembutnya sangat kontras dengan kakaknya, serta Mayjen Armstrong dari benteng Utara, yang digambarkan sebagai sosok wanita sangat tangguh dan tegas yang mahir dalam berkelahi menggunakan pedang anggar. Oh ya, perlu digarisbawahi bahwa tokoh-tokoh wanita disini, meski memiliki karakter dan penampilan fisik yang berbeda-beda, semuanya ditampilkan dengan keren dan kuat dengan caranya sendiri—tidak ada tokoh damsel in distress ataupun 'tokoh wanita lemah yang ada demi menjadi pemanis dan mendampingi sang pria pemeran utama yang dicintainya'. Meski saya bukan feminis, saya suka sekali dengan penggambaran wanita kuat semacam ini. Ngomong-ngomong, nilai plus dari saya pribadi untuk serial ini karena Arakawa-sensei ternyata adalah seorang wanita. Ya, ia adalah salah satu dari segelintir kecil komikus wanita yang berhasil menembus kerasnya kompetisi komik shonen yang segmentasinya diperuntukkan untuk pembaca laki-laki dan mayoritas dibuat oleh para komikus pria.

Saya sebenarnya gemas sekali ingin menyisipkan spoiler, tapi begini saja deh: ending komik FMA adalah tipe ending yang cenderung membuat hati puas dan meninggalkan impresi yang dalam, bukan tipe ending yang berusaha tampil terlalu subtil atau menggantung. Sungguh, saya tidak menyesal membacanya hingga selesai. Jujur saja saya bukan penggemar berat komik shonen, tapi untuk FMA, saya berani memberi nilai tinggi. Tidak heran jika serialnya cukup mendunia, karena memang kualitas yang ditawarkan pun sebanding. FMA menawarkan cerita yang menarik (tentang alkimia, tema yang jarang diangkat dalam komik atau manga saat itu, dan memiliki unsur fantasi berbumbu sains) dengan setting yang menarik (di sebuah negeri bernama Amestris, yang mirip dengan sebuah negara di Eropa pada era perang, hanya saja dalam alternate universe). FMA menunjukkan bagaimana sebuah komik shonen dapat survive tanpa harus memenuhi tuntutan dan ekspektasi pasar. Kesuksesannya pun dapat dibuktikan dengan dibuatnya dua adaptasi anime dari komik ini, yaitu Fullmetal Alchemist dan Fullmetal Alchemist: Brotherhood (dimana yang kedua lebih mengikuti cerita asli komiknya). Selain itu, beberapa judul game dan movie tentang FMA pun telah dirilis, menandai kesuksesan komik dan animenya.

Jadi? Masih merasa belum tertarik untuk membaca FMA? Tenang, saya pun tidak suka dalam sekali lihat. Dan seperti yang saya sampaikan sebelumnya, tidak usah merasa terlambat untuk baru mengikuti serial ini, karena saya pun mungkin masih tertarik untuk membicarakannya 5-10 tahun mendatang. :-)