Monday, June 29, 2020

Penting Nggak Penting: "Sori, Chat-nya Tenggelem"

Hai, kembali lagi bersama saya di sini~

Kali ini gue mau coba bikin 1 segmen(?) tetap untuk blog ini, yang sepertinya akan gue panggil "Penting Nggak Penting". Sesuai judulnya, segmen ini bakal ngebahas hal-hal yang sebenernya penting nggak penting, semacam shower thoughts atau hal-hal selewat lainnya tapi lebih dielaborasi dalam bentuk postingan blog. Isinya mostly thought piece gue dari hasil observasi atau pun ngobrol sama orang-orang. Tujuannya? Well, biar gue lebih terpacu buat balik sering nulis aja sih.. Sesepele apa pun topiknya.

Daaan di post perdana ini, mari membahas satu fenomena yang sering dialami generasi 2.0 ini: chat yang lamaaaa banget dibales lawan bicara dengan alasan "chat-nya tenggelem".

Chat kok tenggelem, emangnya chat kamu kapal nelayan ilegal di masa jabatan bu Susi Pudjiastuti????
Pasti kita minimal sekali pernah dapet excuse kayak gini, entah itu dari pacar, gebetan, temen, atau rekan kerja. Atau bahkan kita sendiri yang pake excuse ini? Bisa aja.

'Chat tenggelem' bisa diartikan chat-nya kegeser sama chat-chat lain yang lebih baru. Jadi letaknya di bawah banget dan kalo buka aplikasi chat-nya nggak langsung keliatan. Biasanya terjadi kalo traffic chat lo lagi rame banget, entah karena personal chat atau group chat.

Tapi beneran nggak sih, chat tenggelem adalah excuse yang valid?

Nggak usah dibilangin juga pasti kita sadar lah ya kalo di sisi penerima pasti lumayan bete dapet excuse begitu, apalagi kalo sering terjadi atau isi chat-nya penting

Begini lho teman-teman, untuk menghindari 'chat tenggelem', ada yang namanya fitur pin chat. Fitur ini bisa kamu temukan di beberapa chat messenger yang mungkin sering lo pake, kayak LINE dan WhatsApp. Tanpa masuk ke dalam chat-nya, cukup tahan di salah satu chat yang mau lo pin, nanti muncul opsi Pin Chat (LINE) atau ikon thumbtack/paku payung di kanan atas (WhatsApp). Klik aja dan chat lo dengan orang/grup tersebut akan selalu di atas walaupun nggak ada chat baru. Nggak akan tenggelem! Dan seinget gue bisa pilih lebih dari 1 chat juga.

Selain itu, ada juga fitur archive chat sama delete chat. Archive chat akan 'menyimpan' chat lo yang lagi nggak aktif, sehingga nggak akan menuh-menuhin apalagi nenggelemin chat lain. Tapi kalo ada chat baru dari chat yang lo arsipin tersebut, baru deh dia nongol lagi di paling atas. Sedangkan delete chat, well, I'm sure you know what it does: ngapus chat. Bedanya, archive chat cuma dipindahkan sementara, lo bisa kapan pun balikin chat-nya ke tab aktif, dan history chat-nya pun masih ada. Tapi kalo delete chat, dia baru akan muncul kalo ada chat baru, itu pun history-nya ilang semua. Kedua fitur ini juga agaknya berguna untuk admin online shop atau lo lo pada yang punya banyak chat yang bersifat transactional atau harian yang kurang penting sehingga hanya akan menuh-menuhin kalo dibiarin lama-lama.

Nah, karena developer app-nya juga udah capek-capek bikin fitur-fitur di atas, coba deh dipake sekali-sekali!

Dan lagi, gue menemukan hal menarik tentang WhatsApp. Kalo ada chat tenggelem yang lupa dibuka, terkadang chat ini bakal muncul ulang (atau nyangkut?) di notification bar. Jadi mau nggak mau, harusnya kita bakal notice lah at one point kalo ada chat yang belom dibuka.

So, alesan 'chat tenggelem' ini cuma akan valid kalau:

1. Lo admin online shop yang seharinya bisa menerima puluhan bahkan ratusan chat dari orang yang berbeda. Nggak ada yang bisa lo prioritasin, kalopun ada jumlahnya juga tetep banyak dan susah di-pin, so chat tenggelem di sini jatuhnya valid. But still, use a better wording than "maaf kak chat-nya tenggelem" because yes we know you're busy, but we're supposed to be important to you too.

2. Lo gaptek, dan belum jago mengoperasikan chat messenger apalagi tau-tauan tentang fitur pin chat. Tapi kecuali lo berusia 50 tahun ke atas sepertinya hal ini jarang terjadi, apalagi untuk pakai fitur sesimpel pin chat.

3. Lo.. Nggak ngeprioritasin lawan chat lo aja, sih. Oke, mungkin lo sibuk, kerjaan nggak cuma balesin chat doang. Trus lo punya banyak group chat yang aktif, jadi kemungkinan chat tenggelem itu gede banget. But still, if you prioritize someone (or something) enough, saat ada waktu luang pasti lo akan ngecek chat-nya. Bukan update sosmed trus ketika ditegur jawabnya "sori, chat-nya tenggelem". Hehe. Gue pernah berada di posisi penerima excuse kayak gitu, dan gue juga pernah di posisi yang nyuekin chat orang dengan sengaja. But no, I don't think I've used that kind of excuse. Kalo emang nggak tertarik sama chat-nya, gue nggak akan bikin excuse lama bales to make myself look good (and busy). Jadi kalo lo emang sesibuk itu, please pin chat dari pasangan/grup/pihak yang harusnya lo anggap paling paling paling penting.

"Tapi gue beneran sibuk, ngecek hp aja jarang."

Oke, then use a better excuse than "chat tenggelem" maybe? Bilang aja kalau emang jarang buka hp atau sibuk ngerjain yang lain jadi nggak megang hp. Even better, pas masih chat-chatan, langsung bilang aja: "sori ya gue lagi ribet XXX nih jadi balesnya bakalan lama" or something like "eh gue mau YYY dulu nih, nanti gue chat lagi jam sekian ya". It sounds a LOT better, lo akan terdengar lebih bertanggungjawab dan lawan chat lo tau what to expect, jadi nggak perlu nunggu-nunggu nggak jelas. Just put yourself in others' shoes and don't be an asshole for once, okay?

Yak, sekian Penting Nggak Penting dari saya. Penting atau Nggak Penting? You decide~

Tuesday, April 28, 2020

The Art of Sims House Building

If I ask, what do you love the most about The Sims? Most people will say it's the building part, if not for its interesting life simulation concept. I was never really into building lots for my Sims, up until The Sims 3 I was mostly satisfied with any pre-existing lots. Sometimes I would try to build my own, of course, but looking back they were cringey and ugly as hell.

But then The Sims 4 came along and makes the building part more interesting! It's such a letdown that Create-a-Style is no longer in the game, but the new game system kinda makes up for it. So now, building lots is also my favorite part. If you can't spare 6 hours to create a perfect lot for your sims, you can simply download some beautiful lots from the official gallery or any third-party resources out in the net.

I'm not a great builder per se, but seeing all the speed build videos and all of those hours spent on building my own houses, I can give you some tips to be better at building houses in The Sims 4.

Start with themed lots
Are you going to make a minimalist house? A vintage victorian house, perhaps? Or a homey lodge? Before building, decide on one theme. One room is futuristic, the next one is a horror themed? Of you course you can always go with more than one and I don't forbid you to do so, but it's simpler to start with just one before moving on to fusion themes.

Use more than one pattern or color on a single room.
I used to only use one pattern of wall or floorings per room. But if you do it right, you can find a beautiful combination that your room looks like a real room instead of a boring block of colors.

Play with size
Yes, you can resize objects in The Sims 4. And sometimes objects are better in different size. Take paintings for example. When you enlarge it, it can fill up the room more efficiently and create a statement, rather than clumping up a group of small disorderly paintings together on a single wall (not that I'm against it though, just an example). Other things that can effectively resized for the aesthetic purpose are toy cars that act as a real car in the front of your house, rugs, rocks. Note that even after you make it bigger the placement size will stay the same, so you don't have to worry if it would block things around it.

Use Move Objects cheat
Yes, don't be afraid to use this cheat! In fact, if you want your lots to look realistic and has a lived-in feel, use "bb.moveobjects" on when placing clutters. That way, you can place anything anywhere.

Mind the flow!
Before calling it final, ask yourself: is this suitable for my Sims? Can they live or do activities here? If it's too cluttered, too narrow, too wide, etc. you might wanna adjust it so the flow of your game will be much simpler. I mean, I think I don't want my Sims to take 1 hour only to walk from their room to the front door. Be ambitious, but always remember to keep it realistic! If you checked the list, then good. That means you're ready for the next step which means..

Playtest your lots
Yes, do this before uploading your creation to the gallery. No matter how beautiful or unique your lot is, eventually it would be used with Sims in it. So make sure they're able to navigate or interact with objects properly. Just place any household there or travel there and turn off all the cheats. If your Sims can perform their activities smoothly, then you're clear to go!

Browse for inspiration
Watch building videos, inspect other Simmer's creations, look for room or lots inspiration that is possible to implement in the game. Only then your aesthetic and building sense will improve over time.

And good news: the terrain tools are making a comeback in the latest Sims 4 patch! Not sure why it's not there in from the beginning, but it definitely will step up your house building game. Now you can create multi-tiered properties and more thematic houses (vampire manor up on the hill, anyone?).

Okay, that's all from me! Hope this helps. Maybe someday I will upload some screenshots of my house creations here. Until then, sayonara~

Wednesday, February 5, 2020

Balada Sang Gadis Pemimpi

Sang Gadis merias wajahnya. Bagaikan ritme musik yang jutaan kali dimainkan, jari-jari lentiknya tahu harus ke mana selanjutnya: alis, mata, bibir, pipi. Nyaris tiap jengkal wajahnya ia perindah dengan warna dan dimensi, namun tidak berlebihan hingga mengundang tanya. Ia hanya hendak pergi bekerja, bukan menghadiri pesta. Dalam hitungan menit, sang gadis siap menghadapi dunia.

Sang Pria adalah rekan kerjanya. Tidak terlalu dekat, tapi cukup dekat untuk bertegur sapa, sesekali bertukar tanya dan tawa. Pagi itu Sang Pria bersandar di kursinya, jarinya mengetuk sesuai irama lagu entah apa yang ia dengarkan di laptopnya lewat penyuara telinga. Wajahnya tampak serius, dan tak seperti biasanya, ia mengenakan kemeja. Kemeja rapi, layaknya sihir, seringkali menciptakan efek memikat pada lelaki mana pun. Tak terkecuali mata Sang Gadis yang merasa dimanja.

Sang Gadis tiba dan menyapa, di bibirnya tersungging seulas senyum tipis. Sayang, Sang Pria yang telinganya ternyata sedang dijejali oleh raungan musik metal, tentu tidak menggubris. Sang Gadis menunduk malu, berlalu menuju tempat kerjanya.

Di antara bilik-bilik serta meja kursi yang beradu kelabu, bagi Sang Gadis, Sang Pria adalah mataharinya.

Hari semakin sore. Sejak pagi, sudah terlanjur tertanam satu imajinasi di kepala Sang Gadis: ia dan Sang Pria akan menonton sebuah film di bioskop malam ini. Duduk berdampingan, tertawa, dan berdiskusi setelahnya. Jantungnya berdegup, kedua matanya sesekali mencuri pandang pada Sang Pria dengan gugup. Ia tampak manis hari ini, batinnya. Kadang Sang Gadis berharap terlahir lelaki, karena pikirnya melakukan pendekatan duluan pada pujaan hati tidak akan sesulit ini.

Berulang kali Sang Gadis mencoba mereka percakapan fiksi dalam kepalanya. Merangkai kalimat-kalimat kasual untuk sekadar berbasa-basi dengan Sang Pria dan melancarkan misi. Haruskah aku mengajak yang lainnya? Sempat terbersit di benak Sang Gadis. Mungkin berdua saja terlalu berlebihan. Tapi Sang Pria dalah tipe yang nyaman berdua, bertiga, bertujuh, dan seterusnya. Jumlah massa bukan masalah.

Setelah perdebatan panjang antara ia dan kata hatinya, menelan bulat-bulat deretan kecemasan dan kemungkinan yang hanya akan menghantui, Sang Gadis akhirnya memberanikan diri. Hidung kecilnya segera disambut wangi kesturi bercampur kopi. Sang Pria sedang menyesap kopi instan hangat di gelasnya saat Sang Gadis hadir di sebelahnya. Mengajaknya berbasa basi seputar pekerjaan hari ini, seputar otak mereka yang butuh relaksasi, seputar film yang sedang tayang, dengan senyum lebar terbentang tanpa paksa di antara pipi manisnya. Dan bagai aktris yang telah mengucap dialognya ribuan kali, Sang Gadis mengutarakan keinginannya.

Sang Pria tersenyum hangat dan menjawab dengan sebaris kalimat. Namun yang Sang Gadis dengar hanyalah kata "maaf" dan "ada janji", memecahkan lamunan akan duduk berdampingan, tertawa, dan berdiskusi setelahnya.

Sang Gadis pulang dengan gontai. Otaknya berusaha memaklumi yang baru saja terjadi, tapi hatinya mengkhianati. Senyum yang merekah di wajahnya tadi kini tunduk pada gravitasi. Sisa keberaniannya sudah lenyap ditelan bumi.

Malam tiba. Layaknya jutaan gadis bosan lainnya di Jakarta, ia membuka sosial media. Berharap ada sesuatu yang dapat menghiburnya di antara wajah-wajah terpoles, jepretan foto yang tertata rapi, dan lengkingan suara teman-teman yang menyelingi.

Tapi lagi-lagi Dewi Fortuna tampaknya enggan berpihak pada Sang Gadis, karena yang ia dapatkan malam itu adalah foto secarik tiket bioskop beserta ulasan singkat untuk film yang ingin ia saksikan dengan Sang Pria. Hanya saja, Sang Pria sendiri yang mengunggahnya. Tidak jelas menonton dengan siapa, bukan dengan Sang Gadis tentunya. Semangat Sang Gadis menguap seketika. Alih alih menonton film idaman, malam itu ia sibuk menonton skenario demi skenario buruk terbaru yang ditulis, diwujudkan, dan ditayangkan tanpa henti oleh Sang Gadis sebagai sutradara dalam pikiran.

Esok pagi, Sang Gadis memulai rutinitasnya. Alis, mata, bibir, pipi. Beri warna, ciptakan dimensi. Kali ini dengan lebih sedikit usaha karena semangatnya belum juga tiba. Perjalanan ke kantor yang hanya butuh waktu 30 menit terasa bagai 3 jam untuk Sang Gadis yang memulai hari dengan bermuram durja.

Sang Gadis menginjakkan kakinya di lantai 20 yang selalu ia nantikan selama setahun terakhir, kecuali saat itu. Kedua matanya menyapu dan mengintai seluruh ruangan, tanda-tanda kehadiran Sang Pria tak ditemukan. Yang ada hanyalah senyum sumringah dan gelak tawa beberapa rekan kerja yang duduk di seberangnya. Salah satunya seorang gadis muda yang bahkan tetap lebih cantik meski riasan tak menghiasi wajahnya. Sayangnya rasa bahagia dan kecantikan bukan virus menular, karena Sang Gadis sangat bersedia dijangkiti olehnya.

Di atas sana, Dewi Fortuna terbahak-bahak mendengar keinginannya.

Percakapan demi percakapan terus bergulir dari mulut para rekan kerja. Sang Gadis tiba-tiba menyesal telah memasang telinga dan bukan tembok kedap suara, karena bisik-bisik yang ia dengar selanjutnya nyaris membuatnya ternganga.

Bersamaan, Sang Pria melangkah masuk ke ruangan dengan kaus hitam andalan. Percakapan dan gelak tawa sekejap tak terdengar, berganti dengan tegur sapa bernada ceria.

Sang Gadis mengalihkan pandangan, dan jika bisa, ia juga ingin mengalihkan pikiran dari dunia kecilnya yang perlahan diruntuhkan realita. Hatinya kini divonis positif—positif merana. Penyebabnya? Teman nonton Sang Pria semalam tak lain adalah si gadis muda yang cantik tanpa riasan. Hanya berdua. Begitu yang ia dengar tadi.

Di antara bilik-bilik serta meja kursi yang beradu kelabu, bagi Sang Gadis, Sang Pria seharusnya adalah mataharinya.

Tapi tidak hari itu, karena hujan mendadak turun dengan derasnya.



Jakarta, dini hari. Tidak terinspirasi dari kisah nyata.

Thursday, January 23, 2020

The Tale of Modern Day Cinderella

The clock strikes 12.

Cinderella hurries home, clutching her tote bag in one hand and her phone in another.
Except she didn't wear fancy ball gown and leaving one of her glass slippers,
But t-shirt with jeans and leaving a mound of work to be done tomorrow.

As the elevator dings,
She became aware of her surroundings.

No enchanting castle and handsome prince in sight,
Only dimly lit hallways and patrolling security guy as far as the eyes can see.

As she reached the entrance, some people were passing by.
Scantily clad women with pungent powdery smell and Caucasian men laughing merrily into the bar,
For a party that is just yet to begin.

It was 12 past 5.
Cinderella is now just a poor girl with poor life choices.
The more she thinks, the more tears welling up.

She caught a glimpse of her reflection earlier,
And she realized she's no longer the princess when she first came here,
Just a girl with bags under her eyes from all the nights of wringing her brain dry.

Cinderella's carriage pulled up and took her home,
Made up of no pumpkin and mice,
While the driver said,
Rp95.000 with a tip would be nice.