Monday, February 27, 2017

Cessi Talks About.. Marriage

Awal tahun 2017, volume undangan kawinan yang mampir luar biasa.

Terhitung sampai bulan Februari ini ada 6, dan semuanya orang yang bener-bener gue kenal, bahkan dua di antaranya adalah sahabat deket gue. Seiring meningkatnya kabar tentang kawinan temen yang mampir ke telinga, tingkat stress gue juga cukup meningkat. Apalagi kalau sampai mampir ke telinga nyokap, duh! Pertanyaan yang dihindari sejuta umat udah pasti keluar, nambah-nambahin tekanan sosial. Dan oh, kalo boleh jujur, gue sebenernya males sama yang namanya dateng ke kawinan. Kudu mikirin make baju apa, aksesoris apa, sepatu apa, make up gimana, rambut gimana. Udah tau gue wardrobe minimalis gini, nggak bisa make up pula. Yang bikin happy paling kalo ternyata kita bisa tampil cantik, ada bahan buat ngepost di Instagram, trus makanannya enak, trus bisa ketemu temen-temen deket yang emang obrolannya bukan basa basi.

..Dan gue baru ngomongin acara pernikahannya dari sudut pandang pengunjung. Belum kalo kita yang jadi mempelainya. Apalagi gue yang orang Jawa dengan keluarga konservatif ini pastilah bakal dituntut buat bikin pesta adat yang luar biasa rempong. Bayanginnya aja gue super males, asli. Kalo boleh sekadar nikah di KUA trus gelar pesta kecil-kecilan buat orang-orang terdekat, gue mau banget deh. Hemat uang juga, toh? Masalahnya, perkara acara pernikahan bukan cuma urusan kedua mempelai, tapi juga orang tua kedua belah pihak. Dan yang namanya orang tua.. You know lah.

And then, what comes after the wedding day? Oh, banyak. Banyak tanggung jawab. Makanya, buat gue, pernikahan salah satunya adalah ritual yang menandakan kalo lo. Udah. De. Wa. Sa. A full-fledged, functional adult and a member of society (gila ya, nulis postingan ginian aja gue udah merasa dewasa banget). Inilah kenapa gue nggak habis pikir sama orang-orang yang nikah muda karena kepengen aja, apalagi kalo cuma gara-gara tren (nggak tau sih beneran ada apa nggak). Buat gue pernikahan bukan cuma urusan ikat mengikat, sayang menyayang, halal menghalalkan. Yang namanya pernikahan kan ya, lo bikin satu keluarga baru. Ibaratnya lo dilepas ke laut naik kapal cuma berdua sama pasangan, dan kalian adalah nahkodanya. Lo nggak tau kondisi di laut itu kayak apa. Lo nggak tau apakah lo dan pasangan lo ternyata bisa menyetir kapal apa nggak. Lo nggak tau apakah lo dan pasangan lo akan tiba-tiba capek atau bosen di tengah jalan apa nggak, siapa tau ternyata pasangan lo lebih suka menyetir pesawat atau pengen balik ke darat. Belum lagi kalo lahir 'awak kapal', beban lo bertambah karena lo bertanggungjawab sepenuhnya akan hidup dan tumbuhnya awak-awak kapal lo ini.

Mungkin gue terlalu banyak mikir atau mengonsumsi pop culture barat, tapi gue akui, gue agak takut sama yang namanya menikah. Kalo gue membayangkan diri gue yang sekarang sebagai seorang istri, jujur aja, belom layak bos (yessir, I'm still working on it!). Masih banyak kekurangan gue. Ngurus hidup sendiri aja belom becus, gimana mau ngurus hidup suami (dan kemudian, anak)? 

Banyak yang perlu dipikirin matang-matang sebelum menikah, dan buat gue, deadline-nya mungkin sekitar 4 tahun lagi, bisa jadi lebih cepat malah, tergantung calon. So, in the meantime, gue harap gue bisa mengubah mindset gue soal ini. Dan tentunya.. Bisa jadi istri yang baik, karena gue nggak pengen menyusahkan suami dan keluarga. Dan juga, setelah menikah nanti, semoga pernikahan gue akan baik-baik saja sampai seterusnya.

Amin? Amin.

Makasih udah mau baca racauan cewek yang nggak bisa dewasa ini.

Friday, November 25, 2016

Do What Your Love, Love What You Do

Hi, it's been a while since my last update!

..Simply because I don't know what to write and when. It's actually pretty ironic because now, drum roll please, I write for a living. Yep, that's right, I've decided to pursue a career in copywriting, and now I'm a full-time Copywriter in a local digital agency. Yay for me!

Few months after my graduation, I worked as a Content Writer (and a bit of Copywriter) intern in a local e-commerce startup. Why internship, though? With my degree, I could've applied for another available full-time position, right? (Just so you know, I had to turn down a full time position for this internship)

Well, the thing is, I want to experience first how does working feel like without really working, if you catch my drift. The field I'm aiming for is totally different from my studied major so I don't want to take a wrong step, I want to know more about it. Also, I didn't do internship back in uni and I thought, what's the harm in applying for internship position after you graduate?

Fast forward, I've done my 3 months internship period and I didn't make it to the full time position (I was actually aiming for it). That's when I make the decision that I should work in advertising agency, which is one of my old dream job. I applied here and there, and I came to this particular place. A local digital agency, located not too far South, unlike the other agencies I was applying at the moment. A friend of mine kind of introduce me to this digital agency before, and after a quick look at their website, I think this is it, I want to be a part of them.

I was skeptical at first when I applied. I mean, I don't know whether the "copywriter vacancy" is still valid or not because it was posted months ago, but hey, they contacted me! And I got the opportunity to be interviewed by my current Creative Group Head and Creative Director. I was nervous because both of them are seasoned player in this field, and I'm fucking green. But the interview went so well, though they give me an assignment as a part of my assessment. The assignment, thankfully, was rather simple one and I could easily nail it (LOL). Few days after I submitted my assignment, I was contacted again to work for them. Woo-hoo!!!

I know I've been here just for a month, but I love this place already. The office might not be as cool and hip as my internship office, but it's a lot closer to home so it only took about 30 minutes by car to and from there, 45 minutes tops. It matters a lot because the time you spent on the street can be reaaaaally tiring, just like what I've experienced in my internship place where I could spend 2 or even 3 hours just to get home. Though I'm not driving, it drained my energy and I got sleepy easily. Okay, back to my current office. Not only the location, I also LOVE the people. I mean, I haven't get to know every single of them, but I can tell that they're generally nice people, not the kind that rat out each other and talk bad behind your back. Basically, the office politic is close to zero. There are cliques but the kinds that blend in flexibly with other cliques, so it's all good. No seniority as well! Maybe it's just me but I can talk with ease with co-workers who's like, 6-10 years older than me. Even I dropped the "Mas" and "Mbak" prefix with some of them lol.

And the job itself? Oh, I think this is really my true calling! I'm glad I decided to work in an agency instead of client's side because that would be boring, and I've realized it just now. Copywriting is something everyone can do easily, but there's certain art to it, how to make your words effective, and that's the challenge. I'm reaaaally really thankful they want to take me and my green status as their new Copywriter.

Despite the Iong working hours and client's endless requests, I love my job. I love my workplace.

I wish things would stay this way.

Thursday, September 1, 2016

17 Hal yang Ingin Dilakukan Sebelum Lulus Kuliah: CHECK!

Hampir lupa. Dua tahun yang lalu, gue pernah nulis postingan yang judulnya "17 Hal yang Ingin Dilakukan Sebelum Lulus Kuliah" (silahkan klik judul untuk liat postingan aslinya). Dan gue udah lulus sejak April kemaren, tapi gue belom sempet ngecek mana-mana aja dari list itu yang udah gue lakukan. Maklum, namanya juga hampir lupa. Maka dari itu, gue mau ngecek daftarnya sekarang. Apa aja ya yang berhasil gue lakukan?


1. Nonton SORE manggung live di Bandung
Status: BERHASIL!
Nggak lama setelah postingan itu gue buat, SORE kebetulan banget manggung di satu acara di UNPAR, which is lumayan deket dari teritori (azek teritori), dan pacar juga ngajakin nonton. Jadilah kita nonton SORE manggung live, hehe. Ada sedikit cerita lucu, pas nonton SORE gue hampir muntah dan kolaps gara-gara pusing banget belom makan malem. Akhirnya gue melipir ke luar area dulu buat beli ganjelan perut dan nunggu kondisi tubuh membaik. Kombinasi perut kosong + suara jedam jedum + banyak orang itu sangat mematikan ternyata.

2. Dapet beasiswa
Status: Nggak berhasil :(
Sayangnya gue terlalu ter-occupied sama hal-hal lain dan nggak sempet cari-cari atau apply beasiswa. Bukan prioritas pertama juga sih, but still, lumayan banget nggak sih uangnya bisa dialokasiin kemana-mana?? Yah, mungkin kali ya kalo misalnya S2 gitu. Aamiiin.

3. Ikut pameran yang sifatnya open submission
Status: BERHASIL!
Gue akhirnya submit karya pra TA ke pameran How To Draw #2 di Gedung Indonesia Menggugat setelah nggak submit di pameran pertama. Hehehe, lumayan lah meski nggak serame yang pertama pamerannya. Dan kalo boleh diitung sih, minggu lalu gue juga ikut mini exhibition-nya Lemari Bukubuku. Jadi gue ngegambarin portrait pendonor buku yang fotonya udah dikasih sebelum hari H, dan pas hari H gambar gue (nothing too extraordinary, cuma ukuran A5 juga) dipamerin di acara bareng sama puluhan karya lain. Tetep seneng sih hehehe.

4. Submit tulisan ke media
Status: Nggak berhasil :(
Haha, alasannya sama kayak poin nomer dua. Gue emang nggak submit tulisan ke media beneran, tapiii gue udah bikin sekitar 3 tulisan buat majalah internal unit gue. Itu diitung nggak ya? Tapi bisa dimasukin porto kok. Dan berkat itu sekarang setelah lulus gue jadi intern content writer di salah satu startup juga, tulisan gue di-publish tiap minggu, jadi nggak gagal-gagal amat lah ya~

5. Ngasdos
Status: BERHASIL!
Yes! Dan ini sudah gue jelaskan di postingan ini. Intinya sih gue seneng dan bersyukur udah nyoba ngasdos Gamtuk meski sayangnya cuma satu semester.

6. Ke Bukit Moko
Status: Nggak berhasil :(
Karena 1. Jauh dan 2. Nggak ada kendaraan yang memadai. Tapi kebetulan cowok gue baru ganti motor Vixion yang lebih kuat dipake nanjak, jadi mungkin bisa kesampean kali ya kapan-kapan?

7. Ke Dusun Bambu
Status: BERHASIL!
Sejak tulisan itu dibuat, gue ke Dusun Bambu udah lumayan sering.. 5 kali ada kali yaa. Kalo nggak sama pacar ya sama keluarga. Dan emang enak sih tempatnya, pewe aja gitu, trus bagus lagi pemandangannya. Sekarang malah lebih oke lagi soalnya makin banyak permainan. Ntar kesana lagi ah~

8. Ke pantai mana aja
Status: BERHASIL!
Harusnya sih sama temen-temen dan pacar ya, tapi apa daya kesampeannya cuma sama keluarga. Tapi berhubung gue cuma nulis "Ke Pantai Mana Aja", jadi anggap aja berhasil. Oh ya, pantainya di Lampung, dan cukup bagus lho ternyata. Bukti foto menyusul ya!

9. Jalan-jalan ke luar kota sama temen kuliah
Status: Nggak berhasil :(
Jalan-jalan seninya batal, jadinya pada berangkat sendiri-sendiri itupun yang pengen banget aja. Dan gue nggak ikut. Sama anak unit pun nggak kemana-mana karena ya begitulah, pada mageran dan belom ada kesempatan. Hiks.

10. Ke luar negri lewat jalur akademis
Status: Nggak berhasil :(
Ini mah emang #NgayalBabu. But to be honest gue juga belom liat urgensi buat S2 ke luar selain buat "extend" kesenangan masa kuliah dan punya excuse buat hidup keren. Hahaha. Naif banget ya saya.

11. Bikin commissioned work
Status: BERHASIL!
Kebetulan temen gue ada yang minta buat gambarin karikatur dia, temen-temennya setim lomba, bareng sama satu orang dosen pembimbing timnya, di kertas a4 pake pensil. Padahal susah tuh gue kudu bikin karikatur 5 orang (eh apa 6 ya), mana yang satu bapak-bapak lagi, tapi berhubung gue baik hati dan masih hijau jadi gue patok aja totalnya 100k hehehe. Mayan lah.

12. Ikut ngisi ilustrasi buat antologi di unit
Status: Nggak berhasil :(
Gue juga lupa kenapa nggak dilakukan. Antara nggak ada proyeknya, atau proyeknya nggak cocok, atau guenya males, atau guenya nggak bisa.

13. Ikut submit buat Writing Challenge
Status: Nggak berhasil :(
Lihat alasan nomor 12 yah :-)

14. Nyoba nasi goreng bistik di Astana Anyar
Status: Nggak berhasil :(
Hai mas pacar, jika kamu membaca postingan ini, tolong jelaskan ke pemirsa pembaca blog-ku sekalian kenapa poin ini tidak terealisasi. Huhuhuhuhu.

15. Magang/KP
Status: Nggak berhasil :(
Intinya sih gue mager ninggalin Bandung saat libur dan gue ter-occupied sama hal-hal lain. Jadilah gue baru magang setelah lulus, which is tetep statusnya berarti nggak berhasil karena harusnya sebelum lulus.

16. Ke Bandung Carnival Land
Status: Nggak berhasil :(
Liat alasan no. 14. MAS PACAR MANA MAS PACAR??

17. Naik kereta sama pacar
Status: Berhasil :(
Lho, katanya berhasil, kok sedih? Nah, gue ceritakan sedikit yaa..
Jadi bulan September tahun 2015, temen kita, salah satu anak Divisi Musik Genshiken dari jurusan hukum Unpad, waktu itu koma di rumah sakit Jakarta. Akhirnya gue, pacar, dan dua orang temen dari Divisi Musik inisiatif jenguk dari Bandung, naik kereta karena waktu itu kebetulan lagi promo ke Jakarta 70k. Kesampean kan? Kesampean sih, tapiiii, besoknya temen gue yang koma itu dipanggil Yang Maha Kuasa. Jadi cukup sedih juga kalo inget ini. RIP Era, semoga tenang di sana yaa.

TOTAL: 7 DARI 17 HAL YANG INGIN DILAKUKAN SEBELUM LULUS KULIAH YANG BERHASIL DILAKUKAN.
Kurang dari setengah yang tercapai, yang berarti gue kurang berusaha wakakak. Tapi nggak akan sampe sini aja, karena beberapa poin bakal tetep gue kejar kok. Tunggu tanggal mainnya ya! :-D

Wednesday, August 10, 2016

Ego Orang Kreatif

Awal-awal kuliah seni rupa dulu, gue lumayan sensi kalo denger komentar semacam "enak ya, kuliahnya gambar doang".

Sebel. Soalnya kenyataannya, "gambar doang" itu nggak ujug-ujug lahir, ada prosesnya. Dari mulai nentuin permasalahan yang mau diangkat, nentuin konsep, nentuin visual yang pas, bikin beberapa alternatif, asistensi ke dosen, matengin konsep, asistensi lagi, matengin lagi, gitu terus sampe akhirnya jadi. Ketika denger "kuliah gambar", jangan langsung mikir gambar semacam gambar-gambar portrait artis atau doodle-doodle lucu yang suka ada di Instagram. Buat kuliah seni rupa, "kuliah gambar" ini juga berarti punya konsep, makna, dan visual yang oke tapi nggak terlihat cheesy ataupun preachy. Kepekaan rasa harus diolah, makanya suka bingung 'kan kenapa karya-karya seni di galeri itu banyak yang nggak bisa sekali liat langsung ketebak makna dan latar belakangnya? Belum lagi kalo kudu masukin teori seni, hih!

Tapi, yang dibahas kali ini bukan gimana kuliah gue itu.

Semakin berumur, gue semakin menyadari sesuatu. Kalo ternyata emang kuliah gue "enak, gambar doang". Harus gue akui itu. Kuliah karena emang suka dan kuliah karena butuh itu bedanya jauh banget. Kebetulan gue punya banyak temen anak Teknik, yang bikin gue bersyukur masuk seni rupa tiap kali nggak sengaja liat materi kuliah mereka. Jangan tanya gue kayak apa, karena gue juga nggak ngerti. Sedangkan kuliah seni atau desain, rata-rata orang yang milih pasti karena hobi, hobi gambar. Seumur-umur, gue belom pernah nemu orang yang kuliah Akuntansi karena dia hobi itung-itungan (bukan hobi kali ya, lebih ke minat prospeknya atau emang udah punya dasarnya). Maka dari itu, mahasiswa seni rupa atau jurusan gambar-gambaran lainnya harus banyak-banyak bersyukur udah boleh dan bisa kuliah yang sesuai sama passion. Makanya, makin kesini gue makin ngerti dan makin maklum kenapa temen-temen non seni dan desain seringkali melontarkan pertanyaan di atas.

Kalo dibalik, gue juga iri sama anak-anak non seni. Rata-rata kerjaannya jelas, gajinya lebih gede, dan dimengerti orang tua. Nggak semuanya sih dan nggak mutlak juga, tapi lebih dihargai dan dikenal lah dari kerjaannya anak seni (anggep aja kompensasi karena kuliahnya "enak, gambar doang"). Nggak percaya? Coba tanya aja orangtua lo, atau kakak lo deh, tau nggak apa itu seni grafis? Lebih ngerti mana sama geologi?

Ngomongin soal geologi, gue juga dulu suka sensi tiap ada yang ngira kalo Seni Grafis itu dan Desain Grafis itu sama. Tetot, beda banget meski Seni Grafis emang berperan besar di kelahiran Desain Grafis. Sementara itu, gue belom bisa bedain tiga jurusan ini yang ada di kampus gue: Geologi, Geofisika, dan Geodesi. Tiga-tiganya "Geo", jadi mungkin mempelajari bumi dan permukaannya. Tapi bedanya apa, gue nggak tau. Sama aja jadinya kayak temen-temen gue yang nggak tau bedanya Seni Grafis dan Desain Grafis.

Orang-orang ini butuh edukasi, bukan dinyinyirin. Selama kuliah, gue seriiiing banget nemu nyinyiran serupa (selain dari gue sendiri), yang intinya tentang anak non seni atau desain yang nggak ngerti kerjaan kita (cie kita). Kadang sampe dibikin postingan panjang atau komik segala, lho. Semuanya nyinyir atau ngeluh, tapi jarang ada yang bener-bener ngasih penjelasan. Oke kerjaan lo susah dan bernilai tinggi, tapi di bagian mana dan kenapa? Itu. Btw, ada yang pernah nge-post rumus harga satu karya desain dan menurut gue itu oke banget, tapi gue lupa dimana dan siapa jadi untuk sementara ini sila Google sendiri ya karena gue pun bukan anak desain hehehe.

Gara-gara semasa mahasiswanya suka gitu, kayaknya banyak yang egonya kebawa sampe ke dunia kerja. Jadi gue masuk satu grup Facebook yang isinya banyak pekerja-pekerja industri kreatif gitu, dan beberapa hari sekali ada aja postingan lowongan kerja yang sengaja dinyinyirin karena dirasa terlalu nuntut banyak untuk satu title lah, kurang menghargai profesi lah, apa lah (P.S.: yang bikin lowongan itu biasanya orang HRD). Beberapa emang bener, tapi gue merasa makin kesini makin banyak pekerja kreatif yang whiny. Mbok ya lebih bijak ajalah dalam nerima kerjaan atau klien, kalo keliatannya nggak cocok jangan dipaksain, kalo punya pilihan tapi tetep ngambil dan ternyata nggak sesuai ya telen aja, itu konsekuensi. Ada juga lho yang pake analogi lucu dengan ngebandingin dokter sama desainer, padahal kita semua tau kalo dokter resiko kerjaan dan yang dipertaruhkan sangat amat tinggi (nyawa orang, bos! Makanya sekolahnya paling lama). Desainer paling banter bikin desain misleading. Meski tetep bisa bikin kecelakaan (tergantung desain apa dan implementasi dimana), tapi resikonya keciiil, nggak ada apa-apanya sama dokter. Lo salah desain? Masih bisa ditarik trus direvisi, pait-paitnya paling jadi gunjingan di sosmed. Nggak lama bisa haha hihi lagi. Lo malpraktik? Nggak cuma digunjing di sosmed, lo bakal masuk berita nasional, dibawa ke meja hijau, dan selamat tinggal karir. Masih mau banding-bandingin kerjaan?

Intinya, jangan gede-gede banget lah pride-nya sebagai mahasiswa seni (atau desain). Kalo emang punya temen clueless seperti contoh-contoh yang gue sebutkan di atas, dibawa santai aja, nggak usah nyinyir apalagi dibikin komik (lol), kalo perlu jelasin baik-baik apa aja yang lo kerjain dan pelajarin. Siapa tau setelah dijelasin malah respect dan tertarik, ya toh? Karena most of the time, orang-orang ini bukannya sengaja meremehkan, tapi emang nggak tau gimana proses pembuatan karya anak seni atau desain yang ternyata nggak sesimpel yang mereka pikir, nggak tau apa patokan nilainya, dan lain-lain. Yang mereka tau selama ini, ya, produk jadi.

"Ya cari tau sendiri dong! Usaha kek." Perlu dua arah emang, tapi lo pernah nggak pas lagi senggang Googling soal Teknik Kelautan, kerjaannya apa, di mana, proses kerjanya gimana, dan patokan gaji mereka gimana? Gue sih nggak. Hahahaha. Kalo belom sama-sama ngerti kerjaan satu sama lain, jangan buru-buru marah deh.

Dan tentunya buat kalian yang berasal dari industri berbeda, tolong hargai kita ya hehehe.