Sunday, February 8, 2015

Garuda "Anjir Apaan Nih" Superhero

Halo dan selamat datang di postingan kedua gue di tahun 2015!

Well, alih-alih review akademis, gue ingin me-review hal yang jauh lebih penting: FILM GARUDA SUPERHERO.

Ya.

Gue nonton beberapa minggu lalu sebelum filmnya keburu nggak ada di bioskop, dan harus gue akui, Rp. 25.000 yang gue habiskan untuk beli tiket rupanya nggak sia-sia. Nanti juga lo ngerti kenapa..

DISCLAIMER: REVIEW INI BAKAL PANJANG BANGET DAN BANYAK MEMBEBERKAN ISI CERITA, JADI KALO NGGAK MAU KENA SPOILER ATAU NGGAK MAU BOSEN DULUAN MENDING NGGAK USAH DIBACA.

Oke, langsung aja. Jadi, Garuda Superhero ini disutradarai oleh X.Jo (yang namanya lebih mirip rapper dibanding sutradara) dan diproduksi oleh Garuda Sinergi dan Putaar Sinema. Sebelom nonton film ini, gue udah mendengar hal-hal muluk seperti: film ini dibuat dengan persiapan selama 10 tahun lah, film ini setara Iron Man dan sekelas film Marvel lah (kata Kick Andy, yang belakangan gue ketahui ternyata emang media partner film ini), apa lah. Setelah gue nonton trailer-nya, gue cuma bisa bengong.. Terus cuci muka.

Maka, sebagai pecinta film superhero, sekaligus tidak mau mengulangi penyesalan yang sama akibat dulu tidak menonton Azrax yang akhirnya jadi cult movie, gue pun tergelitik buat liat sejauh apa sih kebenaran hal-hal muluk yang disebutkan di atas.

Film (yang alhamdulillah cuma) berdurasi 80 menit ini dibuka tanpa basa-basi. Gue, dua orang temen gue, serta dua orang lain (satu diantaranya walk out nggak lama sebelum film selesai) yang menjadi satu-satunya penonton di studio, langsung disuguhi serentetan visualisasi CGI yang mantap. Ceritanya, kota Metroland, alias kota Jakarta dengan sentuhan New York yang namanya lebih mirip nama taman bermain milik studio Metro TV saingan Trans Studio daripada nama kota, sedang diserang alien-alien berwujud robotik (yang kostumnya gue dan temen gue sepakat akui lebih bagus dari kostum si superhero-nya sendiri). Alien-alien ini naik semacam alien vessel, pesawat super gede yang mengingatkan gue pada film Avengers dan Captain America: The Winter Soldier. Ah, namanya juga sama-sama film superhero ya. Terpanggil untuk menyelamatkan kota, Garuda sang superhero (Rizal Al Idrus) pun datang menyelamatkan.

Kostum Garuda mengingatkan gue akan kostum seorang tokoh superhero keluaran DC yang identik dengan kelelawar. Apa ya? Hmm, mungkin perasaan gue aja.. (foto via antaranews)

Seperti yang gue katakan tadi, adegan pembuka ini bener-bener tanpa basa basi. Bak buk bak buk, tau-tau Garuda udah ngalahin si pemimpin alien, dan para alien sisanya ujug-ujug menghamba pada Garuda, kira-kira bilang begini: "Siapapun yang mengalahkan pemimpin kami, kami akan tunduk kepadanya." (btw, film ini pake subtitle bahasa Inggris lho, nggak tau juga buat apa.) Tapi Garuda yang berhati emas membiarkan mereka pergi setelah tidak lupa memberi petuah(?) yang sebenernya kurang nyambung. (Pada titik ini, gue udah merasa dialog film ini klise banget. Tapi yasudahlah.)

Alien pergi, kota pun damai kembali. Selesai. Ya, semudah itu. Semuanya hanya dalam waktu 9 menit saja. Gue menunggu roll credits, tapi ternyata film ini belom selesai. Huh. Film ini ternyata beralur mundur, dan penonton pun dibawa flashback menuju saat Garuda belum 'terlahir'. Loh, jadi yang tadi itu beneran pembuka doang ya???

Nah, ternyata dulu ceritanya dunia berada dalam bahaya karena ada asteroid raksasa yang akan menabrak bumi. Lucunya, Indonesia diramalkan akan menjadi negara yang pertama terkena imbasnya. Yah, sebenernya excuse aja sih biar "film superhero Indonesia" ini keliatan masuk akal. Kepanikan penduduk bumi digambarkan melalui beragam footage (yang entah dicomot dari mana aja) dan ditampilkannya siaran berita (yang ceritanya) dari berbagai negara. Bagian ini harus gue apresiasi, karena tim casting mau repot-repot nyari orang-orang bule biar siaran berita dari berbagai negara tersebut terkesan realistis, meski adegannya agak kelamaan dan nggak perlu.. Well, karena sayang kali ya udah susah-susah nge-hire banyak orang asing buat jadi pembawa berita, masa cuma sebentar.

Lanjut. Ternyata, Indonesia udah punya rencana. Para ilmuwan sudah menciptakan semacam roket yang dilengkapi bom berkekuatan ledak besar (10 kali lipat bom atom Hiroshima katanya) yang akan menghancurkan asteroid sebelum ia menabrak bumi. Oh ya, roket ini dinamai Gatotkaca dan bomnya disebut MAC. Bukan, bukan MAC merk make up, tapi singkatan dari Megatron Alpha Cosmosapagituguelupa. Lha kenapa Megatron dibawa-bawa??? Naming sense film ini hebat memang, meskipun nggak scientific atau kurang nyambung, yang penting terdengar keren.

Ngomong-ngomong, sebenernya ada 2 flaw dalam rencana ini: 1. Bumi masih belum sepenuhnya aman dari pecahan asteroid yang hancur karena bom roket tersebut. Iya kalo ancurnya jadi serbuk, kalo kaga? Lalu 2. Kalo emang kekuatan ledak bomnya 10 kali lipat bom atom Hiroshima, berarti bumi bakal kena impact ledakannya juga dong? Secara asteroid-nya udah deket gitu. Eh tapi ini kan film fiksi superhero ya, anything can happen. Baiklah, lanjut review lagi.

Nah, sayangnya, roket dengan bom ini diincar oleh sekomplotan penjahat (yang katanya) kelas dunia yang dikepalai oleh Durja (diperankan oleh Slamet Raharjo, entah dibujuk apa biar mau main disini). Durja dikisahkan telah memiliki catatan kriminal sejak usia 9 tahun hingga sekarang sudah tua dan pake wig yang jelek banget (maaf). Durja punya 3 anak buah mutan (iya, mutan) kepercayaannya. Yang pertama ada Black Widow, eh Canary, eh sori maksudnya Zyu (Alexa Key), cewek seksi yang bertarung dengan dua buah pistol dan entah kenapa adegan yang ada dianya selalu di slow-motion-in. Tokoh Zyu ini adalah tipikal penjahat yang punya markmanship bagus dan lihai dalam close quarter combat. Lalu ada Bane, eh Winter Soldier, eh sori maksudnya Gull, bertubuh paling besar, jarang bicara, dan memakai topeng serta armor besi di kedua tangannya. Gull tipikal penjahat yang berperan menjadi berserker, benar-benar mengandalkan kekuatan fisik dan menyerang secara melee. Terakhir ada Loco, penjahat asal Itali yang sesuai namanya, emang kayaknya gila berantem dan terobsesi untuk menang, berperan sebagai penjahat long-range yang nyerangnya entah pake bazooka, senapan jarak jauh, atau bahkan drone (anjir, modern amat). Yang paling mengganggu gue, selain kebiasaannya buat ngomong sendiri, adalah namanya. Loco artinya gila dalam bahasa Spanyol, dan dia ceritanya orang Itali. Dalam bahasa Itali, Loco artinya SITUS. Bahasa Italinya gila ya PAZZO (thanks Google Translate!). Gue curiga yang bikin nggak tau kalo Loco bahasa Spanyol, bukan Itali. Yoweslah, seperti yang gue katakan tadi, naming sense film ini emang hebat. Maaf esmosi. Lanjut.

Penampakan ketiga mutan musuh superhero kita. dari kiri ke kanan: Loco, Zyu, dan Gull minus topeng.

Seperti yang sudah diduga, Gatotkaca dengan mudahnya jatuh ke tangan Durja cs. Padahal sebelumnya dijelaskan bahwa Gatotkaca telah disimpan di Pusat Peragaan IPTEK Taman Mini laboratorium dengan pengamanan berlapis-lapis, tahan gempa dan ledakan, dan berbagai sesumbar lainnya. Waktu para ilmuwan yang membuat Gatotkaca disandera Durja cs pun, sama sekali tidak ada bantuan yang muncul. Rupanya tempat penyimpanan benda se-masif itu hanya dijaga oleh sekawanan ilmuwan tidak bersenjata dan beberapa orang guard yang di awal sudah dihabisi Zyu dan kawan-kawan dengan mudah. Oh ya, saat para ilmuwan disandera ini, kita disuguhi akting Slamet Rahardjo sebagai Durja yang menawan. Durja digambarkan sebagai penjahat yang sinting dan ingin memainkan perasaan lawannya, yang mengingatkan saya pada Jok--ah sudahlah.

Ngomong-ngomong, kemana Garuda?

Rupanya kala Indonesia pontang-panting, Garuda alias Bruce Way—eh Bara Derma, anak direktur perusahaan besar Derma Corporation, malah menyendiri di Tibet. Tadinya gue kira doi lagi berguru sama Ra's Al Ghul, lalu gue inget ini beda film. Ternyata Bara menyendiri demi berlatih agar lebih kuat dan bermeditasi untuk melupakan segala kegalauannya, termasuk fakta yang baru-baru ini ia temukan yakni bahwa ia bukan anak kandung ayahnya. Bara yang bernama asli Garuda Nusantara (buset, nama anak ape nama maskapai penerbangan?) ini merupakan anak kandung dari seorang polisi yang meninggal saat melindungi Thomas dan Martha Wayne dari sekawanan perampok. Eh bukan itu ya nama bapak ibunya? Aduh maaf salah. Ya intinya begitulah, pada akhirnya pasangan konglomerat tersebut mengangkat Bara yang yatim piatu menjadi anak mereka.

Nah ini si Bara pas lagi latian di Tibet.. Eh bentar bentar, kok kayaknya ada yang beda

Balik ke Tibet, Bara kedatangan seorang sahabatnya, Zack, yang tokohnya nggak lain cuma berperan jadi comic relief seperti halnya ratusan film lain yang punya stereotip tokoh "sahabat konyol" untuk mencairkan suasana. Bukannya lucu, tokoh Zack ini malah bikin gue kasian karena Bara dingin banget sama sahabatnya. Well, Bara emang digambarkan (atau nggak sengaja berakting) sebagai cowok yang dingin dan kaku sih, cuma ini beneran nggak ada chemistry-nya, gue jadi mikir kedua tokoh ini beneran sahabatan nggak sih? Tau ah. Setelah Zack datang, Bara kembali ke Indonesia karena ternyata nyawa ayah angkatnya, Pak Derma, berada dalam bahaya. Gue agak lupa sih bagian sini, intinya Pak Derma dipaksa untuk mentransfer sejumlah besar uang kepada Durja cs. Oh ya, transfernya canggih lho cuma lewat laptop dan mirip kayak kalo lo lagi install game, ada loading bar-nya udah berapa persen ke-transfer. Trus selesai transfer tau-tau Pak Derma kena tembak, dan Bara telat buat menyelamatkan beliau. Hmmm.. Plot yang tampak familiar ya.

Yak, loncat ke tempat lain, entah beberapa hari setelahnya. Seorang ilmuwan buron yang dulu pernah bekerja untuk Red Skull—eeeh maksudnya komplotan Durja untuk membuat serum super, ditemukan oleh orang-orang bayaran Durja yang berniat merebut kembali serum super tersebut. Mau tidak mau bapak ilmuwan tersebut pun melarikan diri, dan atas restu screenwriter dan sutradara, beliau menyebrang jalan tepat saat Bara lagi asik-asik nyetir sports car-nya (yang entah dipinjem X.Jo darimana) dan hampir tertabrak. Singkat cerita, sang ilmuwan ikut naik mobil Bara dan menjelaskan tentang keadaannya, bahkan menawarkan Bara untuk menggunakan serum tersebut, karena menurutnya, serum tersebut hanya pantas untuk digunakan pada orang sesempurna Bara (tolak ukur ilmuwan ini dari mana gue juga kurang paham). Bara pun setuju, dan tibalah kita pada adegan yang akan mengingatkan kita pada adegan transformasi pertama Hulk, Wolverine dan Captain America. Tapi yah, bukannya di setiap awal film selalu ada disclaimer "kesamaan nama tokoh, tempat, waktu, dan peristiwa hanyalah kebetulan semata dan tidak ada unsur kesengajaan"? Jadi kemiripan yang terlalu sering ditemukan di film ini ada baiknya tidak perlu terlalu kita pikirkan.

Bara dan si ilmuwan sesaat sebelum serum disuntikkan ke tubuh Bara. Tapi kok kayaknya ada yang salah ya..

Eniwei, percobaan serum beradegan generik itu ternyata berhasil; Garuda sang pahlawan super bercitarasa lokal pun lahir! Horeee! Filmnya udah mau selesai! Tak lupa, Bara dan sang ilmuwan pun merayakan keberhasilan mereka dengan.. Makan sebungkus kacang Garuda. Iya, kacang Garuda. Rahang gue dan temen gue hampir copot capek ketawa liat adegan product placement super awkward ini.

Sudah percaya diri dengan identitas dan kekuatan barunya sebagai Garuda (yang sebenernya nggak terlalu banyak berubah, badannya juga nggak berubah malah, cuma pake kostum doang), Bara bekerja sama dengan GCPD—ehm, pihak kepolisian Metroland maksudnya, untuk melawan komplotan Durja di markasnya. Harusnya ini jadi final epic battle yang menegangkan ya, tapi entah kenapa gue cuma bisa ngangkat alis nontonnya. Adegan berantem terasa flat bahkan di beberapa momen—saat melawan Gull misalnya—terasa agak bodoh. Belum lagi efek-efek spesial yang bisa dibilang kualitasnya bikin temen gue tiba-tiba merasa pede sama tugas motion graphic-nya yang ampas banget. Dan melihat kesuksesan film pertama The Raid, mungkin X.Jo merasa harus memasukkan gimmick ke dalam adegan berantem ini, layaknya Mad Dog dengan "pake tangan lebih greget"-nya. Bedanya, disini si pembawa gimmick adalah komisaris Jim Gor—aduh maaf salah mulu, maksud gue seorang polisi pentolan yang diperankan Agus Kuncoro, dimana sebelum berduel melawan Zyu, ia meletakkan dulu kacamata hitam yang sepanjang film ia kenakan sambil berkata, "Sebentar, pemberian istri saya. Takut pecah.". Ya, untuk bagian ini, saya akui X.Jo berhasil membuat dialog yang cukup memorable.. Walau sebenernya cukup cheesy.. Dan temen-temen saya pun nggak merasa terkesan. Hahaha.

Oke, gue nggak mau membeberkan secara detail gimana adegan-adegan pertarungannya hingga Durja kalah (hei ini bukan spoiler, namanya film superhero pasti superhero-nya yang udah pasti menang, 'kan?). Yang pasti: penyelesaiannya sangat amat deus ex machina. Kalo nonton juga bakal ngerti, deh. Intinya, pada capek-capek berantem, ujung-ujungnya yang berjasa buat mengalahkan Durja cs dan merebut kembali Gatotkaca bukanlah Garuda si protagonis utama, tapi seorang tokoh random yang baru diperkenalkan di adegan tersebut dan keberadaannya terasa dipaksakan. Duh. Gapapa deh, yang penting Durja cs kalah dan Gatotkaca kembali ke tangan yang benar.

Tapi eits, masalah belum selesai karena si asteroid yang hendak menabrak bumi belom dihentikan. Mungkin karena Garuda kebanyakan nonton film dan terinspirasi dari peran Iron Man di film pertama Avengers, Batman di The Dark Knight Rises, dan Superman di Superman Returns, doi menawarkan diri untuk membawa sendiri bom Gatotkaca ke luar angkasa, langsung ke asteroidnya. Tiap superhero kan perlu seenggaknya sekali melakukan suicide mission biar keliatan heroik dan dramatis, mungkin begitu pikir Garuda. Ide sutradara dan scriptwriter Garuda ini disetujui para pejabat negara, dan adegan heroik Garuda pun disiarkan secara live di TV. Entah maksudnya untuk menggugah gue dan segenap penonton film lainnya agar terharu apa gimana, ceritanya orang-orang yang menonton aksi Bara di TV semuanya serempak ngasih hormat, sayangnya kurang scoring dramatis aja sih. Gue curiga mas-mas yang ngurus scoring sempet kepikiran buat masukin lagu Indonesia Raya di adegan ini, tapi nggak jadi karena takut menghina, masa lagu sakral jadi scoring film abal-abal.

Dan ya, seperti yang kita semua telah ketahui, asteroid berhasil diledakkan, bumi selamat, bahkan nggak ada debris yang jatuh, dan Garuda (sayangnya) tetap hidup! Wow mejik! Teori gue tentang dua flaw terhadap rencana ini dipatahkan gitu aja sama X.Jo. The End. Sungguh ending yang fantastis dan.. Predictable.

Baiklah, gue minta maaf kalo detail filmnya ada yang miss atau salah, jujur gue juga udah agak lupa. Sekarang gue coba menilai satu-satu dari beberapa aspek filmnya ya.

Plot:
X.Jo dan scriptwriter-nya keliatan sangat mencintai film-film superhero, terlihat dari banyaknya homage yang ditampilkan sepanjang film, termasuk dari segi cerita. Saking banyaknya homage yang ditampilkan sampe-sampe gue nggak inget lagi nonton film apa. Sampe gue liat CGI dan akting yang kacau banget trus gue inget ini film Garuda Superhero. Intinya, dari segi plot, film ini jauh dari kata orisinil. Plot hole yang bertebaran disana sini mengingatkan gue pada jalanan depan kosan gue yang bolong-bolong diabaikan pemda. Bedanya, disini sutradara dan scriptwriter yang mengabaikan.

Akting:
Pribadi, gue nggak ada masalah sama akting Slamet Raharjo dan Agus Kuncoro yang notabene sudah punya nama. Aktingnya memang oke, terutama Slamet Raharjo yang bisa berakting gila. Gue juga masih memaklumi akting-akting kaku para pemeran pembantu yang cuma muncul bentar seperti adik Bara, pacar Bara (yang tujuan keberadaannya di film ini sangat gue pertanyakan), sahabat Bara, para pejabat, para ilmuwan, dll yang bikin gue bertanya-tanya ini orang pada di-casting dulu apa kaga. Yang bikin gue kesel adalah akting Rizal Al Idrus sendiri sebagai Bara/Garuda, yang harusnya jadi jantung dari film ini. AKTINGNYA KAKU BANGET WOI BUSET. Tiap dialog ia sampaikan dengan datar, sering terkesan dingin malah. Gara-gara itu, perannya sebagai superhero jadi sama sekali nggak lovable, nggak berhasil mengikat penonton atau bikin penonton mendukung dia. Melihat akting doi dan pemeran utama Bima Satria Garuda, gue berasumsi kalo bintang L-Men sepertinya kurang cocok kalo ditarik ke dunia akting, jadi binaragawan aja udah cucok deh. Oh ya, saking kakunya akting mayoritas aktor dan aktris dalam film ini, sampe-sampe dialog atau adegan yang harusnya nggak lucu malah bikin gue dan temen gue terpingkal-pingkal karena emang jadi aneh banget. :))

Efek:

Coba cek trailer-nya disini dan simpulkan sendiri. Sebagai anak fakultas seni dan desain, jujur aja, efek CGI di film ini bikin gue lebih pede untuk mempublikasikan karya gue. Kalo tim sfx Garuda Superhero aja pede, kenapa gue nggak? Terima kasih Garuda Superhero! Also, ayo tepuk tangan sebagai bentuk apresiasi pada tim sfx Garuda Superhero yang sangat berdedikasi pada teknologi green screen yang sudah ketinggalan jaman!

Scoring:
Loh.. Ada ya scoring-nya? Maaf, gue terlalu sibuk tercengang melihat suguhan visual spektakuler film ini.

Lain-lain:
Cameo dari Jupe sebagai guru TK (?) dan Yusuf Mansur sebagai Mentri Agama cukup menghibur. Product placement sponsornya menakjubkan sekali, terakhir gue liat product placement sekeren itu ya di film Habibie Ainun. Nggak ada rasa malu atau subtlety-nya blas, yang penting produk sponsor nampang dengan jelas dan istimewa di film. Selain itu mungkin tim kreatif yang nanganin CGI film ini bisa mempertimbangkan untuk lebih menahan nafsunya dan sebagai gantinya bisa meminjamkan salah satu rumah atau kamar mereka sebagai tempat syuting, karena adegan kamar dengan green screen itu nggak banget.. I mean adegannya cuma di dalem kamar ente pake CGI??? Emang nggak lebih gampang syuting di kamar ya??? Ah entahlah, mungkin mereka kebanyakan waktu luang. Inget kan, persiapan film ini konon memakan waktu 10 tahun?

Jadi, apakah gue merekomendasikan film ini untuk ditonton?

Well.. Pada saat gue ngetik ini, film ini udah lenyap dari peredaran sih. Tapi kalo seandainya bakal dirilis DVD-nya apa gimana, ya tonton aja. Itupun kalo lo kuat 1,5 jam nonton CGI ancur-ancuran plus akting ala kadarnya. Dan oh, jangan sama-samain film ini sama Azrax ya, karena secara level juga beda, dan awas diamuk fanboy Azrax wkwkwk. Eniwei, gue cuma mau bilang kalo film Garuda Superhero ini penuh dengan ambisi dan idealisme sutradaranya yang berlebihan. Saran gue jangan terlalu ambisius atau idealis deh dengan bikin film superhero muluk-muluk yang full CGI gini, mending bikin film dengan premis dan setting sederhana tapi cerita orisinil dan akting para pemerannya dimaksimalin, digodok abis-abisan. Daripada jadinya film superhero half-assed gini? Iya elunya mungkin puas, penontonnya kaga. Huh.

Rating yang gue kasih?

Naon/10. Dah.

4 comments:

Shahnaz said...

Gue suka sama cara lo nulis Ces, bikin ikutan senyum-senyum ngakak haha

Cessi said...

hahaha makasih naz XD

ricky van regar said...

Masalahnya adalah:
1. Mental sineas perfilman kita msh banyak yg tukang contek, cuma mo cepet kaya / dpt duit, sok idealis.. jadi nggak punya kreatif sama sekali..
2. Nggak ada usaha / kemauan dari sineas perfilman kita utk memperbaiki kualitas dan mencari org2 yg berkualitas..jgnkan d ksi wktu 10 taun.. 100 taunpun nggak akan kelar klo emang nggak ada niat..


Novan Theresianto said...
This comment has been removed by the author.