Sunday, April 17, 2016

My New Favorite Manga: AJIN!

Kalo beberapa hari lalu gue ditanya, "Ces, komik horror-seinen favorit lo apa?" gue mungkin akan menjawab I Am a Hero. Tapi sekarang, kalo gue dikasih pertanyaan yang sama, gue akan menjawab dengan mantap:

Ajin.


Ajin (亜人) adalah serial komik Jepang yang ditulis dan digambar oleh Gamon Sakurai. Ajin mulai diterbitin tahun 2012 di majalah komik dwibulanan good! Afternoon yang berada di bawah naungan Kodansha. Walau terbit sejak tahun 2012 dan serialisasi Bahasa Inggris-nya udah ada sejak tahun 2014 silam, judul Ajin mungkin baru familiar di telinga penggemar Jejepangan di Indonesia tahun 2015 kemaren, karena komiknya sendiri baru mulai diadaptasi jadi film animasi trilogi akhir tahun lalu dan tahun ini baru muncul serial anime serta film keduanya.

Simpelnya, Ajin ini bercerita soal manusia immortal yang disebut Ajin atau demi-human. Selain nggak bisa mati, Ajin juga bisa mengeluarkan suara yang bisa membuat manusia biasa yang mendengarnya tidak bisa bergerak untuk sementara. Masih kurang? Well, Ajin juga punya semacam penjaga, petarung, atau pembantu pribaditergantung gimana tiap Ajin manfaatinnyaberbentuk bayangan humanoid yang disebut 'ghost' (tuh ada di cover) yang cuma bisa dilihat sesama Ajin. Ceritanya, keberadaan Ajin pertama kali diketahui 17 tahun yang lalu dan sampai saat ini sudah ada puluhan yang terkonfirmasi keberadaannya di penjuru dunia. Jepang, yang tentunya menjadi setting dari komik ini, sejauh ini punya 2 orang Ajin. Tapi jumlah itu bertambah ketika Nagai Kei, siswa SMA yang bercita-cita jadi dokter dan hobi belajar, ditabrak truk ketika sedang menyebrang jalan sepulang sekolah. Seperti yang diduga, tokoh utama kita ini nggak mati meski tubuhnya udah hancur berceceran. Di tengah keramaian jalan, tubuh Kei beregenerasi dan menjadi segar bugar seperti sedia kala. Jelas, sejak itu Kei diburu stasiun TV, agen negara yang ingin mengamankan Ajin (baca: dibuat hak milik dan dijadikan kelinci percobaan), dan orang-orang biasa yang ingin menangkap Kei lalu menyerahkannya pada pemerintah karena iming-iming imbalan yang besar. Untungnya, Kei masih punya Kaito, teman masa kecilnya, yang bersedia buat bantu dia kabur. Tapi tentunya pelarian mereka tidak semulus itu. Banyak hal-hal yang terjadi; keberadaan Ajin yang tadinya dianggap banyak orang sebagai hoax, perlahan dianggap sebagai ancaman serius untuk negara. Ajin yang tadinya keliatan langka, mulai satu-satu memunculkan dirinya dengan agenda yang berbeda-beda pula. Yap, mereka ternyata selama ini hidup di antara manusia biasa. Singkat cerita, dari situlah muncul banyak konflik.

Karena dasarnya memang lebih suka baca komik (plus males kalo harus download satu-satu film dan serial anime-nya), gue memutuskan untuk nyoba ngikutin Ajin dari komiknya. Baca scanlation tentunya, karena sayangnya komik Ajin belum diterbitkan di Indonesia. Awalnya gue nggak expect macem-macem, cuma gue sempet mikir kalo komik ini bakal jadi survival horror gitu. Ternyata gue salah. Meski genre-nya horror, tapi nyatanya suasana mencekam yang ditampilkan kebanyakan bukan dari penampakan sosok ghost yang mirip monster atau hantu, tapi lebih dari ketegangan skenario dan tiap karakternya. Jadi buat yang tadinya mikir-mikir buat baca Ajin karena takut komik yang serem-serem, tenang aja, Ajin nggak serem kok. Gore juga ternyata nggak kok, meski memang ada beberapa adegan tubuh yang terpotong tapi potongannya rapi (oke gue nggak tau harus deskripsiin gimana) dan nggak bikin mual. Dibanding komik horror, sebenernya lebih tepat kalo Ajin disebut komik action. Dan meski ini komik seinen, sejauh ini nggak ada adegan dewasa yang perlu dicemaskan. Cukup friendly lah buat yang baru menggeluti genre seinen.

Tes, menurut lo ini udah gore belom? Kalo iya dan nggak kuat, berarti jangan baca.

Biasanya, kalo gue baca satu komik seinen yang serius dan merasa kayak lagi nonton film, itu indikasi pertama kalo komik yang gue baca itu bagus. Terakhir gue ngerasa kayak gitu waktu baca Monster-nya Naoki Urasawa dan I Am a Hero-nya Kengo Hanazawa. Waktu baca Ajin, yap, gue kembali merasakan pengalaman serupa. Pembaca dibawa untuk melihat gimana Kei yang baru aja tau kalo dirinya bukan manusia biasa dan diburu banyak orang perlahan menunjukkan sisi aslinya dan terlibat ke hal-hal yang jauh lebih kompleks dari sekedar melarikan diri. Bukan imajinasi gue aja, karena memang alur dan plotnya diceritakan dan digambarkan dengan cukup rapi. Dalam komik ini, kebetulan babak-babaknya jelas. Alurnya maju. Suasana yang dibangun berhasil bikin pembaca, atau setidaknya gue, untuk semangat mendalami dan mengikuti ceritanya. Beberapa panel yang sengaja digambar dalam porsi besar (dengan detail yang, ya Allah, aku ingin kembali kuliah drawing) memang efektif buat menangkap momen-momen krusial dalam komik ini dan memberi efek sinematik.

Kalo dikeluarin dari konteksnya, satu halaman ini emang kesannya sepele. Apaan coba satu halaman buat bapak-bapak minta rokok doang. Tapi kalo ngikutin ceritanya mungkin bakal bergumam dalam hati: anjir keren lah.

Dari segi penceritaan, gue pribadi nggak ada masalah. Dan oh, meski gue emang nyebut komiknya Urasawa, Ajin nggak seberat itu dan mudah dicerna kok. Tipe komik yang bisa dibaca sekali duduk dan nggak bikin mumet mikirin ini itu. Dialognya nggak banyak dan kebanyakan langsung to the point, tanpa muter-muter dengan teori-teori berat biar komiknya keliatan pinter dan berbobot. Justru, lucunya, kalo ada obrolan yang menjurus ke teori yang berat dikit, either si tokoh yang bersangkutan bakal ngejelasin pake analogi atau dimunculin ilustrasi ala buku anak-anak yang mudah dimengerti. Bahkan di satu titik tokohnya beneran nyuruh Googling pake keyword tertentu. Kurang baik apa coba Gamon Sakurai? :))

Sebagai komik yang sedikit banyak menyinggung masalah kemanusiaan terutama tentang diskriminasi dan pentingnya hidup seseorang, Ajin nggak lantas jadi komik yang super sentimentil. Meski gue penyuka komik dengan cerita tearjerker, gue sangat suka Ajin karena kita bakal berdebar-debar bukan karena adegan sedihnya, tapi karena kemampuan tiap karakter dan suspens yang dibangun ceritanya. Selain itu, tema immortal juga bukan tema yang nggak umum dalam dunia komik, dan Ajin lebih main di aspek pahitnya jadi makhluk immortal dan penggunaan ke-immortal-an seseorang yang tepat guna dalam pertarungan (lah kayak judul skripsi). Jadi nggak sesimpel "gimana caranya manusia biasa bisa mengalahkan makhluk immortal??" seperti yang gue kira sebelum membaca komiknya. Definisi dan kondisi immortal yang dijabarkan di Ajin pun masih punya banyaaak banget kemungkinan untuk digali.

Soal gaya gambar, gue rasa cukup superior terutama dibanding animenya. Seperti kebanyakan komikus seinen, gaya gambar Gamon Sakurai di Ajin ini cukup realis dan saaangat detail. Nilai plus karena gue suka gaya gambar semacam itu. Bahkan beberapa panel mungkin bakal bikin lo lupa kalo lagi baca komik Jepang. Tapi meski gitu, overall gaya gambarnya masih keliatan Jepang banget kok, cukup Jepang untuk bikin beberapa karakter keliatan ikemen atau shota atau moe atau apalah itu namanya. Kalo suka gaya penggambaran semacam Akira-nya Katsuhiro Otomo, mungkin nggak masalah sama Ajin.


Selain disuguhi gaya gambar yang sungguh aduhai, pembaca juga akan disuguhi banyak sekali adegan action. Seperti yang gue bilang sebelumnya, komik ini lebih cocok disebut komik action karena emang porsi action-nya cukup banyak; nggak mau ngasih banyak spoiler, tapi intinya dari mulai main kucing-kucingan, tonjok-tonjokan, cakar-cakaran, sampe tembak-tembakan kolosal ada lah. Dan nggak cuma asal bak buk bak buk dor dor mati, adegan action yang ditampilkan di komik Ajin cukup taktis dan cerdas. Lagi-lagi, gue nggak mau ngasih spoiler lebih banyak, tapi intinya beberapa adegan sangat menggugah hati dan adrenalin sampe bikin pengen bilang "anjing".

Perhatian: ini bukan fanart poster The Raid.

Last but not least, karakternya! Karakter-karakter Ajin, terutama sang protagonis utama dan antagonis utama, adalah satu poin yang bikin komik ini stand out. Buang jauh-jauh imej protagonis komik Jepang yang biasanya sangat shounen alias punya rasa keadilan dan kemanusiaan yang tinggi, suka menolong, serta mau berkorban untuk orang lain, karena Kei nggak kayak gitu. Menurut gue, dia malah jatuh di spektrum anti-hero. Mungkin di chapter-chapter awal Kei terlihat biasa, tapi makin kesini kita makin ditunjukkan kalo Kei menganut prinsip semacam "Gue bakal bantuin lo hidup karena lo masih berguna buat gue. Tapi kalo gue nggak kenal lo, ngapain gue nolongin lo?". Intinya, Kei punya kecenderungan sociopath yang cukup tinggi dan kurang bisa merasakan yang namanya empati. Penokohan yang cukup berani menurut gue, karena hal ini malah bisa jadi bumerang yang bikin banyak pembaca ilfil atau males (sumber: komen-komen scanlation-nya), terutama yang udah terbiasa dengan ide bahwa protagonis utama harusnya seseorang yang bisa di-relate pembaca dan sosok baik yang bisa jadi idola. Tapi nggak tau ya, mungkin seiring ceritanya berjalan, bisa aja karakternya berubah.

..Ini jatohnya meta joke apa bukan ya? :))

Kalo soal antagonisnya, gue nggak mau komentar banyak selain bilang kalo orang itu setan. Setan yang jenius, penuh perhitungan, dan karismatik, hahaha. Saking hebatnya si antagonis ini, gue liat di komen sih pembaca justru banyak yang lebih suka dan mendukung antagonisnya dibanding Kei. Mungkin, mungkin lho yaa, rasanya hampir sama kayak perasaan pembaca komrik yang ngidolain Joker. Karakter-karakter pendukungnya juga rata-rata cukup solid dan nggak semena-mena cuma jadi plot device, meski nggak semuanya lovable dan ada beberapa yang gue pertanyakan nasib dan perannya di komik karena kemunculannya singkat, keliatan signifikan tapi nggak (belom?) muncul lagi. Satu-satunya yang gue sayangkan adalah: tokoh ceweknya pelit banget ya Allah. Mungkin yang punya speaking role dan terus-terusan ada cuma satu orang. Gue nggak tau pembaca lain ngeliatnya gimana, tapi menurut gue ini salah satu kekurangan Ajin. Hiks. Yah, gapapa deh, daripada kebanyakan tokoh cewek tapi perannya cuma sebagai pemanis, penyedia fanservice, atau love interest tokoh-tokoh cowoknya dan nggak guna.

Akhir kata, kalo lo suka komik semacam Tokyo Ghoul atau Kiseijuu, suka action, suka genre seinen secara umum atau pengen baca seinen tapi nggak mau banyak mikir, dan nggak masalah sama tokoh utama yang beda banget sama tokoh utama komik shounen, lo wajib nyoba baca Ajin. Dijamin ketagihan, karena Ajin isinya MSG doang. Eh, itu Ajinomoto yah. (JAYUS, KAK. TOLONG.) Tapi bener kok soal ketagihannya.

Hayuk guys, baca komiknya biar demand-nya naik dan diterbitin di Indonesia. Hehehe.

P.S.: Komikusnya alias Gamon Sakurai kayaknya melek banget sama pop culture dan suka banget main gim FPS. Banyak referensinya. Hehehe.

P.S.S.: Setelah ngecek di toko buku, ternyata Ajin sudah diterbitkan oleh Level Comics hingga jilid 2. Yay!

This Post is Reserved If I Ever Feel Like Writing Something Sappy About My College Life

Notice anything strange on my sidebar?

On the 'about me' section?

No? Okay..

I'm a college graduate now.

That's it.

Friday, March 11, 2016

TAnTAngan Kemaren

Sebenernya ini kebalik kronologi kejadiannya dan jadinya nggak terlalu klimaks, tapi ya sudahlah. Namanya juga doodle nggak pake mikir.



Reaksinya saja:

Ya. Doakan aku ya gaes :"3

Thursday, February 18, 2016

How I Met Your.. Make Up.

Apa?! Cessi nulis tentang make up?!

..Yha. Gue emang termasuk telat mainan make up (baru pas umur 21, hahaha), karena sebelumnya 1) Gue merasa nyaman dan cantik-cantik aja tanpa make up *hih pede*, 2) Gue suka merasa risih kalo pake make up, terutama kalo eyeliner dan lipstik yang kadang bikin mata kerasa berat dan bibir kerasa dikapurin, dan 3) Gue mau meminimalisir penggunaan produk yang bisa ngerusak muka, karena sebelom pake make up gue kadang suka jerawatan dan males cuci muka *maap*,

Nah, buat yang punya pemikiran sama kayak gue di atas, well--kekhawatiran lo akan hilang seiring lo kenal make up. Kenapa?

1) "Gue merasa nyaman dan cantik-cantik aja tanpa make up"
Sejak kenal make up gue justru kurang pede kalo ke luar tanpa pake apa-apa, minimal pake lip balm berwarna biar bibir nggak kering. Bukannya mau ngajarin buat nggak mencintai wajah lo apa adanya, tapi ada kalanya lo memang perlu tampil cantik sedikit dengan make up, contohnya pas jalan sama temen-temen atau ke acara semi-formal. Yap, kalo temen-temen lo pada mulai make up juga, niscaya lo juga bakal tertarik sedikit demi sedikit kok. Pake make up juga bikin kita terlihat lebih bagus di foto, nggak kucel gitu. Buat gue yang bulu matanya pendek dan warna bibir naturalnya agak gelap ini, yang namanya eyeliner dan lipstik ngebantu banget. Alis gue pun, meski lumayan keliatan, tebelnya nggak merata dan perlu dibantu pensil alis (meski gue nggak selalu make).

2) "Gue suka merasa risih kalo pake make up, terutama kalo eyeliner dan lipstik yang kadang bikin mata kerasa berat dan bibir kerasa dikapurin"
Sejak kecil, kakak sepupu gue banyak yang nikah dan gue pasti selalu didandanin. Gara-gara ini, gue jadi males pake make up karena inget rasanya pake make up yang beraaat banget. Mau makan aja risih karena bibir berlipstik, apalagi kalo mata dikasih eyeliner cair dan bulu mata palsu yang suka bikin perih. Belom lagi ngapusnya, duh, pe er banget! Suatu ketika, kira-kira setaun lalu, keluarga gue mau bikin foto keluarga formal di studio foto. Didatengin lah satu orang make up artist (MUA) buat ngerias gue, nyokap, kakak gue, dan kakak ipar gue. Pas giliran gue, gue udah mewanti-wanti untuk make up natural aja. Dan ternyata.. Hasilnya bagus banget! Nggak menor dan nggak berat kayak pas make up di kawinan, padahal gue di-make up-in lengkap. Faktor MUA-nya juga sih, karena MUA kawinan yang ngeriasin gue waktu kecil biasanya udah ibu-ibu, sedangkan MUA yang ngerias gue pas foto itu masih agak muda, makanya ngerti kemauan gue. Gue yang tadinya benci banget sama eyeliner cair, sekarang malah suka banget make hahaha. Kayaknya sih seiring lo dewasa rasa risih lo lama-lama juga akan terkalahkan oleh rasa amazed lo dalam melihat gimana satu produk sukses bikin lo terlihat cantik, ya semacam kompromi gitu, gapapa berat dikit yang penting terlihat cantik (beauty is pain, yo). Kesimpulan gue: make up itu nggak berat, bikin risih, terlihat menor, ataupun bikin lo terlihat tua selama lo pinter-pinter milih dan makenya. Milih sih, terutama. Sejak itu, gue jadi rajin baca-baca review make up yang ringan di muka dan bagus buat pemula. Banyak kok beauty blogger lokal, apalagi rata-rata nyertain foto hasil jadinya di muka dia, jadi nggak usah bingung. Nanti gue juga bakal bikin review singkat soal make up yang gue pake sekarang, yang tentunya harganya rata-rata murah meriah karena budget mahasiswa hehehe.

3) "Gue mau meminimalisir penggunaan produk yang bisa ngerusak muka"
Sebenernya, pake nggak pake make up itu sama aja kalo lo pada dasarnya males bersiin muka. Gue buktinya. Sebelom pake make up, gue suka jerawatan, kadang sampe muncul satu yang gede banget dan ujungnya warna putih (HIIIIIH jorok lu ces). Tapi sejak mulai coba-coba pake make up, otomatis gue jadi suka bersiin muka (mau nggak mau, karena nggak mungkin dong lo tidur make up-an?) dan cuci muka. Hasilnya? Jerawat gue berkurang drastis. Muka gue juga ada yang bilang sih putihan. Itu baru gue lho, yang cuma modal make up remover, cleansing milk, toner, dan sabun muka. Belom lagi cewek-cewek cantik rajin dandan yang ngerawat muka pol-polan sampe rajin ke dokter kulit. Jadi intinya sih gitu; make up, in a way, justru bikin lo yang tadinya males ngerawat muka jadi rajin. Kalo emang nggak mau jerawatan, kuncinya sih cari make up dan pembersih yang tepat. Jangan pilih yang KW atau belom terdaftar di BPOM. Kalo pas dipake ternyata bikin iritasi atau langsung muncul pimple outbreak (bruntusan), ya, jangan dilanjutin. Balik ke poin 2, rajin-rajin aja nyari tau produk yang bagus atau minta saran temen/sodara/mama, mana yang kira-kira cocok di kulit lo.

..Begitulah.

Jujur aja, gue belom merasa butuh belajar full make up kayak yang suka ada di tutorial-tutorial YouTube. Beli base make up aja males (dan bingung sih sebenernya). Tapi menurut gue tertarik sama make up aja udah langkah besar banget bagi diri gue, hehe. Jadi saran gue, jangan buru-buru ngeklaim anti make up atau gimana. Cobain dulu aja, kalo ternyata emang cocok atau mulai merasa tertarik, jangan dilawan (lha kayak apaan aja). Kalo pun ternyata udah bertahun-tahun tetep merasa nggak suka, ya gapapa. Banyak kok, temen dan sodara gue yang usianya jauh lebih tua tapi tetep nggak suka make up. Asal inget aja: sebagai cewek, pasti bakal muncul yang namanya keadaan dimana kita dituntut untuk pake make up. Jadi nggak ada salahnya lho kalo belajar make up sedikit untuk dikerahkan pada waktu-waktu kayak gitu, atau minimal cari tau jenis-jenis make up dan gaya yang cocok di kita biar pas kita didandanin orang, kita nggak clueless-clueless amat dan berakhir dengan muka bete dan make up menor. Semoga berhasil!